Klan Maret menyerah pada hari kedua puluh tiga setelah serangan dimulai.
Aku mendengarnya dari Kureth yang mendengarnya dari seseorang di klan Theron yang berbatasan langsung dengan klan Maret di sisi tenggara benua. Berita itu datang bukan melalui sinyal resmi, tidak ada sinyal resmi yang masih cukup kuat untuk itu, tapi melalui cara lama: orang yang berjalan ke orang lain dan berkata dengan mulut kepada telinga.
Menyerah bukan kata yang tepat, sebenarnya. Menyerah mengandung makna pertempuran yang diakhiri. Yang dilakukan klan Maret lebih dekat ke ini: mereka menerima tawaran yang sudah beberapa kali diajukan manusia kepada semua klan, tawaran yang selama ini kami tolak bersama-sama tapi yang dengan putusnya jaringan resonansi satu per satu menjadi semakin sulit untuk ditolak bersama-sama karena bersama-sama sendiri sudah semakin sulit untuk dilakukan.
Tawaran itu sederhana: serahkan akses penuh ke wilayah klan, pindah ke zona yang sudah ditetapkan manusia, dan sebagai imbalannya kehidupan akan dilanjutkan. Tidak ada kekerasan lebih lanjut. Jaminan keamanan. Akses ke teknologi medis manusia untuk yang sakit. Makanan yang cukup. Tempat yang bisa disebut rumah meski bukan rumah yang dulu.
Klan Maret menerima karena pemimpin klan Maret sudah berusia tiga ratus delapan puluh siklus dan melihat apa yang terjadi pada Sethara dan menghitung dalam kepalanya berapa lama klannya bisa bertahan dengan cara yang ada sekarang, dan angka yang dihasilkan oleh perhitungan itu tidak menyisakan banyak pilihan yang masuk akal.
Aku tidak menyalahkan ia.
Aku juga tidak bisa mengatakan bahwa ia benar.
Dalam dua minggu berikutnya, empat klan lagi menerima tawaran itu. Klan Vusari di pesisir selatan, yang sudah kehilangan akses ke lautan karena instalasi manusia memblokir jalur turun ke pantai. Klan Reth di dataran barat, yang sebagian besar warganya sudah mengalami gangguan komunikasi bioelektrik yang cukup parah untuk membuat ritual harian menjadi mustahil. Dua klan kecil dari pegunungan tengah yang namanya aku tidak pernah hafal dengan baik karena mereka selalu menjadi bagian dari lanskap yang ada tanpa banyak bersinggungan dengan klan-klan besar, dan yang rupanya dalam keputusan mereka tidak banyak berbeda dari yang lebih besar.
Lima klan dalam dua minggu. Dari dua belas yang ada.
Setiap kali kabar tentang klan yang menyerah sampai ke permukiman kami, ada sesuatu yang berubah di antara orang-orang. Bukan kepanikan. Bukan putus asa. Sesuatu yang lebih sunyi dari keduanya dan oleh karena itu lebih berat: pengikisan bertahap dari keyakinan kolektif bahwa bertahan adalah pilihan yang bisa terus dipilih.
Aku merasakannya dalam percakapan. Dalam cara orang bertanya tentang apa yang terjadi pada klan yang sudah menyerah, apakah mereka baik-baik saja, apakah zona yang dijanjikan benar-benar seperti yang dijanjikan. Pertanyaan-pertanyaan yang masih mengandung penolakan tapi yang nadanya sudah mulai menyiapkan diri untuk kemungkinan bahwa jawabannya suatu hari nanti akan relevan secara personal.
Dewan berdiskusi setiap hari sekarang. Bukan lagi tentang strategi besar. Tentang hal-hal yang lebih kecil dan lebih mendesak: bagaimana mengelola pasokan makanan ketika jalur distribusi antarklan sudah tidak bisa diandalkan. Bagaimana merawat yang sakit ketika gangguan resonansi membuat beberapa metode penyembuhan tradisional tidak berfungsi. Bagaimana menjaga anak-anak yang sudah berbulan-bulan hidup dalam kondisi yang tidak pernah dirancang untuk anak-anak.
Omeral hadir di sesi-sesi itu dalam kapasitas yang semakin berkurang. Kadang hanya duduk dan mendengarkan. Kadang mengucapkan satu atau dua kalimat yang selalu tepat sasaran dan selalu menutup sebuah perdebatan yang berputar-putar. Kadang tidak berkata apa-apa dan kehadirannya sendiri sudah menjadi sesuatu.
Pada hari ketiga puluh satu, utusan manusia datang ke permukiman kami untuk pertama kalinya sejak pertemuan dengan Elara di awal-awal. Bukan Elara sendiri. Seseorang yang lebih muda, seseorang yang belum pernah kami lihat sebelumnya, yang datang dengan dua orang lain dan cara berbicara yang lebih langsung dari Elara, kurang berlapis, lebih seperti orang yang sudah tidak merasa perlu mengemas sesuatu dengan rapi karena sudah tahu bahwa pembungkusnya tidak lagi diperlukan.
Ia menyampaikan tawaran yang sama. Dengan kata-kata yang sedikit berbeda tapi substansi yang persis sama.
Dewan mendengarkan. Kureth yang menjawab karena Omeral memberi isyarat kecil kepadanya bahwa malam itu bukan malam yang bisa diisi oleh suaranya sendiri.
"Kami perlu waktu untuk berdiskusi," kata Kureth.
"Tentu," kata utusan itu. "Tapi perlu disampaikan bahwa tawaran ini memiliki tenggat waktu. Empat belas hari."
Empat belas hari. Bukan karena mereka tidak sabar. Karena empat belas hari adalah waktu yang cukup untuk membuat keputusan dan tidak cukup lama untuk membangun alternatif.
Utusan itu pergi dengan cara seseorang yang tidak terburu-buru karena sudah tahu bahwa waktu ada di pihaknya.
Kami duduk dalam diam yang panjang setelah pintu tertutup.
Malam itu Dewan berdiskusi sampai jauh lewat tengah malam.
Aku mencatat semua yang dikatakan. Bukan karena diminta, tidak ada yang memintaku mencatat diskusi internal Dewan, tapi karena aku sudah cukup lama menjadi Veth-Kara untuk tahu bahwa diskusi seperti ini adalah bagian dari sejarah yang perlu ada catatannya, bahwa kata-kata yang diucapkan oleh orang-orang dalam kondisi seperti ini mengandung sesuatu yang tidak bisa direkonstruksi kemudian hanya dari fakta dan tanggal.
Ada yang berkata: kita tidak bisa terus bertahan tanpa jaringan resonansi. Kita sudah kehilangan sebelas dari tiga belas titik. Yang tersisa tidak cukup untuk menopang cara hidup kita seperti yang kita kenal.
Ada yang berkata: cara hidup yang terpaksa berubah masih lebih baik dari cara hidup yang diserahkan. Kalau kita menerima tawaran ini kita menyerahkan bukan hanya tanah tapi keputusan tentang siapa kita.
Ada yang berkata: keputusan tentang siapa kita tidak ada gunanya kalau tidak ada kita yang tersisa untuk melaksanakannya. Klan Maret masih ada. Klan Vusari masih ada. Bertahan di bawah kendali orang lain masih lebih baik dari tidak bertahan sama sekali.
Ada yang berkata: kita belum sampai di titik tidak bertahan sama sekali.
Ada yang berkata: seberapa dekat kita perlu ke titik itu sebelum boleh mengakui bahwa kita sudah cukup dekat?
Dan tidak ada yang punya jawaban untuk pertanyaan terakhir itu karena tidak ada jawaban yang bisa memuaskan semua orang sekaligus, dan inilah yang paling melelahkan dari diskusi seperti ini: bukan bahwa semua orang salah, tapi bahwa semua orang punya bagian dari kebenaran yang tidak bisa didamaikan dengan bagian kebenaran orang lain.
Omeral berbicara sekali, dekat ujung malam.
"Saya sudah lima ratus siklus," katanya. Suaranya pelan tapi semua orang berhenti untuk mendengar. "Saya sudah melihat klan-klan bertahan dari hal-hal yang seharusnya menghancurkan mereka. Dan saya sudah melihat klan-klan hancur karena hal-hal yang seharusnya bisa mereka lewati. Yang membedakannya hampir tidak pernah kekuatan atau strategi. Yang membedakannya adalah apakah mereka masih tahu siapa mereka ketika hal itu selesai."