KOSMOS: BINTANG DI RENGGUT

Dio Septian
Chapter #16

Erevath Bertemu Komandan Elara

Permintaan pertemuan datang dari pihak manusia, bukan dari kami.

Ini yang perlu dicatat sejak awal karena penting untuk memahami apa yang terjadi sesudahnya: kami tidak meminta bertemu Elara. Elara yang meminta bertemu kami, melalui saluran yang masih berfungsi, dengan kata-kata yang terukur dan nada yang tidak mengandung urgensi padahal semua yang ada di belakangnya adalah urgensi.

Pesannya pendek: ia ingin berbicara langsung dengan perwakilan klan-klan yang masih menolak tawaran. Bukan untuk bernegosiasi, katanya. Untuk berdialog. Ia percaya ada hal-hal yang lebih mudah dipahami ketika diucapkan langsung daripada melalui perantara atau dokumen.

Dewan mendiskusikan permintaan ini selama dua hari.

Ada yang berkata: ini jebakan. Cara mengidentifikasi siapa yang masih memimpin perlawanan supaya bisa ditarget.

Ada yang berkata: kalau kita menolak setiap kesempatan untuk berbicara langsung, kita tidak pernah bisa mengklaim bahwa kita sudah mencoba semua yang bisa dicoba.

Ada yang berkata: apa yang masih bisa dibicarakan? Semua yang perlu dibicarakan sudah ada dalam perjanjian yang sudah mereka langgar, dalam keputusan-keputusan yang sudah mereka buat tanpa meminta persetujuan kami.

Aku mendengarkan semua suara itu. Kemudian aku berkata:

"Aku akan pergi."

Semua orang menatapku.

"Bukan sebagai perwakilan Dewan," kataku. "Sebagai Veth-Kara. Karena ada hal yang perlu aku lihat dari dekat dan tidak bisa kulihat dari jarak yang ada sekarang."

"Apa yang perlu kamu lihat?" tanya Kureth.

"Bagaimana cara seseorang menjelaskan kepada dirinya sendiri apa yang sudah ia lakukan. Itu sesuatu yang tidak bisa dipelajari dari laporan atau dokumen. Itu perlu dilihat langsung."

Omeral, dari sudutnya, berkata hanya dua kata: "Pergilah."

Pertemuan berlangsung di zona netral yang disepakati bersama: sebuah padang kecil di antara wilayah Theron dan tepi selatan kota manusia, cukup jauh dari keduanya untuk tidak bisa diklaim oleh siapapun sebagai miliknya. Aku pergi sendirian. Elara datang dengan dua orang di belakangnya yang berdiri cukup jauh untuk tidak ikut percakapan tapi cukup dekat untuk ada.

Ia terlihat sama seperti yang kuingat dari pertemuan-pertemuan sebelumnya. Bukan berubah seperti orang yang menanggung sesuatu, tidak ada tanda lelah di wajahnya atau cara berjalannya. Ini yang selalu menjadi sesuatu yang sulit dirasakan ketika berhadapan dengannya: bahwa ia tampak baik-baik saja. Bahwa semua yang sudah terjadi tampaknya tidak memerlukan tenaga darinya yang sama besarnya dengan yang diambilnya dari kami.

Kami duduk di dua batu yang jaraknya bisa dijangkau dengan satu langkah. Jarak yang cukup dekat untuk bicara tanpa berteriak tapi cukup jauh untuk tidak perlu berbagi ruang yang sama.

"Erevath," katanya. Bahasa Ganemainya sudah sempurna sekarang. Ini yang tidak pernah berhenti membuatku tidak nyaman: seseorang yang bisa berbicara dalam bahasamu dengan fasih tapi yang pikirannya bekerja dalam kerangka yang tidak ada padanannya dalam bahasamu.

"Elara," kataku.

Ia menatapku. Matanya yang dua, menghadap ke depan seperti mata predator, tidak berkedip lebih sering dari yang perlu. Ada sesuatu dalam cara ia menatap yang sudah lama aku coba namakan dan tidak berhasil: bukan dingin, karena dingin adalah absennya kehangatan. Ini sesuatu yang berbeda. Kehangatan yang ada tapi yang tidak diarahkan ke tempatnya, kehangatan yang digunakan untuk sesuatu selain yang semestinya.

"Terima kasih sudah mau bertemu," katanya.

"Aku di sini untuk mendengar apa yang ingin kamu katakan," kataku. "Bukan untuk menegosiasikan apapun."

"Aku mengerti itu." Ia mengangguk, satu kali, dengan cara seseorang yang menerima syarat tanpa menganggapnya sebagai hambatan. "Aku ingin bertanya sesuatu dulu. Boleh?"

"Tanya."

"Kamu sudah berapa lama menjadi Veth-Kara?"

Pertanyaan yang tidak aku antisipasi. "Hampir dua ratus siklus."

"Dua ratus." Ia mengulang angka itu dengan cara seseorang yang menimbangnya. "Berarti kamu sudah menyaksikan banyak hal yang berubah di planet ini. Banyak hal yang datang dan pergi."

"Ya."

"Dan kamu yang mencatatnya semua."

"Ya."

Ia menatapku sebentar. "Aku menghormati itu," katanya. Dan ini yang paling membingungkan dari Elara: bahwa ketika ia berkata sesuatu seperti itu, ia terdengar tulus. Bukan strategi, bukan basa-basi. Tulus, dengan cara seseorang yang benar-benar menghargai sesuatu sambil tidak membiarkan penghargaan itu mengubah apapun tentang apa yang ia lakukan.

"Aku tidak di sini untuk menerima penghormatan," kataku.

"Tidak. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak meremehkan apa yang kamu dan klan-klanmu lakukan di sini." Ia meletakkan tangannya di lututnya. "Perlawanan yang kamu tunjukkan. Cara kamu bersatu dengan Sethari. Relai yang kamu bangun. Itu tidak mudah dan tidak pernah kami asumsikan mudah."

"Tapi tidak cukup," kataku.

Ia tidak langsung menjawab. "Tidak cukup untuk mengubah arahnya, tidak," katanya akhirnya. "Tapi cukup untuk membuktikan sesuatu tentang kalian yang tidak perlu dibuktikan bagi kami tapi yang mungkin penting bagi kalian sendiri."

"Apa yang sudah kami buktikan?"

"Bahwa kalian di sini. Bahwa kalian memilih." Ia menatapku. "Itu bukan hal kecil. Dalam semua yang sudah kami lakukan di tempat-tempat lain, tidak banyak yang memilih dengan cara yang kalian pilih."

Aku duduk dengan kata-katanya beberapa saat sebelum menjawab. Ada bagian dari diriku yang ingin menolak semua yang ia katakan karena penghormatan dari seseorang yang sedang mengambil planetmu terasa seperti penghinaan yang berpakaian penghargaan. Tapi ada bagian lain yang tahu bahwa menolak sesuatu bukan cara untuk memahaminya.

"Elara," kataku. "Aku ingin bertanya sesuatu."

"Silakan."

"Bagaimana cara kamu menjelaskan kepada dirimu sendiri apa yang sedang kamu lakukan di sini?"

Ia tidak terkejut oleh pertanyaan itu. Tidak ada perubahan di wajahnya, tidak ada jeda yang menunjukkan bahwa ia tidak siap. Yang membuat pertanyaan itu terasa seperti pertanyaan yang sudah ia jawab untuk dirinya sendiri berkali-kali dan yang jawabannya sudah sangat siap.

"Dengan jujur?" katanya.

Lihat selengkapnya