Voreth yang mengusulkan kembali ke Aerum.
Bukan sebagai tempat berlindung, bukan sebagai strategi pertahanan. Sebagai pernyataan. Cara mengatakan bahwa ada tempat-tempat yang tidak bisa sepenuhnya diambil dari seseorang hanya dengan mengambil strukturnya, tempat yang sudah meresap ke dalam cara seseorang memahami dirinya sendiri sehingga kehadirannya di sana bukan tentang kepemilikan fisik tapi tentang sesuatu yang lebih dalam dari itu.
"Kalau ini adalah akhir dari perlawanan yang bisa kami lakukan," katanya kepada Dewan, "maka akhir itu seharusnya terjadi di tempat yang bermakna. Bukan di wilayah klan lain yang kami pinjam. Di tanah kami sendiri."
Dewan berdiskusi. Singkat. Karena di titik ini dalam perjalanan yang sudah sangat panjang, tidak banyak yang perlu didebatkan tentang tempat di mana seseorang memilih untuk berdiri.
"Kita kembali ke Aerum," kata Kureth.
Dan kembali kami lakukan, dalam malam yang tidak berbeda dari malam pertama kami meninggalkannya kecuali bahwa kali ini kami berjalan ke arah yang sebaliknya dan membawa lebih banyak dari yang bisa dibawa dengan cara yang benar.
Padang Aerum sudah berbeda dari yang kami tinggalkan.
Sebagian dari kristal-kristalnya sudah tidak ada, diangkut dalam proses ekstraksi yang berlanjut meski pengeboran utama sudah pindah ke titik-titik lain. Yang tersisa berdiri dalam pola yang tidak lengkap, seperti kalimat yang kehilangan beberapa katanya tapi masih bisa dibaca kalau kamu sudah tahu apa yang seharusnya ada di sana.
Tanah di sekitar padang lebih padat dari dulu, dipadatkan oleh kendaraan-kendaraan berat yang melintas selama berbulan-bulan. Di sisi utara ada bekas-bekas yang tidak langsung bisa diidentifikasi tapi yang kalau kamu sudah lama mengenal tanah ini terasa seperti luka yang sudah mulai membentuk jaringan parut tanpa sempat sembuh terlebih dahulu.
Tapi kristal-kristal yang tersisa masih berdengung.
Pelan. Tidak sempurna. Dengan frekuensi yang tidak lagi murni karena terlalu banyak interferensi dari semua yang sudah terjadi di sekitarnya. Tapi masih berdengung. Masih ada. Masih memilih untuk memancarkan resonansi meski tidak ada yang memintanya dan tidak ada yang membutuhkannya untuk alasan praktis manapun.
Aku berdiri di tepi padang dan mendengarkan dengung itu dan merasakan sesuatu yang tidak bisa aku beri nama dengan tepat, sesuatu yang tidak cukup besar untuk disebut penghiburan tapi yang terasa seperti pengingat bahwa ada sesuatu yang tidak bergantung pada persetujuan kondisi untuk memilih tetap ada.
Di belakangku, orang-orang yang kembali bersama mulai mendirikan tenda dan mengatur tempat. Suara-suara yang familiar dari cara manusia, atau dalam hal ini Ganemai, mempersiapkan diri untuk bermalam di tempat yang tidak selengkap rumah tapi yang harus cukup.
Omeral dibawa ke tempat yang paling terlindung dari angin. Ia tidak mengeluh meski aku tahu kondisinya sudah cukup buruk untuk membuatnya perlu waktu lama setelah perjalanan sebelum bisa duduk tegak lagi.
Voreth mengatur semuanya dengan efisiensi yang sudah menjadi karakternya tanpa pernah ia rencanakan, cara seseorang yang belajar kepemimpinan bukan dari buku atau instruksi tapi dari kebutuhan dan waktu dan banyak kesalahan yang sudah diakui.
Pada hari ketiga di Aerum, Yenna mendeteksi pergerakan.
Bukan pergerakan manusia biasa. Formasi yang berbeda, cara wahana-wahana bergerak di orbit yang berubah dari pola rutin ke pola yang lebih terarah. Ia mengenalinya dari catatan-catatannya tentang cara mereka beroperasi, catatan yang sudah ia pelajari ulang sejak kembali sampai ia hafal pola-polanya seperti menghafal lagu yang tidak ingin dihafal tapi yang sudah terlalu sering didengar.
"Mereka bergerak ke Aerum," katanya. Tidak dramatis. Faktual, seperti semua hal yang Yenna sampaikan ketika sesuatu penting.
"Kapan?"
"Dua hari. Mungkin kurang kalau mereka mempercepat."
Aku menemukan Voreth di tepi padang, di tempat yang sama di mana kristal-kristal yang tersisa masih berdengung. Ia sedang duduk di sana sendirian, bukan meditasi, lebih seperti seseorang yang butuh beberapa menit dengan tanah sebelum menghadapi apa yang berikutnya.
"Dua hari," kataku.
Ia mengangguk. Tidak terkejut. "Yenna sudah memberitahuku tadi."
"Apa yang ingin kamu lakukan?"
Ia menatap kristal-kristal di depannya. Beberapa berpendar dengan cahaya kemerahan yang sangat samar, tanda bahwa mereka masih menyimpan sesuatu meski sudah jauh berkurang dari dulu. Ia mengulurkan tangannya dan menyentuh salah satunya dengan ujung jarinya, cara menyentuh sesuatu yang kamu tahu tidak akan bisa kamu sentuh selamanya.
"Aku ingin bertarung," katanya pelan. "Bukan untuk menang. Aku sudah tahu kita tidak akan menang dengan cara itu. Tapi untuk mengatakan bahwa kita ada. Bahwa tanah ini pernah dijaga oleh yang mencintainya." Ia menarik tangannya. "Apakah itu bodoh?"
"Tidak," kataku. "Tapi itu berbahaya."
"Saya tahu."
"Dan orang yang bersamamu juga dalam bahaya itu."
"Saya tahu itu juga." Ia menatapku. "Tapi mereka memilih untuk ada di sini. Kita semua memilih."
Aku menatapnya lama. Wajah yang sudah aku kenal sejak remaja, wajah yang sudah berubah sangat banyak dan yang di dalam semua perubahannya masih menyimpan sesuatu dari anak empat puluh siklus yang dulu duduk di padang ini dengan lutut di dadanya dan belum tahu cara membawa kesedihan.
"Baik," kataku. "Kita bertarung."
Dua hari itu kami isi dengan cara yang mungkin terlihat tidak masuk akal dari luar tapi yang dari dalam terasa seperti satu-satunya cara yang benar untuk mengisinya.
Kami melakukan Veth-Raa.
Atau versi dari Veth-Raa yang masih bisa dilakukan dengan jaringan resonansi yang sudah sangat rusak, dengan kristal yang tersisa hanya sebagian, dengan tubuh-tubuh yang sebagian komunikasi bioelektriknya sudah tidak berfungsi penuh. Bukan Veth-Raa yang utuh. Tapi sesuatu yang tumbuh dari tempat yang sama, dari niat yang sama, dari cara yang paling tua yang kami kenal untuk mengatakan bahwa kami ada bersama.
Kami duduk di padang pada malam pertama, di antara kristal-kristal yang masih berdengung, dalam formasi yang sudah ada jauh sebelum ada yang bisa mengingat kapan pertama kali dilakukan. Dan kami diam. Dan dalam diam itu ada sesuatu yang tidak bisa aku deskripsikan dengan kata-kata yang sudah ada, sesuatu yang terasa seperti semua orang yang pernah melakukan ini di tempat ini sebelum kami hadir juga di sana dengan cara yang tidak fisik tapi yang nyata dengan cara yang berbeda dari fisik.
Omeral ada di sana. Dibawa keluar dari tendanya dan didudukkan di antara kami, dengan selimut di bahunya dan matanya yang masih hadir meski tubuhnya sudah tidak sekuat dulu. Ia tidak berkata apa-apa selama ritual itu. Tapi aku merasakan resonansinya yang samar bergabung dengan yang lain, tipis seperti benang tapi masih ada, masih memilih untuk ada.