KOSMOS: BINTANG DI RENGGUT

Dio Septian
Chapter #19

Zona Konservasi

Nama resminya adalah Zona Konservasi Budaya Ganemai Sektor Benua Utara, Divisi Ketiga.

Kami menyebutnya zona. Cukup satu kata. Karena satu kata lebih jujur dari enam, dan kejujuran dalam penamaan adalah satu-satunya bentuk perlawanan kecil yang tersisa yang tidak ada yang bisa mengambilnya dari kami.

Zona itu mencakup satu benua, benua yang dulu kami sebut rumah sebelum kata rumah kehilangan keakuratannya. Benua yang sama, dengan batas-batas yang sama secara geografis, tapi yang sekarang punya lapisan baru di atasnya: batas-batas yang tidak terlihat tapi yang nyata, cara masuk dan cara keluar yang memerlukan izin dari seseorang yang bukan dari klan manapun yang pernah kami kenal, aturan-aturan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di dalam batas-batas itu yang sebagian masuk akal dan sebagian tidak tapi yang semuanya ada di luar kewenangan kami untuk diubah.

Negosiasi berlangsung enam minggu. Aku hadir di semua sesinya, bukan sebagai negosiator tapi sebagai pencatat, yang adalah cara paling jujur untuk mendeskripsikan apa yang kulakukan di sana: duduk, mencatat, dan sesekali mengingatkan Kureth ketika sesuatu yang akan ia setujui mengandung kata atau frasa yang sudah pernah kami lihat digunakan dengan cara yang tidak kami inginkan.

Kondisi yang disepakati lebih baik dari yang diterima klan-klan pertama. Ini yang bisa aku katakan dengan jujur. Wilayah yang lebih luas di dalam zona. Jaminan bahwa ritual yang tidak mengganggu operasi mereka boleh dilanjutkan. Akses ke teknologi medis tanpa biaya. Sekolah untuk anak-anak, meski kurikulum sekolah itu adalah sesuatu yang kami tidak bisa sepenuhnya mengontrol dan yang aku sudah tahu akan menjadi masalah di kemudian hari.

Dan ini yang paling penting yang berhasil kami masukkan: semua kesepakatan tertulis dalam bahasa Ganemai, bukan hanya bahasa mereka, dengan terjemahan yang disertifikasi oleh dua penerjemah dari pihak kami.

Itu yang bisa kami lakukan. Dan itu sudah harus cukup.

Perpindahan ke zona berlangsung selama dua bulan.

Bukan dua bulan yang berturut-turut atau terencana dengan rapi. Dua bulan yang penuh dengan persiapan dan penundaan dan perubahan rencana dan momen-momen di mana sesuatu yang sudah direncanakan ternyata tidak berjalan seperti yang direncanakan karena rencana dibuat oleh pikiran yang belum sepenuhnya bisa membayangkan betapa berbedanya kenyataan dari gambar yang ada di dalam kepala.

Aku berjalan ke zona untuk terakhir kalinya dalam kapasitas sebagai seseorang yang masih bisa memilih kapan masuk dan kapan keluar pada hari terakhir bulan kedua. Setelah hari itu, masuk dan keluar memerlukan sesuatu yang tidak pernah kami perlukan sebelumnya: izin.

Voreth berjalan di sebelahku pada hari itu. Kami tidak banyak bicara selama perjalanan. Tapi di satu titik, ketika kami melewati perbukitan yang dari sana kota manusia terlihat di kejauhan, ia berhenti sebentar dan menatap ke arah itu.

Kota yang sudah berubah sangat banyak dari titik pertama yang kami lihat di langit malam itu di padang Aerum. Bukan kota kecil lagi. Sesuatu yang sudah punya ukuran dan substansinya sendiri, yang sudah berakar di tanah ini dengan cara yang tidak akan mudah dicabut meski seseorang ingin mencabutnya.

"Permanen," kata Voreth pelan. Mengucapkan kata yang kami berdua sudah tahu tapi yang belum pernah kami ucapkan tentang hal ini.

"Ya," kataku.

Ia menatap kota itu beberapa detik lagi. Kemudian berbalik dan melanjutkan berjalan.

Aku mengikutinya.

Kehidupan di dalam zona berbeda dari kehidupan di luar zona dalam cara-cara yang mudah didaftar dan dalam cara-cara yang tidak bisa didaftar karena tidak punya nama yang tepat.

Yang mudah didaftar: area yang bisa diakses lebih terbatas. Keputusan tentang penggunaan lahan bukan lagi sepenuhnya milik kami. Ada jadwal dan aturan yang datang dari luar. Ada orang-orang asing yang bekerja di dekat wilayah kami yang kehadirannya tidak bisa kami putuskan tapi yang dampaknya terhadap tanah dan udara dan frekuensi di sekitar kami sudah kami alami dan sudah kami tahu.

Yang tidak bisa di daftar: cara orang-orang bergerak di dalam zona. Cara mereka berbicara kepada satu sama lain. Cara mereka menatap ke luar batas zona ketika mereka tahu ada seseorang dari pihak manusia yang melintas di dekat sana. Cara beberapa dari mereka mulai menyesuaikan cara berbicara mereka, cara bergaulnya, cara menyampaikan sesuatu, dengan cara yang terasa seperti penyesuaian yang perlu dilakukan dalam kondisi yang ada tapi yang dari luar juga terasa seperti sesuatu yang perlahan-lahan bergeser dari tempatnya.

Aku mencatat semua ini. Bukan dengan penilaian. Hanya mencatat.

Karena Veth-Kara tugasnya mencatat, dan aku masih Veth-Kara meski tidak ada lagi Dewan resmi yang menunjukku dan tidak ada lagi ritual Veth-Raa yang bisa dilakukan dengan cara yang sepenuhnya benar.

Wisatawan pertama datang tiga bulan setelah kami masuk ke zona. Aku menulisnya sebagai wisatawan karena itulah kata yang mereka gunakan untuk diri mereka sendiri. Manusia yang datang dari tempat lain, bukan dari kota di utara tapi dari lebih jauh lagi, yang membayar sesuatu kepada pengelola zona untuk diizinkan masuk dan melihat.

Melihat kami.

Ini yang paling sulit kutulis tanpa membiarkan sesuatu yang tidak seharusnya ada dalam catatan ikut masuk ke dalamnya. Aku berusaha keras untuk mencatat ini hanya sebagai fakta: ada manusia yang datang untuk melihat Ganemai. Ada yang membawa alat pencatat gambar. Ada yang berbisik kepada satu sama lain dalam bahasa mereka dan sesekali menunjuk. Ada yang tampak sungguh-sungguh terpesona, ada yang tampak seperti sedang mencentang sesuatu dari daftar hal yang ingin mereka lihat dalam perjalanan mereka.

Tidak ada dari mereka yang jahat dalam arti yang sederhana. Tidak ada yang mencoba menyakiti siapapun. Beberapa bahkan terlihat tulus dalam rasa ingin tahu mereka, tulus dalam cara mereka ingin memahami makhluk yang hidup di depan mata mereka.

Tapi ada sesuatu dalam pengalaman menjadi yang dilihat yang tidak bisa dijelaskan dengan baik kepada seseorang yang tidak pernah mengalaminya. Cara tubuh merespons dengan cara yang tidak nyaman ketika seseorang menatapmu dengan cara yang mengatakan bahwa kamu adalah objek yang menarik bukan subjek yang punya kehidupan di luar momen ketika mereka melihatmu.

Aku berdiri di tepi kerumunan kecil wisatawan itu dan menatap Voreth yang sedang berdiri di dekat beberapa kristal yang masih hidup, dan melihat dari cara Voreth berdiri bahwa ia sadar dilihat dan sedang memutuskan apa yang perlu dilakukan dengan kesadaran itu.

Ia memilih untuk terus melakukan apa yang sedang ia lakukan. Menyentuh kristal dengan cara yang sudah ia lakukan selama hidupnya, dengan cara yang tidak berubah karena ada yang menonton.

Ini pilihan yang kecil. Dan ini pilihan yang tidak kecil sama sekali.

Ada seorang anak perempuan di antara wisatawan itu. Berusia mungkin delapan atau sembilan tahun dalam hitungan manusia. Ia tidak menunjuk seperti beberapa yang lain. Ia hanya menatap Voreth dengan cara yang hanya dimiliki anak-anak: langsung, tanpa filter, dengan keingintahuan yang murni yang belum belajar cara menyamarkan dirinya sebagai sesuatu yang lain.

Lihat selengkapnya