KOSMOS: BINTANG DI RENGGUT

Dio Septian
Chapter #20

Penghapusan Budaya

Sekolah pertama di zona dibuka dua tahun setelah kami masuk.

Bangunannya bersih dan terang, dengan jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya Verath-Sol masuk dengan cara yang menyenangkan secara estetika dan yang aku yakin dipilih bukan tanpa perhitungan tentang bagaimana ruang yang menyenangkan membuat seseorang lebih mudah menerima apa yang diajarkan di dalamnya. Di depannya ada taman kecil dengan tanaman-tanaman yang aku kenali dan beberapa yang tidak, campuran antara yang tumbuh dari tanah ini dan yang dibawa dari tempat lain.

Anak-anak masuk pada hari pertama dengan ekspresi yang beragam: ada yang penasaran, ada yang takut, ada yang sudah terbiasa dengan perubahan dan yang menerima ini sebagai perubahan berikutnya dalam seri perubahan yang tidak pernah mereka pilih tapi yang sudah menjadi udara yang mereka hirup.

Kurikulum sudah kami pelajari selama berbulan-bulan sebelum sekolah dibuka. Kami bernegosiasi tentang kontennya, dan hasilnya adalah kompromi yang tidak memuaskan siapapun sepenuhnya, cara semua kompromi bekerja. Ada pelajaran bahasa Ganemai, ada pelajaran sejarah Ganemai, ada pelajaran tentang cara kristal bekerja dan tentang praktik ritual yang diizinkan.

Tapi bahasa pengantarnya adalah bahasa manusia.

Dan sejarah yang diajarkan mulai dari titik tertentu, titik yang datang setelah kedatangan mereka, dengan cara yang membuat apa yang sebelum titik itu terasa seperti pendahuluan dari sesuatu yang lebih penting.

Dan praktik ritual yang diajarkan adalah versi yang sudah disederhanakan, yang bisa dilakukan tanpa jaringan resonansi yang sudah tidak ada, yang kehilangan dalam penyederhanaan itu sesuatu yang tidak bisa diberi nama tapi yang absennya bisa dirasakan oleh siapapun yang pernah melakukan yang aslinya.

Aku hadir di hari pertama sekolah itu buka. Berdiri di luar dan menonton anak-anak masuk. Mencatat.

Yang pertama aku perhatikan datang dalam bulan ketiga setelah sekolah berjalan.

Ada anak berusia sekitar tiga puluh siklus, usia yang setara sekitar lima tahun manusia, yang sudah mulai berbicara dalam bahasa campuran tanpa sadar. Bukan karena ia memilih, bukan karena ada yang memerintahnya. Tapi karena ketika kamu menghabiskan sebagian besar harimu di lingkungan yang menggunakan satu bahasa, bahasa itu mulai masuk ke dalam cara kamu berpikir, dan ketika cara kamu berpikir berubah, cara kamu berbicara mengikuti.

Ini bukan hal yang mengejutkan secara intelektual. Aku sudah tahu ini akan terjadi. Yang tidak bisa disiapkan oleh pengetahuan intelektual adalah cara rasanya ketika terjadi: ketika kamu mendengar seorang anak menggunakan kata dari bahasa mereka untuk sebuah konsep yang ada kata yang tepat dalam bahasa kami, kata yang lebih kaya dari terjemahan apapun, kata yang sudah ada dalam bahasa kami jauh sebelum ada yang memerlukan kata untuk konsep itu.

Anak itu tidak tahu bahwa katanya kurang tepat. Bagi ia, kata itu tepat karena kata itulah yang ia kenal.

Ini yang paling menyedihkan: bukan ketika anak itu salah dan tahu bahwa ia salah. Tapi ketika ia tidak salah dalam konteks yang sudah ia tinggali, dan konteks itulah yang berubah.

Ritual Veth-Raa dilarang pada tahun ketiga.

Bukan secara eksplisit pada awalnya. Tidak ada pengumuman, tidak ada dokumen resmi yang berkata ritual ini dilarang. Yang ada adalah serangkaian aturan yang masing-masing sendiri tampak masuk akal: tidak boleh menggunakan alat frekuensi di atas ambang tertentu karena mengganggu komunikasi zona. Tidak boleh berkumpul lebih dari lima puluh orang di satu titik tanpa izin sebelumnya. Tidak boleh menggunakan padang kristal untuk kegiatan yang tidak terdaftar dalam jadwal yang sudah disepakati.

Masing-masing aturan itu sendiri tidak secara langsung melarang Veth-Raa. Tapi ketika dijalankan bersama, Veth-Raa menjadi tidak mungkin secara praktis. Perlu lebih dari lima puluh orang. Perlu alat frekuensi di atas ambang yang ditetapkan. Perlu padang kristal yang akses dan jadwalnya sekarang dikontrol.

Kureth mengajukan keberatan resmi. Proses yang panjang yang menghasilkan pertemuan yang panjang yang menghasilkan dokumen yang panjang yang pada akhirnya menyatakan bahwa pihak manusia memahami kekhawatiran kami dan akan meninjau kembali aturan-aturan tersebut dalam siklus evaluasi berikutnya yang dijadwalkan delapan belas bulan kemudian.

Delapan belas bulan kemudian, aturan-aturan itu masih ada dengan modifikasi kecil yang tidak mengubah substansinya.

Kami tetap melakukan Veth-Raa, dalam bentuk yang lebih kecil dan lebih tersembunyi, di tempat-tempat yang tidak mudah diawasi, dengan cara yang sudah jauh dari cara aslinya karena cara aslinya memerlukan sesuatu yang sudah tidak kami miliki. Melakukannya tetap terasa seperti sesuatu yang penting dilakukan. Tapi cara rasanya berbeda dari cara ia terasa dulu, dan perbedaan itu sendiri adalah sesuatu yang perlu dicatat.

Pada tahun keempat, aku mulai mengajar secara tersembunyi. Bukan dengan cara yang dramatis, tidak ada sekolah rahasia dengan penjaga di pintu. Lebih seperti ini: ketika aku berada di dekat anak-anak, aku berbicara dalam bahasa Ganemai. Ketika mereka menggunakan kata dari bahasa manusia untuk sesuatu yang ada kata lebih baiknya dalam bahasa kami, aku menawarkan kata itu tanpa memaksa. Ketika ada yang bertanya tentang sesuatu yang tidak diajarkan di sekolah, aku menjawab.

Dan yang lebih penting: aku membacakan jurnal.

Bukan seluruh jurnal. Bagian-bagian yang dipilih dengan hati-hati, bagian-bagian yang menceritakan orang-orang dan tempat-tempat dan cara-cara yang perlu ada dalam ingatan generasi yang tidak mengalaminya langsung. Aku membacakannya kepada siapapun yang mau mendengarkan, dan ada yang mau mendengarkan, lebih banyak dari yang kukira karena ada sesuatu dalam cerita tentang orang-orang nyata yang melakukan hal-hal nyata yang selalu bisa menembus bahkan dalam kondisi yang tidak mendukungnya.

Voreth selalu hadir ketika aku membaca. Ia duduk di tepi kelompok kecil itu, tidak berbicara, hanya mendengarkan dengan cara seseorang yang sudah mengetahui ceritanya tapi yang masih menemukan sesuatu dalam mendengarkannya lagi, sesuatu yang berbeda dari sebelumnya karena ia sendiri sudah berbeda dari sebelumnya.

Suatu malam, setelah sesi membaca selesai dan anak-anak sudah pergi, ia berkata kepadaku:

"Mereka mendengarkan dengan cara yang berbeda dari cara aku mendengarkan."

"Cara bagaimana?"

"Seperti seseorang yang mendengar cerita tentang tempat yang belum pernah ia kunjungi. Bukan seperti seseorang yang mengenali tempat yang sudah ia tahu."

Aku menatapnya. "Ya."

"Itu menyedihkan."

"Ya. Tapi mereka masih mendengarkan. Dan itu bukan hal kecil."

Ia mengangguk. "Tidak. Bukan hal kecil."

Lihat selengkapnya