KOSMOS: BINTANG DI RENGGUT

Dio Septian
Chapter #21

Resonansi Terakhir

Ini malam ke-3.847 dari hidupku.

Aku menghitungnya tadi. Bukan karena angkanya penting, tapi karena aku selalu menghitung sejak lama dan kebiasaan itu tidak berubah meski banyak hal lain sudah berubah. Tiga ribu delapan ratus empat puluh tujuh malam. Dari malam pertama yang aku ingat sebagai anak kecil di bawah langit Aerum yang ungu tua, hingga malam ini di zona yang sudah menjadi satu-satunya tempat yang aku kenal sebagai tempat tinggal meski tidak pernah sepenuhnya terasa seperti rumah.

Aku sudah sangat tua sekarang. Ini fakta yang aku nyatakan bukan sebagai keluhan tapi sebagai konteks. Tiga ratus sembilan puluh empat siklus. Tubuhku masih berfungsi tapi sudah sangat berbeda dari yang dulu, lebih lambat dalam semua cara, lebih memerlukan waktu untuk hal-hal yang dulu dilakukan tanpa memikirkannya. Mataku yang keempat, yang merespons panas dan kehadiran, sudah tidak setajam dulu. Kemampuan bioelektrikku, yang sudah perlahan melemah sejak bertahun-tahun, sekarang hanya bisa menjangkau jarak yang sangat dekat.

Tapi jurnalku masih penuh. Dan penaku masih bergerak.

Malam ini aku duduk di padang kristal timur zona, tempat yang sudah menjadi tempat kembali selama bertahun-tahun, di antara kristal-kristal yang masih berdengung meski jauh lebih pelan dari yang pernah ada di padang Aerum dulu. Langit di atas jernih, semua bintang yang sudah aku kenal sejak sebelum bisa berjalan ada di tempatnya masing-masing.

Dan di antara mereka, titik-titik yang sudah menjadi bagian dari lanskap langit ini seperti bintang-bintang itu sendiri. Sudah ada terlalu lama untuk terasa asing.

Tapi bintang-bintangnya masih sama.

Voreth sudah tidak ada sejak dua tahun lalu. Ini yang paling berat kutulis dalam seluruh jurnal ini, dan aku sudah menulis hal-hal yang sangat berat. Tapi kehilangan Voreth berbeda dari kehilangan yang lain bukan karena lebih besar dari yang lain, bukan karena ia lebih penting dari Omeral atau Orath atau Sevel atau semua yang lain yang namanya sudah ada di halaman-halaman sebelumnya. Berbeda karena ia ada dalam hampir setiap malam dari tujuh belas tahun terakhir di zona ini, karena ia adalah seseorang yang kehadirannya sudah menjadi bagian dari cara aku memahami hari yang sudah berlalu dan hari yang akan datang.

Ia meninggal dengan cara yang ia sendiri mungkin sudah pilih kalau ada yang bertanya: tidak di tempat tidur, tidak di dalam ruangan. Di luar, di dekat pohon yang bukan Veth-Ora tapi yang sudah menjadi Veth-Ora bagi kami, di pagi hari ketika langit mulai berubah dari hitam ke ungu tua.

Anak yang belajar nama bintang yang menemukannya. Anak itu sudah dewasa sekarang, sudah punya kehidupannya sendiri, sudah punya cara berpikirnya sendiri yang campuran dari banyak hal yang tidak selalu mudah untuk diidentifikasi asalnya. Tapi ia yang menemukan Voreth, dan ia yang berlari mencari aku, dan cara ia menyebut namaku di pagi itu sudah memberitahuku sebelum ia selesai berbicara.

Aku pergi ke sana. Aku duduk di sebelah Voreth sampai yang lain datang.

Aku tidak menulis tentang itu malam itu. Ada hal-hal yang perlu waktu sebelum bisa dituliskan, dan ini adalah salah satunya.

Aku menulisnya sekarang, dua tahun kemudian, karena ini perlu ada dalam catatan dan karena aku sudah cukup lama membawa ini untuk bisa mengeluarkannya dengan tangan yang tidak gemetar.

Yang terjadi pada generasi setelah kami sudah aku ketahui akan terjadi dan yang tetap menyakitkan meski sudah diketahui.

Anak-anak yang sekolah di sekolah manusia, yang besar dalam bahasa yang bukan bahasa kami sebagai bahasa utama, yang mempelajari sejarah yang dimulai dari titik yang menguntungkan pihak yang menulisnya, sudah mulai menjadi orang dewasa yang membawa cara berpikir yang berbeda dari cara berpikir kami.

Ini bukan tuduhan. Ini bukan kesalahan mereka. Mereka tumbuh di dalam apa yang ada, seperti semua orang tumbuh di dalam apa yang ada, dan apa yang ada membentuk cara mereka melihat dunia seperti air membentuk batu bukan dengan kekuatan tapi dengan waktu dan kehadiran yang terus-menerus.

Ada anak-anak yang masih datang kepadaku untuk mendengar cerita. Ada yang bertanya tentang nama-nama bintang, tentang cara Veth-Raa seharusnya dilakukan, tentang seperti apa padang Aerum sebelum kristal-kristalnya diambil. Ada yang mendengarkan dengan cara yang memberitahuku bahwa kata-kata yang masuk akan disimpan dan tidak dibuang.

Tapi ada juga yang tidak datang. Yang tidak tahu bahwa ada sesuatu yang perlu ditanyakan. Yang hidup dalam apa yang ada dengan cara yang tidak menyisakan ruang untuk mempertanyakan apakah yang ada adalah semua yang pernah ada.

Dan ini yang paling menyakitkan bukan tentang mereka yang tidak datang. Tapi tentang tidak tahu berapa banyak yang tidak datang karena tidak ada yang memberitahu mereka bahwa ada yang bisa datang kepadanya.

Aku sudah sangat tua. Ada batas pada jangkauan yang bisa dimiliki oleh satu orang.

Malam ini aku membawa jurnalku ke padang kristal timur karena ada sesuatu yang ingin aku lakukan yang sudah lama belum dilakukan.

Aku ingin mencoba Veth-Raa.

Bukan Veth-Raa yang sesungguhnya, aku tahu itu tidak mungkin lagi. Jaringan resonansi tidak ada. Tidak ada cukup orang yang bisa berkumpul dengan cara yang benar. Kemampuan bioelektrikku sendiri sudah terlalu melemah untuk membentuk koneksi yang kuat.

Tapi mungkin ada versi yang paling kecil dari Veth-Raa yang masih bisa dilakukan oleh satu orang. Usaha yang tidak sempurna yang lebih jujur dari tidak berusaha sama sekali.

Aku duduk di antara kristal-kristal. Aku memejamkan keempat mataku. Aku mengatur napas melalui insangku yang sudah tidak sekuat dulu. Dan aku mencoba merasakan.

Tanah di bawahku. Kristal-kristal di sekitarku yang masih berdengung. Angin dari timur yang membawa bau tanah basah dan sesuatu yang tidak bisa diidentifikasi tapi yang akrab, cara bau yang sudah ada jauh sebelum ada yang memberi nama kepadanya.

Aku mencoba memanggil.

Bukan dengan suara. Dengan cara yang sudah lama menjadi cara kami memanggil satu sama lain: melalui resonansi, melalui frekuensi yang keluar dari tubuh ketika seseorang membuka dirinya untuk menerima dan mengirim sekaligus.

Aku menunggu.

Menunggu dentuman balik dari sesama Ganemai seperti biasanya, seperti gema lautan yang menjawab ombak, seperti kristal yang merespons getaran dengan getarannya sendiri.

Tidak ada jawaban.

Aku membuka mataku.

Tidak ada jawaban bukan berarti tidak ada yang di sana. Jutaan Ganemai masih hidup di zona dan di tempat-tempat lain. Masih bernafas, masih berjalan, masih makan dan tidur dan bermimpi. Voreth tidak ada lagi tapi ada yang lain. Serath masih ada, sudah sangat tua sekarang tapi masih ada. Anak yang belajar nama bintang sudah dewasa dan mungkin sedang tidur sekarang dengan nama-nama itu di suatu tempat di dalam kepalanya.

Mereka ada.

Tapi mereka tidak merespons karena mereka tidak bisa. Generasi yang tumbuh tanpa jaringan resonansi tidak belajar cara merespons melalui bioelektrik karena tidak ada yang mengajarkan itu kepada mereka, dan tidak ada yang mengajarkan itu kepada mereka karena kondisi yang ada tidak menyediakan ruang untuk pengajaran itu.

Aku merasakan ini, absensi dari jawaban yang seharusnya ada, dan ini terasa berbeda dari semua yang pernah aku rasakan sebelumnya. Bukan seperti kehilangan yang tiba-tiba. Lebih seperti menyadari bahwa sesuatu yang sudah lama berubah bentuk baru sekarang sepenuhnya menjadi bentuk barunya, dan bentuk baru itu tidak mengandung apa yang dulu ada di dalam bentuk yang lama.

Bangsaku masih ada.

Tapi sesuatu yang membuat kami Ganemai dengan cara yang tidak bisa digantikan oleh definisi apapun sudah tidak ada lagi di sana untuk menjawab ketika dipanggil.

Aku duduk dengan ini cukup lama di antara kristal-kristal yang masih berdengung pelan.

Kemudian aku mengeluarkan jurnalku.

Aku menulis sangat lama malam itu. Lebih lama dari yang pernah aku tulis dalam satu malam.

Lihat selengkapnya