Ada suara yang hanya bisa kau dengar jika kau tahu cara diam.
Bukan diam seperti ruangan kosong. Maksudku adalah diam yang lebih dalam dari itu, diam yang harus kau latih selama puluhan siklus hingga seluruh tubuhmu belajar berhenti mengisi keheningan dengan keberadaanmu sendiri. Diam yang membuat kau bukan lagi seorang pendengar, melainkan bagian dari apa yang kau dengarkan.
Di situlah aku berada malam itu.
Di tengah padang kristal Aerum, dengan lutut menyentuh tanah yang suhunya selalu tiga derajat lebih dingin dari udara di sekitarnya, sebuah keanehan geologi yang tidak pernah berhasil dijelaskan oleh siapapun, dan yang oleh karenanya kami biarkan saja menjadi keanehan, karena kadang sesuatu yang tidak bisa dijelaskan justru lebih jujur dari sesuatu yang bisa, aku memejamkan dua pasang mataku dan menghela napas perlahan melalui insang di sisi leherku.
Ritual Veth-Raa dimulai seperti ini setiap tahun: dengan satu orang yang diam lebih dulu dari yang lain.
Padang Aerum di malam hari adalah sesuatu yang sulit kujelaskan kepada siapapun yang belum pernah melihatnya. Ribuan kristal tumbuh dari celah-celah tanah seperti gigi-gigi bumi yang terlupa, masing-masing setinggi pinggang hingga setinggi dada, berwarna biru pucat di siang hari dan berpendar kemerahan begitu matahari kita, Verath-Sol yang hangat dan tua itu, tenggelam di balik cakrawala barat.
Malam ini langit di atasnya berwarna ungu tua, warna yang paling kusukai, warna yang hanya muncul di antara dua jam setelah terbenam dan satu jam sebelum bintang-bintang kehilangan ketajamannya di ujung fajar. Di langit itu ada tiga bulan kami yang kecil-kecil, berjejer seperti tiga batu yang dilempar seseorang ke atas kolam dan tergantung sebelum jatuh.
Aku adalah Erevath Sola. Veth-Kara dari klan Aerum, penjaga resonansi, penjaga ingatan, dan malam ini, pemimpin ritual yang seharusnya sudah kukuasai sepenuhnya.
Seharusnya.
Tapi ada yang berbeda malam ini, dan aku tidak tahu cara meletakkan perasaan itu dalam kata-kata yang tepat. Seperti nada yang meleset setengah langkah dari tempatnya, bukan salah, tapi tidak tepat. Seperti seseorang yang kau kenal baik memasuki ruangan dan cara berjalannya sedikit berubah tanpa ia sendiri menyadarinya.
Di sekelilingku, empat belas anggota klan duduk dalam lingkaran, masing-masing menghadap keluar dari pusat, punggung mereka saling membelakangi. Ini adalah formasi tertua yang kami kenal, lebih tua dari catatan yang ada, lebih tua bahkan dari klan Aerum itu sendiri, yang kata leluhur kami sudah ada sejak bintang-bintang masih muda.
Aku merasakan mereka sebelum melihat atau mendengar mereka. Itulah sifat dari resonansi bioelektrik, kau tidak perlu melihat seseorang untuk tahu bahwa ia ada. Enam belas tubuh di sekeliling padang ini memancarkan gelombang samar yang hanya bisa kurasakan dengan bagian paling tidak-rasional dari diriku, bagian yang tidak pernah bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan kami meski sudah dicoba berkali-kali. Aku merasakan Serath yang selalu gelisah bahkan ketika ia tidur. Aku merasakan Vuren yang sudah setengah memasuki kondisi meditatif. Aku merasakan Voreth yang muda di tepi lingkaran, ia selalu di tepi, selalu di batas antara di dalam dan di luar, seolah belum memutuskan apakah ia ingin benar-benar ada.
Aku merasakan semua ini. Dan di balik semua itu, di balik gelombang-gelombang yang sudah kukenal seperti mengenal suara napas orang-orang yang tidur di sebelahku selama tiga ratus siklus, ada sesuatu yang lain.
Seperti nada asing yang terselip di antara melodi yang sudah dihafal.
Aku membuka mata keduaku, bukan yang merespons cahaya tampak, tapi yang lebih tua dari itu, yang merespons panas dan gerak dan kehadiran. Dan di langit utara, jauh di atas horizon yang kini gelap seluruhnya, ada sebuah titik.
Bukan bintang. Aku mengenal semua bintang di langit ini.
Bukan bulan. Ketiga bulan kami ada di tempatnya masing-masing.
Hanya titik cahaya yang tidak bergerak seperti bintang bergerak, bukan mengikuti rotasi langit, bukan mengikuti orbit yang sudah bisa kuperkirakan sejak aku bisa berpikir. Ia diam di tempatnya dengan cara yang tidak wajar. Dengan cara yang terasa disengaja.
"Erevath."
Suara Serath, berbisik, dari belakangku.
Aku tidak menjawab dulu. Aku masih menatap titik itu.
"Aku juga melihatnya," katanya lagi, lebih pelan. Dalam bahasa kami, berbicara lebih pelan dari yang diperlukan adalah cara mengatakan bahwa sesuatu membuatmu tidak nyaman tapi kau belum siap mengakuinya dengan suara yang bisa didengar orang banyak.
"Sudah berapa lama?" tanyaku.
"Sejak aku duduk. Mungkin lebih lama."
Aku menghitung dalam kepala. Kami sudah duduk hampir dua jam. Itu artinya titik itu sudah di sana setidaknya dua jam, diam di tempatnya, sementara kami duduk dan berniat melakukan ritual yang paling suci yang kami punya.
Sesuatu dalam dadaku, atau lebih tepatnya di organ yang terletak di antara dadaku dan perutku, yang belum pernah berhasil diberi nama oleh ahli anatomi kami karena fungsinya tidak sepenuhnya biologis, terasa seperti disentuh oleh sesuatu yang dingin.
"Lanjutkan ritual," kataku akhirnya.