KOSMOS: DI BAWAH LANGIT

Dio Septian
Chapter #2

Ladang Tanpa Batas

Kapal itu lewat lagi pukul enam pagi, seperti biasa.

Rael sudah ada di sana jauh sebelumnya, duduk di puncak silo nomor tiga, kaki terjuntai di tepi,

memandang cakrawala amber yang pelan-pelan terang. Ia sudah hafal jadwalnya. Kapal kargo kelas

Meridian dari rute Kepler-Vega selalu melintasi langit Ager Nova sekitar subuh, terlalu tinggi untuk

terdengar, tapi cukup rendah untuk kelihatan sebagai garis cahaya yang bergerak tenang di antara

bintang-bintang yang belum sepenuhnya padam.

Ia selalu menghitungnya.

Hari ini sudah empat belas kapal sejak tengah malam. Empat belas kapal yang pergi ke tempat

lain.

Angin pagi menerpa wajahnya dengan bau tanah basah dan serbuk gandum, bau yang sama

setiap pagi, bau yang ia kenal sebelum ia tahu cara mengeja namanya sendiri. Di bawah, ladang

membentang ke segala arah sampai mata tidak bisa lagi memisahkan mana tanaman dan mana

langit. Hijau keemasan yang bergelombang pelan ditiup angin. Indah, kata orang-orang kota yang

kadang datang untuk liburan.

Monoton, kata Rael dalam hati, tapi tidak pernah keras-keras karena ayahnya punya telinga yang

lebih tajam dari yang kelihatan.

Garis cahaya itu menghilang di balik cakrawala barat.

Empat belas.

"Rael!"

Suara itu dari bawah. Ia tidak perlu melihat untuk tahu itu ibunya, sama seperti ia tidak perlu

melihat untuk tahu langit sudah cukup terang dan artinya sarapan sudah matang dan artinya ia

terlambat lagi.

Ia turun dari silo dengan cara yang sudah ratusan kali ia lakukan: tangga besi berkarat di sisi

timur, melompati anak tangga keempat dari bawah yang sudah lama goyah, mendarat dengan kedua

kaki di tanah merah Ager Nova yang selalu sedikit lembab di pagi hari. Sepatunya langsung kotor.

Seperti biasa.

Rumah keluarga Vander berdiri seratus meter dari silo, bangunan satu lantai dengan dinding bata

cetak yang sudah memudar, atap panel surya yang perlu diganti sejak dua tahun lalu tapi belum juga

diganti, dan jendela dapur yang selalu berasap setiap pagi karena ibunya masak dengan kompor

lama yang knop kirinya tidak bisa dikecilkan. Dari luar, rumah itu terlihat seperti ribuan rumah

pertanian lain di Ager Nova. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang membedakan.

Rael masuk tanpa mengetuk."Kamu di silo lagi?" ibunya tidak menoleh dari kompor. Pertanyaan itu bukan pertanyaan

sungguhan.

"Cuma sebentar."

"Kamu bilang itu kemarin."

"Kemarin juga cuma sebentar."

Ibunya menoleh. Ia tidak marah, ekspresinya lebih ke arah lelah yang sudah terlalu lama

disimpan sampai tidak bisa lagi disebut lelah, cuma jadi bagian dari wajah. Rambut hitamnya

dikepang longgar, ada tepung di pergelangan tangannya. "Cuci tangan. Ayahmu sudah di meja."

Di meja kayu panjang yang memenuhi seperempat ruang makan, ayah Rael sudah duduk dengan

postur orang yang sudah sarapan sejak sebelum fajar dan ini hanya pengulangan ritual pagi yang

keempat belas ribu kali atau lebih. Konrad Vander. Lima puluh satu tahun. Bahu lebar, tangan yang

sudah tidak bisa sepenuhnya lurus karena dua dekade mengoperasikan harvester. Wajahnya selalu

terlihat seperti seseorang yang sedang mempertimbangkan sesuatu yang berat, padahal biasanya ia

cuma memikirkan jadwal irigasi.

"Sektor tujuh butuh pengecekan hari ini," kata ayahnya tanpa basa-basi. "Pompa sekunder bunyi

aneh sejak kemarin sore."

"Oke," kata Rael, duduk.

"Kamu dengar tidak?"

"Dengar, Pak."

Ibunya meletakkan dua piring di meja, nasi hangat dengan lauk protein cetak berbentuk kotak,

standar sarapan pertanian kelas menengah di Ager Nova yang tidak jauh berbeda dari sarapan

pertanian kelas menengah di dua ratus planet lain yang mengenal konsep pertanian. Rael menatap

makanannya. Ia lapar, tapi tangannya tidak bergerak.

Di luar jendela, langit sudah sepenuhnya amber. Di suatu tempat di atas sana, kapal kargo kelima

belas mungkin sedang melintasi orbit rendah, terlalu jauh untuk kelihatan dari dapur, membawa

entah apa ke entah mana.

"Rael."

Lihat selengkapnya