Kapal itu lewat lagi pukul enam pagi, seperti biasa.
Rael sudah ada di sana jauh sebelumnya, duduk di puncak silo nomor tiga, kaki terjuntai di tepi, memandang cakrawala amber yang pelan-pelan terang. Ia sudah hafal jadwalnya. Kapal kargo kelas Meridian dari rute Kepler-Vega selalu melintasi langit Ager Nova sekitar subuh, terlalu tinggi untuk terdengar, tapi cukup rendah untuk kelihatan sebagai garis cahaya yang bergerak tenang di antara bintang-bintang yang belum sepenuhnya padam.
Ia selalu menghitungnya.
Hari ini sudah empat belas kapal sejak tengah malam. Empat belas kapal yang pergi ke tempat lain.
Angin pagi menerpa wajahnya dengan bau tanah basah dan serbuk gandum, bau yang sama setiap pagi, bau yang ia kenal sebelum ia tahu cara mengeja namanya sendiri. Di bawah, ladang membentang ke segala arah sampai mata tidak bisa lagi memisahkan mana tanaman dan mana langit. Hijau keemasan yang bergelombang pelan ditiup angin. Indah, kata orang-orang kota yang kadang datang untuk liburan.
Monoton, kata Rael dalam hati, tapi tidak pernah keras-keras karena ayahnya punya telinga yang lebih tajam dari yang kelihatan.
Garis cahaya itu menghilang di balik cakrawala barat.
Empat belas.
"Rael!"
Suara itu dari bawah. Ia tidak perlu melihat untuk tahu itu ibunya, sama seperti ia tidak perlu melihat untuk tahu langit sudah cukup terang dan artinya sarapan sudah matang dan artinya ia terlambat lagi.
Ia turun dari silo dengan cara yang sudah ratusan kali ia lakukan: tangga besi berkarat di sisi timur, melompati anak tangga keempat dari bawah yang sudah lama goyah, mendarat dengan kedua kaki di tanah merah Ager Nova yang selalu sedikit lembab di pagi hari. Sepatunya langsung kotor. Seperti biasa.
Rumah keluarga Vander berdiri seratus meter dari silo, bangunan satu lantai dengan dinding bata cetak yang sudah memudar, atap panel surya yang perlu diganti sejak dua tahun lalu tapi belum juga diganti, dan jendela dapur yang selalu berasap setiap pagi karena ibunya masak dengan kompor lama yang knop kirinya tidak bisa dikecilkan. Dari luar, rumah itu terlihat seperti ribuan rumah pertanian lain di Ager Nova. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang membedakan.
Rael masuk tanpa mengetuk.
"Kamu di silo lagi?" ibunya tidak menoleh dari kompor. Pertanyaan itu bukan pertanyaan sungguhan.
"Cuma sebentar."
"Kamu bilang itu kemarin."
"Kemarin juga cuma sebentar."
Ibunya menoleh. Ia tidak marah, ekspresinya lebih ke arah lelah yang sudah terlalu lama disimpan sampai tidak bisa lagi disebut lelah, cuma jadi bagian dari wajah. Rambut hitamnya dikepang longgar, ada tepung di pergelangan tangannya. "Cuci tangan. Ayahmu sudah di meja."
Di meja kayu panjang yang memenuhi seperempat ruang makan, ayah Rael sudah duduk dengan postur orang yang sudah sarapan sejak sebelum fajar dan ini hanya pengulangan ritual pagi yang keempat belas ribu kali atau lebih. Konrad Vander. Lima puluh satu tahun. Bahu lebar, tangan yang sudah tidak bisa sepenuhnya lurus karena dua dekade mengoperasikan harvester. Wajahnya selalu terlihat seperti seseorang yang sedang mempertimbangkan sesuatu yang berat, padahal biasanya ia cuma memikirkan jadwal irigasi.
"Sektor tujuh butuh pengecekan hari ini," kata ayahnya tanpa basa-basi. "Pompa sekunder bunyi aneh sejak kemarin sore."
"Oke," kata Rael, duduk.
"Kamu dengar tidak?"
"Dengar, Pak."
Ibunya meletakkan dua piring di meja, nasi hangat dengan lauk protein cetak berbentuk kotak, standar sarapan pertanian kelas menengah di Ager Nova yang tidak jauh berbeda dari sarapan pertanian kelas menengah di dua ratus planet lain yang mengenal konsep pertanian. Rael menatap makanannya. Ia lapar, tapi tangannya tidak bergerak.
Di luar jendela, langit sudah sepenuhnya amber. Di suatu tempat di atas sana, kapal kargo kelima belas mungkin sedang melintasi orbit rendah, terlalu jauh untuk kelihatan dari dapur, membawa entah apa ke entah mana.
"Rael."
Ia mengangkat wajah. Ayahnya menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca, bukan marah, bukan tidak sabar, tapi ada sesuatu di baliknya yang lebih dalam dan Rael belum pernah berhasil menerjemahkannya.
"Makan dulu."
Rael makan.
Dunk datang pukul delapan, seperti biasa, dengan wajah orang yang baru saja berlari padahal ia tidak berlari.