Gudang itu bau debu dan minyak mesin dan sesuatu yang lebih tua dari keduanya.
Sovi tidak bisa menyebutkan nama bau itu dengan tepat. Bukan bau busuk, bukan juga bau
harum, lebih seperti bau waktu, kalau waktu punya bau. Seperti ruangan yang sudah menyimpan
terlalu banyak kenangan sampai kenangan itu mulai meresap ke dinding dan lantai dan atap seng
yang berderit setiap kali angin lewat.
Gudang Nenek Aris terletak di belakang rumahnya, dipisahkan oleh halaman sempit yang
ditumbuhi tanaman herbal dalam pot-pot tanah liat. Bangunannya lebih tua dari rumah utama,
dindingnya dari bata lokal yang tidak rata, pintunya kayu dengan engsel besi yang perlu diangkat
sedikit supaya bisa dibuka. Sovi hafal caranya. Ia sudah puluhan kali ke sini, selalu dengan izin,
selalu siang hari, selalu bersama Nenek Aris yang duduk di kursi anyaman dekat pintu sambil
membiarkan Sovi membaca apa saja yang ia mau dari rak-rak tua itu.
Hari ini ia kesini sendirian. Hari ini Nenek Aris tidak duduk di kursi anyaman.
Hari ini adalah dua hari setelah pemakamannya.
Sovi menekan tombol lampu. Satu bohlam lama menyala di tengah gudang, cahayanya kuning
dan hangat dan terlalu kecil untuk menerangi seluruh ruangan, sudut-sudut tetap gelap, rak-rak di
bagian belakang masih tersamar bayangan. Tapi cukup. Cukup untuk melihat bahwa semuanya
masih di tempat yang sama, persis seperti terakhir kali ia ke sini dua minggu lalu bersama Nenek
Aris yang waktu itu masih sehat, atau setidaknya kelihatan sehat, atau mungkin sudah tidak sehat
tapi tidak mau bilang.
Tapi itu bukan alasan Sovi ke sini sekarang.
Alasan Sovi ke sini sekarang adalah pesan terakhir Nenek Aris, disampaikan tiga jam sebelum
perempuan itu menutup mata, dengan suara yang sudah tidak lebih dari bisikan tapi matanya masih
tajam seperti biasa, seperti seumur hidup:
"Di gudang. Koper cokelat. Di bawah rak paling kiri, di belakang, yang ada kainnya."
Dan kemudian, sesaat sebelum Sovi bisa bertanya apa-apa:
"Jangan percaya peta resmi."
Itu saja. Setelah itu Nenek Aris tidak bicara lagi.
Rak paling kiri ada di sudut belakang yang tidak terjangkau cahaya bohlam.
Sovi mengambil senter kecil dari sakunya, ia selalu membawa senter, sama seperti ia selalu
membawa jurnal dan pena cadangan dan tisu kering, karena hidup terlalu sering menempatkan
seseorang di situasi yang tidak terduga dan lebih baik siap, dan menyinari sudut itu.Rak kayu tua penuh dengan kotak-kotak berlabel tulisan tangan. Komponen irigasi lama. Mur
dan baut dalam kantong plastik. Tiga buku teknik yang punggungnya sudah pudar. Satu kaleng cat
yang entah sudah mengering atau belum. Dan di bagian paling bawah, hampir tersembunyi di balik
kotak komponen terbesar, ada sesuatu yang dibalut kain goni cokelat.
Sovi berlutut. Tangannya menarik kain itu pelan-pelan.
Koper itu tidak besar, kira-kira seukuran tas sekolah, tapi tebal dan berat dengan cara yang
menunjukkan isinya padat. Bahannya entah kulit entah sintetis, sudah kusam dan retak di beberapa
bagian, warnanya cokelat tua yang mungkin dulu lebih cerah. Ada dua kunci putar logam di bagian
depan, jenis yang tidak butuh kode tapi butuh dua tangan untuk membukanya bersamaan. Di sisi
atasnya ada inisial yang diukir kecil:
A.V.
Aris Vento. Nama asli Nenek Aris sebelum menikah.
Sovi menatap koper itu cukup lama. Pikirannya berlari ke sepuluh arah sekaligus, tentang apa
isinya, tentang kenapa disembunyikan di sini, tentang apa maksud pesan terakhir itu, tentang berapa
lama koper ini sudah ada di sudut gelap gudang ini tanpa ada yang tahu. Atau mungkin ada yang
tahu. Mungkin justru karena ada yang tahu maka ia harus disembunyikan.
Ia tidak membuka koper itu sekarang.
Bukan karena takut. Tapi karena ada sesuatu yang terasa seperti sebuah bab baru yang akan
dimulai begitu kunci itu terbuka, dan Sovi cukup banyak membaca untuk tahu bahwa bab baru tidak
boleh dibuka dengan terburu-buru.
Ia membawa koper itu pulang, mengangkatnya dengan kedua tangan karena beratnya tidak main-
main, melewati halaman herbal, melewati pintu belakang rumah nenek yang sekarang sudah sepi,
ke jalan desa yang ditapaki cahaya sore yang mulai panjang bayangannya.
Rumah keluarga Tavin terletak empat ratus meter dari stasiun irigasi utama desa, posisi yang
bukan kebetulan karena ayah Sovi, Brem Tavin, adalah kepala teknisi irigasi Distrik Selatan Kota
Garven sejak dua belas tahun lalu dan sebelum itu adalah asisten teknisi, dan sebelum itu magang,
dan sepertinya akan terus begitu sampai pensiun atau sampai ada yang membutuhkan keahliannya
di tempat lain yang mana, menurut Sovi, tidak akan pernah terjadi karena ayahnya tidak suka
berpindah.
Ini bukan kritik. Sovi mencintai ayahnya. Ia hanya mencatat fakta.
Malam itu, setelah makan malam yang berlangsung lebih sunyi dari biasanya karena seluruh