KOSMOS: DI BAWAH LANGIT

Dio Septian
Chapter #4

Tiga Kepala Batu

Ada satu pohon di tepi desa Garven yang tidak ada di peta manapun.

Namanya bukan pohon Lumen, itu nama yang diberikan Rael empat tahun lalu karena batangnya mengeluarkan cahaya redup kebiruan di malam hari, fenomena bioluminesensi kecil yang kalau dibawa ke laboratorium mungkin punya penjelasan panjang tapi di kepala Rael lebih mudah diselesaikan dengan memberi nama. Nama resminya, kalau pohon itu punya nama resmi, mungkin sesuatu dalam bahasa Latin yang panjang dan tidak ada yang mau mengucapkan dua kali.

Pohon itu besar, tumbuh miring ke timur seperti selama hidupnya hanya tertiup angin dari satu arah, dengan akar-akar yang mencuat dari tanah membentuk cekungan alami yang cukup nyaman untuk diduduki tiga orang kalau tiga orang itu tidak keberatan sedikit berdesakan dan tidak keberatan semut kadang lewat.

Tiga orang itu tidak keberatan.

Mereka sudah sering ke sini sejak kelas empat, dulu karena tempat ini cukup jauh dari rumah masing-masing untuk terasa seperti petualangan, sekarang karena kebiasaan sudah jadi ritual dan ritual susah diubah. Setiap Minggu sore, setelah kewajiban masing-masing selesai, mereka bertemu di pohon Lumen. Tidak ada yang pernah mengusulkan ini secara resmi. Begitu saja terjadi, dan begitu saja bertahan.

Sore ini, dua hari setelah Sovi menemukan koper neneknya dan belum bilang apa-apa kepada siapapun, mereka bertiga duduk di akar-akar pohon Lumen dengan posisi yang sudah masing-masing punya klaim tersendiri: Rael di akar paling tebal yang melengkung seperti bangku, Dunk di cekungan tanah di antara dua akar besar yang persis pas dengan lebar badannya, dan Sovi di akar yang lebih tinggi sehingga ia selalu sedikit lebih tinggi dari keduanya, hal yang tidak ia rencanakan tapi tidak ia protes.

"Aku bosan," kata Rael.

"Kamu bilang itu setiap minggu," kata Sovi.

"Karena setiap minggu aku bosan."

"Konsisten," kata Dunk, mengunyah sesuatu. Entah apa. Selalu ada sesuatu.

Rael melempar ranting kecil ke arah Dunk. Ranting itu mengenai bahu Dunk lalu jatuh ke tanah. Dunk tidak bereaksi sama sekali karena seumur hidup ia sudah mengembangkan kemampuan untuk mengabaikan hal-hal yang tidak mengancam keselamatannya secara langsung.

"Kita harusnya pergi ke suatu tempat," kata Rael. "Betulan pergi. Bukan cuma ke sini."

"Kita selalu ke sini," kata Sovi.

"Itu yang jadi masalah."

Sovi menatapnya sebentar. Ada sesuatu di wajah Rael yang berbeda dari biasanya, bukan lebih serius, karena Rael tidak punya mode serius, tapi lebih terarah. Seperti ia sudah punya tujuan tapi belum mau bilang tujuannya apa.

"Pergi ke mana?" tanya Dunk.

"Tepi kota."

"Tepi kota bukan pergi," kata Sovi. "Tepi kota masih kota."

"Ya tapi itu langkah pertama."

"Langkah pertama menuju apa?"

Rael membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia menatap ke arah selatan, ke cakrawala di mana garis gelap Ngarai Veth bisa dilihat samar-samar bahkan dari sini. Sovi mengikuti arah pandangnya. Dunk tidak melihat ke mana-mana karena sedang fokus pada makanannya.

"Langkah pertama menuju lebih jauh dari ini," kata Rael akhirnya.

Sovi hampir bicara, ada sesuatu yang hampir keluar dari mulutnya, sesuatu tentang koper dan peta dan nenek, tapi ia menahannya. Belum. Ia belum siap. Ia belum selesai menganalisis.

"Oke," katanya.

Rael menoleh cepat. "Oke?"

"Oke kita ke tepi kota. Tapi kalau ini ide buruk, aku sudah bilang dari awal."

"Bukan ide buruk."

"Belum terbukti bukan ide buruk."

"Dunk?" Rael menatap ke bawah.

Dunk mengangkat wajah. Ada remah sesuatu di sudut bibirnya. "Sebentar lagi kan? Ada lagi yang perlu dimakan di sini."

Rael dan Sovi saling pandang.

"Kamu makan apa?" tanya Sovi.

"Ubi tadi."

"Ubi mentah?"

"Ubi panggang. Aku bawa dari tadi." Dunk mengeluarkan sepotong lagi dari saku jaketnya. "Ada yang mau?"

Rael berdiri. "Kita berangkat."

Tepi kota Garven di sisi selatan bukanlah batas yang dramatis.

Tidak ada tembok, tidak ada portal, tidak ada papan yang bertuliskan KAMU SUDAH SAMPAI DI TEPI PERADABAN. Yang ada hanya jalan beraspal yang perlahan berganti jalan berkerikil yang perlahan berganti tanah padat yang sudah jarang dilewati kendaraan, dan di kiri kanan jalan itu ladang yang semakin jarang semakin jauh dari pusat desa sampai akhirnya berganti semak dan tanaman yang tidak ada yang tanam, jenis yang tumbuh karena ingin dan tidak karena diatur.

"Ini tepi kota," kata Rael, berhenti.

"Ya," kata Sovi.

"Tidak semenarik yang aku bayangkan."

"Kamu yang usul."

"Aku tahu."

Di depan mereka, jalan tanah itu terus berjalan lurus ke selatan sebelum membelok mengikuti kontur bukit kecil, lalu menghilang. Selebihnya: tumbuhan setinggi lutut, udara yang berbau berbeda dari dalam kota, lebih segar, lebih tajam, dengan semacam rasa mineral yang menempel di belakang tenggorokan, dan langit sore yang mulai memerah di barat.

"Kita lanjut?" tanya Rael.

"Kita seharusnya balik sebelum gelap," kata Sovi.

"Belum gelap."

Lihat selengkapnya