KOSMOS: DI BAWAH LANGIT

Dio Septian
Chapter #5

Isi Koper

Sovi tidak tidur malam itu, ia sudah mengantuk sejak pukul sepuluh, tapi setiap kali ia menutup

mata ada halaman jurnal yang menghapus gelap di balik kelopaknya dan memaksanya membuka

mata lagi. Ini bukan pertama kalinya buku membuat Sovi begadang. Biasanya buku yang ia baca

sendiri, buku tentang kartografi, tentang geologi planet, tentang sejarah ekspansi galaksi yang

penuh dengan bagian-bagian yang tidak diajarkan di sekolah karena terlalu panjang atau terlalu

rumit atau, ia sekarang mulai curiga, karena alasan yang lain.

Tapi ini bukan buku. Ini jurnal seseorang yang sudah mati. Seseorang yang menulis dengan

tangan, di atas kertas, dengan tekanan pena yang berbeda-beda tergantung seberapa penting hal

yang sedang ditulis, ringan untuk catatan teknis, berat dan dalam untuk hal-hal yang membuat

penulisnya harus berhenti sebentar sebelum melanjutkan.

Jurnal pertama milik Nenek Aris.

Dimulai tiga puluh dua tahun lalu, ketika Nenek Aris masih empat puluh delapan tahun dan

masih bekerja sebagai teknisi lapangan, sebelum lutut kirinya bermasalah dan ia dipindah ke

pekerjaan yang lebih banyak duduk. Catatan-catatannya di awal jurnal adalah catatan pekerjaan

biasa, jadwal pemeliharaan, koordinat sensor, hasil bacaan tekanan air tanah di berbagai titik. Sovi

mengenali format teknisi dalam tulisan itu: ringkas, terstruktur, angka-angka di margin.

Lalu di halaman dua puluh tujuh, di tengah catatan rutin tentang pompa sektor empat belas,

tulisan itu berubah.

Bukan berubah isi, isinya masih tentang teknis. Tapi tekanannya. Penanya menekan lebih dalam,

huruf-hurufnya sedikit lebih besar, seperti tangan yang menulis sedang menahan sesuatu dan tidak

sepenuhnya berhasil.

Sovi membaca baris itu tiga kali.

Sensor di titik T-14 menangkap getaran yang tidak ada di log sebelumnya. Frekuensi 0.3 Hz,

periodik, tidak ada sumber mekanis yang cocok dalam radius dua kilometer. Aku sudah periksa

semua kemungkinan. Ini bukan mesin. Ini bukan gempa mikro. Ini sesuatu yang lain. Aku tidak

akan tulis ini di laporan resmi sampai aku tahu apa yang aku hadapi.

Di bawah baris itu, ditambahkan dengan tinta berbeda, mungkin hari lain. Getaran itu berulang.

Persis dua puluh dua jam sekali. Dan di bawahnya lagi, baris yang membuat Sovi berhenti bernapas

sebentar. Dua puluh dua jam. Bukan dua puluh empat. Bukan dua belas. Dua puluh dua, tidak ada

siklus alam di planet ini yang dua puluh dua jam. Aku mulai berpikir ini bukan siklus alam.

Sovi menutup jurnal.Pukul dua belas lewat tiga puluh malam. Di luar kamarnya, rumah sudah lama sunyi, ayahnya

tidur jam sepuluh tanpa pernah gagal, ibunya mungkin jam sebelas. Di bawah bantal di sebelah

kirinya ada surat terakhir nenek. Di lantai di sebelah kanannya masih ada koper terbuka dengan dua

jurnal yang belum ia baca.

Besok pagi jam delapan kurang. Pohon Lumen.

Ia harus tidur.

Ia tidak tidur.

Rael tiba pukul tujuh empat puluh lima.

Sovi sudah di sana sejak tujuh lewat sepuluh, duduk di akarnya yang biasa dengan koper di

pangkuannya dan dua cangkir teh panas di tanah di depannya, satu untuk dirinya sendiri, satu yang

ia bawa untuk siapa pun yang datang pertama karena ini adalah jenis pagi yang membutuhkan teh

dan ia cukup yakin Rael tidak akan ingat untuk sarapan dengan benar.

Ia benar.

"Teh?" Rael mengambil cangkir itu tanpa bertanya. Ia duduk di akarnya, menatap koper di

pangkuan Sovi, menahan diri untuk tidak langsung bertanya. Sovi menghargai itu.

Mereka menunggu diam-diam. Pagi Ager Nova sedang dalam fase terbaiknya, langit amber yang

masih bening sebelum kabut tipis naik dari ladang, udara yang dingin dengan cara yang bersih

bukan menusuk, dan pohon Lumen di belakang mereka masih menyimpan sisa cahaya birunya dari

semalam, memudar pelan-pelan seiring matahari naik.

Dunk datang pukul tujuh lima puluh delapan, berlari kecil dari ujung jalan, dengan dua roti lapis

di satu tangan dan satu roti lapis di tangan lain.

"Tidak terlambat," katanya, ngos-ngosan ringan.

"Dua menit lagi," kata Sovi.

"Dua menit itu masih belum." Dunk duduk, menyodorkan satu roti lapis ke Rael yang langsung

menerimanya. "Buat kamu tidak ada," katanya ke Sovi, "karena kamu pasti sudah makan."

"Aku belum makan."

Dunk menatapnya. Lalu menatap roti lapis di tangannya. Lalu dengan ekspresi pria yang sedang

mempertimbangkan sesuatu yang serius, ia membelah roti lapisnya menjadi dua dan menyerahkan

separuhnya ke Sovi.

"Terima kasih," kata Sovi.

"Aku masih lapar tapi oke."

Rael menatap koper itu lagi. Kali ini ia tidak menahan diri. "Jadi?" Sovi meletakkan setengah

roti lapisnya di sampingnya. Ia menarik napas sekali, bukan karena gugup, tapi karena ada sesuatu

yang terasa seperti titik tidak bisa kembali dalam adegan ini dan ia ingin mengakui itu secara sadar

sebelum melanjutkan."Ini," katanya, "adalah koper terakhir nenek ku. Ia mewariskannya khusus untukku, tiga jam

sebelum meninggal. Aku baru buka dua hari lalu." Rael dan Dunk tidak bersuara.

"Di dalamnya ada tiga jurnal, satu tabung kristal data, beberapa batu mineral, dan satu peta."

Sovi membuka kunci koper. "Aku sudah baca sebagian jurnal pertama semalam. Ada hal-hal di

dalamnya yang aku tidak tahu harus kupikirkan sendiri."

"Makanya kamu panggil kami," kata Dunk.

"Makanya aku panggil kalian."

Koper terbuka.

Pertama ia mengeluarkan surat.

Rael dan Dunk membacanya bergantian, Rael cepat dan dua kali, Dunk pelan dan sekali tapi

dengan konsentrasi penuh. Sovi mengamati wajah mereka selama mereka membaca. Rael

Lihat selengkapnya