Sovi tidak tidur malam itu, ia sudah mengantuk sejak pukul sepuluh, tapi setiap kali ia menutup
mata ada halaman jurnal yang menghapus gelap di balik kelopaknya dan memaksanya membuka
mata lagi. Ini bukan pertama kalinya buku membuat Sovi begadang. Biasanya buku yang ia baca
sendiri, buku tentang kartografi, tentang geologi planet, tentang sejarah ekspansi galaksi yang
penuh dengan bagian-bagian yang tidak diajarkan di sekolah karena terlalu panjang atau terlalu
rumit atau, ia sekarang mulai curiga, karena alasan yang lain.
Tapi ini bukan buku. Ini jurnal seseorang yang sudah mati. Seseorang yang menulis dengan
tangan, di atas kertas, dengan tekanan pena yang berbeda-beda tergantung seberapa penting hal
yang sedang ditulis, ringan untuk catatan teknis, berat dan dalam untuk hal-hal yang membuat
penulisnya harus berhenti sebentar sebelum melanjutkan.
Jurnal pertama milik Nenek Aris.
Dimulai tiga puluh dua tahun lalu, ketika Nenek Aris masih empat puluh delapan tahun dan
masih bekerja sebagai teknisi lapangan, sebelum lutut kirinya bermasalah dan ia dipindah ke
pekerjaan yang lebih banyak duduk. Catatan-catatannya di awal jurnal adalah catatan pekerjaan
biasa, jadwal pemeliharaan, koordinat sensor, hasil bacaan tekanan air tanah di berbagai titik. Sovi
mengenali format teknisi dalam tulisan itu: ringkas, terstruktur, angka-angka di margin.
Lalu di halaman dua puluh tujuh, di tengah catatan rutin tentang pompa sektor empat belas,
tulisan itu berubah.
Bukan berubah isi, isinya masih tentang teknis. Tapi tekanannya. Penanya menekan lebih dalam,
huruf-hurufnya sedikit lebih besar, seperti tangan yang menulis sedang menahan sesuatu dan tidak
sepenuhnya berhasil.
Sovi membaca baris itu tiga kali.
Sensor di titik T-14 menangkap getaran yang tidak ada di log sebelumnya. Frekuensi 0.3 Hz,
periodik, tidak ada sumber mekanis yang cocok dalam radius dua kilometer. Aku sudah periksa
semua kemungkinan. Ini bukan mesin. Ini bukan gempa mikro. Ini sesuatu yang lain. Aku tidak
akan tulis ini di laporan resmi sampai aku tahu apa yang aku hadapi.
Di bawah baris itu, ditambahkan dengan tinta berbeda, mungkin hari lain. Getaran itu berulang.
Persis dua puluh dua jam sekali. Dan di bawahnya lagi, baris yang membuat Sovi berhenti bernapas
sebentar. Dua puluh dua jam. Bukan dua puluh empat. Bukan dua belas. Dua puluh dua, tidak ada
siklus alam di planet ini yang dua puluh dua jam. Aku mulai berpikir ini bukan siklus alam.
Sovi menutup jurnal.Pukul dua belas lewat tiga puluh malam. Di luar kamarnya, rumah sudah lama sunyi, ayahnya
tidur jam sepuluh tanpa pernah gagal, ibunya mungkin jam sebelas. Di bawah bantal di sebelah
kirinya ada surat terakhir nenek. Di lantai di sebelah kanannya masih ada koper terbuka dengan dua
jurnal yang belum ia baca.
Besok pagi jam delapan kurang. Pohon Lumen.
Ia harus tidur.
Ia tidak tidur.
Rael tiba pukul tujuh empat puluh lima.
Sovi sudah di sana sejak tujuh lewat sepuluh, duduk di akarnya yang biasa dengan koper di
pangkuannya dan dua cangkir teh panas di tanah di depannya, satu untuk dirinya sendiri, satu yang
ia bawa untuk siapa pun yang datang pertama karena ini adalah jenis pagi yang membutuhkan teh
dan ia cukup yakin Rael tidak akan ingat untuk sarapan dengan benar.
Ia benar.
"Teh?" Rael mengambil cangkir itu tanpa bertanya. Ia duduk di akarnya, menatap koper di
pangkuan Sovi, menahan diri untuk tidak langsung bertanya. Sovi menghargai itu.
Mereka menunggu diam-diam. Pagi Ager Nova sedang dalam fase terbaiknya, langit amber yang
masih bening sebelum kabut tipis naik dari ladang, udara yang dingin dengan cara yang bersih
bukan menusuk, dan pohon Lumen di belakang mereka masih menyimpan sisa cahaya birunya dari
semalam, memudar pelan-pelan seiring matahari naik.
Dunk datang pukul tujuh lima puluh delapan, berlari kecil dari ujung jalan, dengan dua roti lapis
di satu tangan dan satu roti lapis di tangan lain.
"Tidak terlambat," katanya, ngos-ngosan ringan.
"Dua menit lagi," kata Sovi.
"Dua menit itu masih belum." Dunk duduk, menyodorkan satu roti lapis ke Rael yang langsung
menerimanya. "Buat kamu tidak ada," katanya ke Sovi, "karena kamu pasti sudah makan."
"Aku belum makan."
Dunk menatapnya. Lalu menatap roti lapis di tangannya. Lalu dengan ekspresi pria yang sedang
mempertimbangkan sesuatu yang serius, ia membelah roti lapisnya menjadi dua dan menyerahkan
separuhnya ke Sovi.
"Terima kasih," kata Sovi.
"Aku masih lapar tapi oke."
Rael menatap koper itu lagi. Kali ini ia tidak menahan diri. "Jadi?" Sovi meletakkan setengah
roti lapisnya di sampingnya. Ia menarik napas sekali, bukan karena gugup, tapi karena ada sesuatu
yang terasa seperti titik tidak bisa kembali dalam adegan ini dan ia ingin mengakui itu secara sadar
sebelum melanjutkan."Ini," katanya, "adalah koper terakhir nenek ku. Ia mewariskannya khusus untukku, tiga jam
sebelum meninggal. Aku baru buka dua hari lalu." Rael dan Dunk tidak bersuara.
"Di dalamnya ada tiga jurnal, satu tabung kristal data, beberapa batu mineral, dan satu peta."
Sovi membuka kunci koper. "Aku sudah baca sebagian jurnal pertama semalam. Ada hal-hal di
dalamnya yang aku tidak tahu harus kupikirkan sendiri."
"Makanya kamu panggil kami," kata Dunk.
"Makanya aku panggil kalian."
Koper terbuka.
Pertama ia mengeluarkan surat.
Rael dan Dunk membacanya bergantian, Rael cepat dan dua kali, Dunk pelan dan sekali tapi
dengan konsentrasi penuh. Sovi mengamati wajah mereka selama mereka membaca. Rael