KOSMOS: DI BAWAH LANGIT

Dio Septian
Chapter #6

Rencana Bodoh

Dua minggu kemudian, mereka tahu lebih banyak dari yang ingin mereka ketahui dan belum cukup tahu untuk bisa berhenti.

Jurnal pertama habis dibaca dalam tiga hari, dibagi rata, tiap orang satu malam, dengan catatan yang ditulis di kertas terpisah dan dibandingkan keesokan paginya di pohon Lumen. Jurnal kedua butuh lima hari karena lebih tebal dan tulisannya lebih rapat, seperti Nenek Aris di tahun-tahun tengah karirnya sudah belajar untuk mencatat lebih banyak dalam ruang yang lebih sedikit. Jurnal ketiga butuh enam hari bukan karena panjang, justru ini yang paling tipis, tapi karena isinya berat dengan cara yang membuat masing-masing dari mereka perlu berhenti di tengah dan meletakkannya dan melakukan sesuatu yang lain sebentar sebelum kembali.

Yang mereka temukan, disarikan dari ratusan halaman tulisan tangan seorang teknisi yang sangat teliti dan sangat sunyi selama tiga puluh dua tahun:

Nenek Aris bukan yang pertama menemukan anomali itu. Ia menemukan catatan orang lain yang lebih dulu, catatan yang tersembunyi dalam kode di laporan teknis resmi yang sudah diarsipkan puluhan tahun, kode yang hanya akan kelihatan kalau kamu tahu apa yang kamu cari. Orang-orang itu juga teknisi. Juga lapangan. Juga tidak pernah menulis nama lengkap satu sama lain, hanya inisial.

Ada jaringan kecil orang yang sudah menjaga rahasia ini selama ratusan tahun, berpindah dari satu generasi ke generasi berikut bukan melalui dokumen resmi atau organisasi formal, tapi melalui cara yang lebih tua dari itu: melalui seseorang yang mempercayai seseorang yang lain.

Dan getaran dua puluh dua jam itu, yang Nenek Aris pertama kali catat di titik T-14 tiga puluh dua tahun lalu, ternyata sudah ada dalam catatan paling awal yang bisa ia temukan, ditulis oleh seorang insinyur bernama inisial T.V. lebih dari dua ratus tahun lalu, dengan kalimat yang sama persis:

T.V. Sovi sudah menduganya sejak pertama kali ia membaca inisial itu di jurnal nenek. Teodan Veth, nama yang ada di log yang mereka baca di prolog kehidupan mereka sendiri, meski tentu saja tidak ada dari mereka yang menyebutnya begitu.

Pendiri ngarai itu adalah pendiri rahasia ini juga.

Rapat pertama yang benar-benar serius terjadi di bawah silo nomor tiga.

Bukan di pohon Lumen karena pohon Lumen terlalu terbuka, terlalu bisa dilihat dari jalan. Bawah silo punya atap baja yang rendah dan tiga dinding penuh dan satu sisi terbuka ke ladang kosong, cukup privat, cukup jauh dari telinga siapapun, dan Rael tahu persis jam berapa ayahnya biasanya di sisi lain ladang.

Mereka duduk di tanah berdebu dengan peta dibentangkan di antara mereka, ditahan di sudut-sudutnya oleh batu, satu lentera kecil menyala di tengah karena sore itu mendung dan cahaya tidak cukup.

"Kita harus pergi ke sana," kata Rael.

Sovi tidak langsung menjawab. Ini bukan karena ia tidak setuju, ia sudah tahu sejak hari pertama membuka koper bahwa pernyataan itu pada akhirnya akan diucapkan, dan ia sudah tahu sejak hari yang sama bahwa pada akhirnya ia tidak akan menolaknya. Tapi ada proses yang perlu dilalui antara mengetahui sesuatu dan mengucapkannya, dan Sovi menghormati proses itu.

"Ngarai Veth," katanya akhirnya. Bukan pertanyaan. Konfirmasi.

"Koloni Satu," kata Rael. "Koordinat ada di peta. Kita tahu arahnya. Kita tahu jaraknya, kira-kira."

"Kira-kira empat ratus kilometer selatan Garven," kata Sovi. "Melewati Hutan Lumenar, Rawa Merah, dan Dataran Tinggi Veth sebelum turun ke ngarai. Medan yang belum pernah kita lalui. Tidak ada jalan, tidak ada sinyal komm setelah kilometer delapan puluh, tidak ada stasiun pemantau."

"Itu artinya tidak ada yang bisa lacak kita."

"Itu artinya tidak ada yang bisa bantu kita kalau ada masalah."

Rael terdiam. Sovi melanjutkan.

"Aku tidak bilang tidak mau pergi. Aku bilang kita perlu siap dengan benar."

Rael menatapnya. Ada sesuatu di matanya yang bergerak, bukan lega, tapi semacam penyesuaian, seperti seseorang yang sudah bersiap untuk berdebat dan tiba-tiba tidak jadi perlu. "Kamu mau pergi."

"Aku mau tahu apa yang ada di sana. Itu beda dengan mau pergi, lebih besar."

Dunk angkat tangan. "Aku mau nanya satu hal dulu."

"Tanya," kata Sovi.

"Kita mau naik apa?"

Sunyi sebentar. Pertanyaan yang tepat di waktu yang tepat, seperti cara Dunk melakukan hal-hal kadang-kadang, datang terlambat ke percakapan tapi membawa sesuatu yang lebih penting dari semua yang sudah dibicarakan.

Rael dan Sovi saling pandang.

"Glider," kata Rael.

"Glider siapa?"

Rael mengetuk dinding silo dengan buku jarinya. Di balik dinding ini, di garasi kecil yang menempel di sisi timur silo, ada glider tua milik ayahnya, model pertanian kelas menengah, usia dua belas tahun, kecepatan maksimum delapan puluh kilometer per jam tapi biasanya dijalankan di lima puluh karena ayah Rael tidak pernah terburu-buru ke mana pun.

"Glider Pak Konrad?" Dunk menatapnya. "Kamu mau minjem glider ayahmu tanpa bilang?"

"Aku mau pinjam glider ayahku tanpa bilang, ya."

"Itu namanya mencuri."

"Itu namanya meminjam sementara dengan niat mengembalikan."

"Itu definisi yang kamu buat sendiri."

"Semua definisi dibuat seseorang."

Sovi memotong sebelum debat ini bisa berkembang ke arah filsafat yang tidak produktif. "Glider ayah Rael ukuran dua orang. Kita tiga."

"Bisa tiga kalau tidak bawa banyak barang."

"Kita perlu bawa banyak barang."

"Tidak kalau kita efisien."

"Rael." Nada suara Sovi berubah ke mode yang Rael dan Dunk sudah hafal, bukan marah, tapi seperti seseorang yang sedang menahan diri untuk tidak menjelaskan sesuatu yang terlalu panjang dalam waktu yang terlalu singkat. "Kita berbicara tentang empat ratus kilometer melintasi medan yang tidak terpetakan. Minimal kita butuh: suplai air untuk empat hari, makanan untuk empat hari, alat pertolongan pertama, peralatan darurat, scanner, komunikator cadangan, dan tenda kalau glider tidak bisa dipakai berlindung. Itu bukan sedikit barang."

Rael mendengarkan semua itu. Lalu ia berkata, "Kita bisa atur."

Lihat selengkapnya