KOSMOS: DI BAWAH LANGIT

Dio Septian
Chapter #8

Terbang


Alarm Rael berbunyi pukul tiga empat puluh, dua puluh menit lebih awal dari yang mereka

rencanakan, karena Rael tidak percaya pada dirinya sendiri untuk tidak memencet tunda dua kali.

Ia duduk di tepi tempat tidur selama tiga detik dengan mata yang belum sepenuhnya berfungsi

dan rambut yang sudah tidak berbentuk sejak tengah malam. Lalu berdiri. Pakaian sudah disiapkan

tadi malam di kursi, celana lapangan, kemeja lengan panjang, jaket tipis berlapis yang ibunya beli

dua tahun lalu untuk perjalanan ke kota besar yang tidak pernah jadi pergi. Ia memakai semuanya

dalam gelap, hafal tempatnya.

Tas ransel di bawah tempat tidur. Ia menariknya pelan, roda kecil di bagian bawah tidak

berbunyi, Sovi yang pasang roda itu minggu lalu dengan alasan yang saat itu Rael tidak tanya tapi

sekarang ia sangat syukuri.

Peta bunyi rumah diaktifkan dari memori: anak tangga kedua dari atas, papan depan kamar

mandi, sudut dekat dapur. Ia turun dalam kegelapan penuh, tidak menyalakan lampu apapun, satu

tangan di dinding sebagai pemandu. Di bawah, dapur sunyi, kursi tempat ibunya duduk tadi malam

sudah kosong, cangkir sudah dicuci, meja bersih seperti tidak pernah ada percakapan di sana.

Ia berdiri sebentar di dapur itu.

Lalu ia membuka pintu belakang, selalu dibuka dari bagian bawah dulu supaya tidak berderit,

dan melangkah ke halaman yang masih penuh embun.

Udara di luar dingin dengan cara yang berbeda dari dingin kamar ber-AC, ini dingin hidup,

dingin yang punya bau tanah dan rumput basah dan sesuatu yang hanya ada di antara malam dan

pagi sebelum keduanya memutuskan mana yang menang. Langit masih gelap penuh tapi di timur, di

batas cakrawala, ada sesuatu yang lebih gelap dari gelap, batas hitam bumi terhadap hitam langit

yang hanya terlihat kalau kamu tahu cara melihatnya.

Sovi sudah ada di depan garasi.

Tentu saja.

Ia berdiri dengan tas ranselnya yang rapi, scanner di sabuk pinggang, rambut dikepang dua

seperti biasa tapi lebih rapat dari biasanya, kepangan perjalanan, Rael menyebutnya dalam hati. Di

tangannya ada lentera kecil yang nyalanya ditutup setengah dengan telapak tangan supaya tidak

terlihat dari jalan.

"Kamu terlambat dua menit," bisiknya.

"Aku dua puluh menit lebih awal dari jadwal."

"Dari jadwal kamu. Aku sudah di sini dua puluh lima menit."Rael tidak punya respons untuk itu. Ia membuka garasi dengan kunci yang sudah ia duplikasi

tiga minggu lalu, satu kunci ekstra yang ia buat di toko peralatan dengan alasan cadangan yang

tidak ada yang tanyakan karena di desa pertanian membuat kunci duplikat adalah hal sepraktis

membeli baterai.

Glider itu duduk dalam gelap garasi seperti selalu, diam, sedikit berminyak, berbau metal dan

bahan bakar lama. Model pertanian Vander-12, bodi abu-abu kehijauan yang di beberapa bagian

sudah pudar, dua kursi depan dan bak belakang yang biasa dipakai mengangkut hasil panen atau,

dalam keadaan darurat, satu orang yang tidak keberatan duduk di antara karung-karung. Sayapnya

sudah terlipat ke dalam mode parkir.

"Muat tiga orang?" tanya Sovi, sudah tahu jawabannya, menanyakannya sebagai konfirmasi.

"Kalau Dunk tidak terlalu banyak bergerak."

"Dunk selalu terlalu banyak bergerak."

"Maka kita pasang harapan."

Dunk datang empat menit kemudian, napas sedikit terengah bukan karena berlari tapi karena tas

ranselnya yang berat membuat setiap langkah membutuhkan sedikit lebih banyak usaha dari

biasanya. Ia membawa kantong tambahan di tangan kiri yang isinya, Rael tidak perlu menebak,

makanan.

"Kantong apa itu?" bisik Sovi.

"Sarapan."

"Kita sudah packing sarapan di dalam tas."

"Ini sarapan sebelum sarapan."

Sovi menatap kantong itu. Menatap Dunk. Memutuskan ini bukan pertempuran yang layak

diambil pukul empat pagi dan berbalik ke glider.

Rael menghidupkan mesin pada pukul empat tepat.

Protokolnya: nyalakan sistem dulu tanpa mengaktifkan mesin utama, biarkan panel

menghangatkan tiga puluh detik, periksa level bahan bakar, penuh, ia sudah isi semalam dengan

alasan pemeliharaan rutin, periksa sayap, periksa sensor navigasi yang sekarang dalam mode

manual karena koordinat tujuan tidak bisa dimasukkan lewat sistem otomatis. Semua hijau. Ia

aktifkan mesin.

Dengung rendah mengisi garasi.

Rael menahan napas. Di luar, rumah masih gelap. Tidak ada jendela yang menyala. Angin dari

timur, arahnya bagus, akan membawa suara mesin ke ladang bukan ke kamar tidur.

Sayap terbuka perlahan, hidraulik tua bekerja dengan suara yang lebih keras dari yang ia

harapkan tapi tidak keras dari yang ia takutkan. Glider bergerak maju keluar garasi dengankecepatan yang lebih lambat dari manusia berjalan, Rael mengarahkan dengan tangan sampai badan

glider sepenuhnya di luar, lalu ia hentikan sebentar.

Sovi dan Dunk sudah di dalam, Sovi di kursi kiri depan dengan peta di pangkuan dan scanner

aktif, Dunk di bak belakang dengan cara duduk orang yang sedang mencoba mengambil ruang

sesedikit mungkin dan tidak sepenuhnya berhasil.

"Siap?" tanya Rael.

"Siap," kata Sovi.

"Tidak," kata Dunk. "Tapi ayo."

Rael menarik tuas daya. Mesin berubah dari dengung ke bunyi yang lebih dalam, lebih penuh,

getarannya naik melalui kursi dan telapak tangan dan tulang dada dengan cara yang berbeda dari

semua kali sebelumnya ia menyalakan glider ini untuk keperluan ladang. Mungkin karena ia tahu

kali ini berbeda. Mungkin mesin tua itu pun tahu.

Glider terangkat.

Dua meter. Lima. Sepuluh.

Garasi mengecil di bawah. Rumah keluarga Vander mengecil, atap panel surya yang perlu

diganti, jendela dapur yang selalu berasap di pagi hari, silo nomor tiga yang puncaknya sudah dua

tahun menjadi pos pengamatan Rael untuk menghitung kapal. Semuanya mengecil dengan

kecepatan yang terasa sekaligus terlalu cepat dan tidak cukup cepat.

Rael tidak melihat ke bawah terlalu lama.

Ia arahkan glider ke selatan dan naikkan ketinggian, dua ratus meter, tiga ratus, sampai kota

Garven di bawah mereka menjadi pola lampu oranye yang tersebar di atas ladang gelap, seperti

konstelasi yang jatuh ke bumi dan memutuskan tinggal di sana.

"Koordinat terkunci secara manual," lapor Sovi tanpa diminta. "Kita akan keluar zona navigasi

resmi di kilometer delapan puluh tiga. Setelah itu kita navigasi dari peta."

"Berapa lama ke ngarai?"

"Kalau cuaca baik dan tidak ada hambatan, enam sampai delapan jam terbang. Kita harus

mendarat dan istirahat di tengah, glider ini tidak dirancang untuk terbang lebih dari empat jam non-

stop dalam kondisi optimal."

"Kondisi optimal artinya?"

"Tanpa tiga penumpang dan muatan berlebih."

"Jadi kita hitung dari sisi yang lebih pesimis."

"Selalu."

Dari belakang, suara Dunk: "Bisa kita naikkan pemanas sedikit?"Fajar datang dari timur seperti yang dijanjikan kalender, pelan, tidak dramatik, tidak ada garis

merah dramatis yang meledak di cakrawala seperti dalam gambar-gambar.

Hanya amber yang semakin terang, bertahap, seperti seseorang yang menyalakan lampu dari

jauh dan memutar redup ke terang dengan sabar. Langit berubah dari hitam ke biru tua ke biru

keabuan ke kuning pucat ke amber penuh, dan ketika akhirnya matahari Kepler-442 muncul di ufuk

Lihat selengkapnya