Alarm Rael berbunyi pukul tiga empat puluh, dua puluh menit lebih awal dari yang mereka
rencanakan, karena Rael tidak percaya pada dirinya sendiri untuk tidak memencet tunda dua kali.
Ia duduk di tepi tempat tidur selama tiga detik dengan mata yang belum sepenuhnya berfungsi
dan rambut yang sudah tidak berbentuk sejak tengah malam. Lalu berdiri. Pakaian sudah disiapkan
tadi malam di kursi, celana lapangan, kemeja lengan panjang, jaket tipis berlapis yang ibunya beli
dua tahun lalu untuk perjalanan ke kota besar yang tidak pernah jadi pergi. Ia memakai semuanya
dalam gelap, hafal tempatnya.
Tas ransel di bawah tempat tidur. Ia menariknya pelan, roda kecil di bagian bawah tidak
berbunyi, Sovi yang pasang roda itu minggu lalu dengan alasan yang saat itu Rael tidak tanya tapi
sekarang ia sangat syukuri.
Peta bunyi rumah diaktifkan dari memori: anak tangga kedua dari atas, papan depan kamar
mandi, sudut dekat dapur. Ia turun dalam kegelapan penuh, tidak menyalakan lampu apapun, satu
tangan di dinding sebagai pemandu. Di bawah, dapur sunyi, kursi tempat ibunya duduk tadi malam
sudah kosong, cangkir sudah dicuci, meja bersih seperti tidak pernah ada percakapan di sana.
Ia berdiri sebentar di dapur itu.
Lalu ia membuka pintu belakang, selalu dibuka dari bagian bawah dulu supaya tidak berderit,
dan melangkah ke halaman yang masih penuh embun.
Udara di luar dingin dengan cara yang berbeda dari dingin kamar ber-AC, ini dingin hidup,
dingin yang punya bau tanah dan rumput basah dan sesuatu yang hanya ada di antara malam dan
pagi sebelum keduanya memutuskan mana yang menang. Langit masih gelap penuh tapi di timur, di
batas cakrawala, ada sesuatu yang lebih gelap dari gelap, batas hitam bumi terhadap hitam langit
yang hanya terlihat kalau kamu tahu cara melihatnya.
Sovi sudah ada di depan garasi.
Tentu saja.
Ia berdiri dengan tas ranselnya yang rapi, scanner di sabuk pinggang, rambut dikepang dua
seperti biasa tapi lebih rapat dari biasanya, kepangan perjalanan, Rael menyebutnya dalam hati. Di
tangannya ada lentera kecil yang nyalanya ditutup setengah dengan telapak tangan supaya tidak
terlihat dari jalan.
"Kamu terlambat dua menit," bisiknya.
"Aku dua puluh menit lebih awal dari jadwal."
"Dari jadwal kamu. Aku sudah di sini dua puluh lima menit."Rael tidak punya respons untuk itu. Ia membuka garasi dengan kunci yang sudah ia duplikasi
tiga minggu lalu, satu kunci ekstra yang ia buat di toko peralatan dengan alasan cadangan yang
tidak ada yang tanyakan karena di desa pertanian membuat kunci duplikat adalah hal sepraktis
membeli baterai.
Glider itu duduk dalam gelap garasi seperti selalu, diam, sedikit berminyak, berbau metal dan
bahan bakar lama. Model pertanian Vander-12, bodi abu-abu kehijauan yang di beberapa bagian
sudah pudar, dua kursi depan dan bak belakang yang biasa dipakai mengangkut hasil panen atau,
dalam keadaan darurat, satu orang yang tidak keberatan duduk di antara karung-karung. Sayapnya
sudah terlipat ke dalam mode parkir.
"Muat tiga orang?" tanya Sovi, sudah tahu jawabannya, menanyakannya sebagai konfirmasi.
"Kalau Dunk tidak terlalu banyak bergerak."
"Dunk selalu terlalu banyak bergerak."
"Maka kita pasang harapan."
Dunk datang empat menit kemudian, napas sedikit terengah bukan karena berlari tapi karena tas
ranselnya yang berat membuat setiap langkah membutuhkan sedikit lebih banyak usaha dari
biasanya. Ia membawa kantong tambahan di tangan kiri yang isinya, Rael tidak perlu menebak,
makanan.
"Kantong apa itu?" bisik Sovi.
"Sarapan."
"Kita sudah packing sarapan di dalam tas."
"Ini sarapan sebelum sarapan."
Sovi menatap kantong itu. Menatap Dunk. Memutuskan ini bukan pertempuran yang layak
diambil pukul empat pagi dan berbalik ke glider.
Rael menghidupkan mesin pada pukul empat tepat.
Protokolnya: nyalakan sistem dulu tanpa mengaktifkan mesin utama, biarkan panel
menghangatkan tiga puluh detik, periksa level bahan bakar, penuh, ia sudah isi semalam dengan
alasan pemeliharaan rutin, periksa sayap, periksa sensor navigasi yang sekarang dalam mode
manual karena koordinat tujuan tidak bisa dimasukkan lewat sistem otomatis. Semua hijau. Ia
aktifkan mesin.
Dengung rendah mengisi garasi.
Rael menahan napas. Di luar, rumah masih gelap. Tidak ada jendela yang menyala. Angin dari
timur, arahnya bagus, akan membawa suara mesin ke ladang bukan ke kamar tidur.
Sayap terbuka perlahan, hidraulik tua bekerja dengan suara yang lebih keras dari yang ia
harapkan tapi tidak keras dari yang ia takutkan. Glider bergerak maju keluar garasi dengankecepatan yang lebih lambat dari manusia berjalan, Rael mengarahkan dengan tangan sampai badan
glider sepenuhnya di luar, lalu ia hentikan sebentar.
Sovi dan Dunk sudah di dalam, Sovi di kursi kiri depan dengan peta di pangkuan dan scanner
aktif, Dunk di bak belakang dengan cara duduk orang yang sedang mencoba mengambil ruang
sesedikit mungkin dan tidak sepenuhnya berhasil.
"Siap?" tanya Rael.
"Siap," kata Sovi.
"Tidak," kata Dunk. "Tapi ayo."
Rael menarik tuas daya. Mesin berubah dari dengung ke bunyi yang lebih dalam, lebih penuh,
getarannya naik melalui kursi dan telapak tangan dan tulang dada dengan cara yang berbeda dari
semua kali sebelumnya ia menyalakan glider ini untuk keperluan ladang. Mungkin karena ia tahu
kali ini berbeda. Mungkin mesin tua itu pun tahu.
Glider terangkat.
Dua meter. Lima. Sepuluh.
Garasi mengecil di bawah. Rumah keluarga Vander mengecil, atap panel surya yang perlu
diganti, jendela dapur yang selalu berasap di pagi hari, silo nomor tiga yang puncaknya sudah dua
tahun menjadi pos pengamatan Rael untuk menghitung kapal. Semuanya mengecil dengan
kecepatan yang terasa sekaligus terlalu cepat dan tidak cukup cepat.
Rael tidak melihat ke bawah terlalu lama.
Ia arahkan glider ke selatan dan naikkan ketinggian, dua ratus meter, tiga ratus, sampai kota
Garven di bawah mereka menjadi pola lampu oranye yang tersebar di atas ladang gelap, seperti
konstelasi yang jatuh ke bumi dan memutuskan tinggal di sana.
"Koordinat terkunci secara manual," lapor Sovi tanpa diminta. "Kita akan keluar zona navigasi
resmi di kilometer delapan puluh tiga. Setelah itu kita navigasi dari peta."
"Berapa lama ke ngarai?"
"Kalau cuaca baik dan tidak ada hambatan, enam sampai delapan jam terbang. Kita harus
mendarat dan istirahat di tengah, glider ini tidak dirancang untuk terbang lebih dari empat jam non-
stop dalam kondisi optimal."
"Kondisi optimal artinya?"
"Tanpa tiga penumpang dan muatan berlebih."
"Jadi kita hitung dari sisi yang lebih pesimis."
"Selalu."
Dari belakang, suara Dunk: "Bisa kita naikkan pemanas sedikit?"Fajar datang dari timur seperti yang dijanjikan kalender, pelan, tidak dramatik, tidak ada garis
merah dramatis yang meledak di cakrawala seperti dalam gambar-gambar.
Hanya amber yang semakin terang, bertahap, seperti seseorang yang menyalakan lampu dari
jauh dan memutar redup ke terang dengan sabar. Langit berubah dari hitam ke biru tua ke biru
keabuan ke kuning pucat ke amber penuh, dan ketika akhirnya matahari Kepler-442 muncul di ufuk