Mereka terbang lagi pukul dua belas lewat lima belas.
Istirahat empat puluh lima menit di padang itu lebih pendek dari yang Sovi rencanakan tapi lebih panjang dari yang Rael inginkan, kompromis yang seperti kebanyakan kompromis di antara mereka, tidak memuaskan siapapun sepenuhnya tapi cukup bisa diterima semua orang. Dunk tidak berkomentar karena sedang sibuk memperhatikan jenis-jenis rumput yang tumbuh di padang itu dengan konsentrasi yang tidak ada yang tanya kenapa tapi masing-masing dari mereka punya dugaan sendiri.
Lepas landas kedua lebih mulus dari yang pertama, Dunk sudah lebih siap, duduk lebih tegak, satu tangan tetap di pegangan tapi lebih santai, dan ketika glider mencapai dua ratus meter ia tidak minta ketinggian diturunkan. Kemajuan.
Pemandangan berubah seiring mereka terbang lebih jauh ke selatan.
Hutan Lumenar yang dari tadi membayangi sisi kiri mereka semakin tebal, semakin tinggi, pohon-pohonnya yang dari atas terlihat sebagai titik-titik hijau tua kini terlihat lebih jelas, batang-batang yang tidak ada di buku flora standar Ager Nova, terlalu lebar untuk satu orang memeluk, dengan akar-akar yang muncul dari tanah seperti jari raksasa yang sedang menggenggam bumi dari bawah. Di antara batang-batang itu ada kegelapan yang berbeda dari kegelapan hutan biasa, lebih dalam, lebih hidup, seperti hutan ini punya ruang di dalamnya yang bukan sekadar kosong tapi menunggu.
Di kanan, dataran mulai naik.
Bukan naik dramatis, Ager Nova tidak punya pegunungan tinggi seperti planet-planet yang suka dipakai dalam poster wisata galaksi. Tapi ada dataran tinggi di selatan yang peta nenek Sovi tunjukkan dengan kontur yang rapat, dan glider sudah mulai merasakannya, angin berubah karakter, lebih berputar, lebih tidak bisa ditebak dari detik ke detik. Rael harus memegang kemudi lebih erat.
"Turbulensi akan lebih buruk semakin ke selatan," kata Sovi, tidak mengangkat matanya dari peta. "Ada lembah termal di antara dataran tinggi dan hutan. Perlu naik ketinggian dua ratus meter lagi untuk melewatinya."
"Oke."
"Dan pelankan dua puluh kilometer per jam."
"Kita sudah lambat."
"Lebih lambat lagi."
Rael menurut, meski dengan bunyi kecil di tenggorokan yang bukan tepat keluhan tapi jaraknya tidak jauh. Sovi tidak merespons bunyi itu karena sudah hafal artinya, bukan marah, hanya cara Rael mengekspresikan kepatuhan yang tidak ia pilih.
Dari belakang, Dunk: "Itu apa di bawah?"
Rael memiringkan glider sedikit. Di bawah, di antara batas hutan dan kaki dataran tinggi, ada sesuatu yang tidak cocok dengan semua yang ada di sekelilingnya, bukan warna yang salah, bukan bentuk yang aneh, tapi lebih seperti ketidakhadiran yang terasa ada: tanah yang terlalu rata di antara vegetasi yang tidak pernah tumbuh lurus, pola yang terlalu teratur untuk disebut kebetulan alam.
"Bekas jalan," kata Sovi setelah mengamati sebentar. Scanner di tangannya mengarah ke bawah, angka-angka bergerak. "Atau bekas landasan. Sudah lama, vegetasi sudah menutup, tapi komposisi tanahnya berbeda dari sekitarnya. Lebih padat. Lebih terkompresi."
"Buatan manusia?"
"Ya. Tapi bukan baru."
Mereka terbang di atasnya selama beberapa detik, garis itu memanjang ke arah selatan, ke dalam hutan, menghilang di bawah kanopi. Arahnya: konsisten dengan koordinat NV-7.
"Catat," kata Rael.
"Sudah," kata Sovi.
Mereka tidak berhenti. Ada sesuatu yang bilang bukan sekarang, bukan rasa takut tapi semacam tahu bahwa ini bukan bab yang perlu dibuka hari ini, ada babnya sendiri dan itu nanti. Mereka terbang terus, dan bekas jalan tua itu hilang di bawah mereka seperti kalimat di buku yang perlu dibaca lagi setelah bab selesai.
Satu jam kemudian, dunia berubah warna.
Ini bukan metafora. Atau bukan hanya metafora. Sovi yang pertama memperhatikannya, ahli scanner, peka terhadap detail, terlatih untuk mencatat perbedaan kecil sebelum otak memutuskan apakah perbedaan itu penting. Ia melihat ke bawah dan kemudian ke kiri dan kemudian mengerutkan dahi dengan cara yang membuat Rael bertanya tanpa kata.
"Tanaman di bawah," kata Sovi. "Jenisnya berubah."
Rael melirik ke bawah. Tadinya ia tidak memperhatikan karena sedang fokus mengelola turbulensi, tapi sekarang ia lihat apa yang Sovi maksud: vegetasi di bawah mereka bukan lagi jenis yang sama dengan setengah jam lalu. Daun-daunnya lebih besar, bentuknya lebih asimetris, dan warnanya, hijau masih, tapi ada nada lain di sana, sesuatu antara biru dan hijau yang tidak ada namanya dalam roda warna standar. Di beberapa bagian, di celah-celah antara pohon, tanah di bawah memantulkan cahaya dengan cara yang bukan sekadar pantulan biasa.
"Bioluminesensi," kata Sovi. "Tapi aktif di siang hari. Itu tidak biasa."
"Hutan Lumenar meluas sampai ke sini?"
"Menurut peta, tidak. Menurut yang aku lihat, ya." Sovi mencatat dengan cepat. "Ini di luar batas yang ada di peta mana pun. Wilayah yang secara resmi kosong."
Dunk berdiri sebentar di bak belakang, berdiri di glider yang sedang terbang adalah sesuatu yang tidak ada dalam daftar hal yang direkomendasikan Sovi tapi Dunk melakukannya sebelum ada yang bisa melarang, pegangan di kedua sisi dengan napas yang terkonsentrasi, mencondongkan badannya sedikit ke kiri untuk melihat ke bawah lebih baik.
"Duduk," kata Sovi tanpa menoleh.
"Sebentar."
"Duduk, Dunk."
Ia duduk. Tapi wajahnya ketika duduk kembali adalah wajah orang yang baru melihat sesuatu yang belum selesai ia proses. "Di bawah ada sesuatu yang bergerak."
"Angin."