Pagi kedua dimulai dengan embun yang lebih tebal dari kemarin dan suara yang sudah tidak ada.
Rael yang pertama keluar dari kemah, seperti selalu, dengan kebiasaan tubuh yang tidak bisa
membiarkan dirinya tidur lebih lama dari cahaya pertama meski semalam ia baru tertidur lewat
tengah malam. Udara di luar dingin dengan cara yang berbeda dari dingin kemarin, lebih basah,
lebih berat, seperti langit sudah turun beberapa meter selama malam dan belum naik kembali. Kabut
tipis menggantung setinggi lutut di atas tanah berbatu, bergerak pelan mengikuti angin yang belum
memutuskan arahnya.
Suara dari selatan sudah tidak ada.
Atau lebih tepatnya, sudah tidak bisa didengar. Rael berdiri di luar kemah selama beberapa
menit, benar-benar diam, mendengarkan dengan cara yang Dunk ajarkan tanpa sengaja semalam:
tidak mencoba menerjemahkan, hanya menerima. Tidak ada. Entah karena jarak masih terlalu jauh,
atau karena pagi hari bukan waktu suara itu terdengar, atau karena sesuatu yang lebih sederhana
dari itu, ia belum cukup dekat.
Sovi keluar dua puluh menit kemudian dengan rambut kepang yang lebih rapi dari yang
seharusnya mungkin untuk seseorang yang baru bangun di kemah lapangan, membawa dua kantong
air yang sudah ia isi dari filter portabel semalam sebelum tidur, dan langsung membuka peta di atas
kap glider yang masih berembun.
"Kita punya dua pilihan," katanya tanpa basa-basi, karena Sovi tidak pernah membuka hari
dengan basa-basi. "Terbang melewati Hutan Lumenar dari atas dan mendarat di sisi selatan dekat
pinggir dataran tinggi. Atau masuk dari tepi barat hutan dan jalan kaki melewatinya. Dari peta,
jaraknya tidak jauh berbeda secara horizontal, tapi jalan kaki lebih lambat."
"Kenapa tidak terbang saja?" tanya Rael.
Sovi menunjuk langit. Di atas mereka, kabut yang tadi setinggi lutut sudah mulai naik, bukan
turun, naik, bergerak ke atas dan bergabung dengan awan rendah yang semalam tidak ada. "Cuaca
di dataran tinggi bisa berubah cepat. Kalau awan itu turun lebih jauh saat kita terbang di atas
kanopi, kita tidak punya visibilitas. Dan kanopi hutan ini rapat, tidak ada tempat mendarat darurat
kalau mesin bermasalah."
"Jadi jalan kaki."
"Jalan kaki."
Dunk keluar dari kemah pada titik itu, rambut di satu sisi wajahnya mengembang ke arah yang
tidak ada angin yang bertanggung jawab, membawa serta selimut yang masih melilit di satubahunya. Ia membaca situasi dari ekspresi keduanya dengan cara yang sudah lama ia asah. "Kita
jalan kaki masuk hutan?"
"Ya."
Ia menatap massa hijau gelap yang dimulai lima ratus meter dari tempat mereka berdiri, pohon-
pohon yang dari sini terlihat jauh lebih besar dari yang terlihat dari atas glider kemarin, batang-
batangnya sebesar pelukan dua orang, akar-akar yang muncul dari tanah setinggi pinggang
membentuk labirin di lantai hutan.
"Oke," katanya. "Setelah sarapan."
Tidak ada yang membantah poin terakhir itu.
Hutan Lumenar di siang hari adalah sesuatu yang tidak ada persiapan yang cukup untuk
menghadapinya.
Bukan karena berbahaya, tidak ada yang menyerang mereka dalam dua puluh langkah pertama,
tidak ada jebakan, tidak ada suara aneh yang mengancam. Lebih karena Hutan Lumenar di siang
hari adalah sesuatu yang terlalu banyak untuk diproses sekaligus dan otak, yang terbiasa
mengkategorikan sebelum merasakan, tidak langsung tahu harus mulai dari mana.
Rael masuk pertama.
Langkah pertamanya melewati batas antara dataran terbuka dan naungan pohon terasa seperti
melangkahi ambang pintu, bukan secara fisik, meski suhu turun beberapa derajat seketika dan
cahaya berubah dari amber ke sesuatu yang lebih hijau dan lebih dalam. Lebih karena ada sesuatu
yang berbeda di udara di dalam sini, sesuatu yang tidak bisa dikuantifikasi dengan scanner meski
Sovi pasti akan mencoba. Seperti bau buku lama yang membawa kenangan yang bukan milikmu,
familiar dengan cara yang tidak punya penjelasan.
"Masuk," katanya kepada keduanya.
Sovi masuk dengan scanner aktif, matanya bergerak bergantian antara layar dan sekeliling. Dunk
masuk terakhir, dan berhenti tepat setelah melewati batas itu, kepala sedikit terangkat, mata
setengah tertutup.
"Baunya lain," katanya.
"Senyawa organik kompleks," kata Sovi tanpa menoleh. "Beberapa di antaranya tidak ada dalam
database. Mungkin feromon, mungkin metabolit dari sistem akar, mungkin, "
"Bukan itu yang aku maksud." Dunk membuka matanya penuh. "Maksudku baunya lain. Bukan
analisis. Hanya, lain."
Sovi berhenti sebentar. Menghirup. "Ya," katanya akhirnya, lebih pelan. "Lain."
Lantai hutan bukan tanah biasa, ada lapisan tebal sesuatu di atasnya, semacam lumut tapi bukan
lumut, lebih seperti karpet hidup yang menyerap suara langkah mereka sehingga berjalan di sini
terasa lebih senyap dari berjalan di ruangan berkayu. Akar-akar besar dari pohon-pohon raksasa disekitar mereka mencuat dan melengkung membentuk lorong dan ruang-ruang alami yang masing-
masing terasa seperti punya karakternya sendiri, satu yang lebih terang karena ada celah di kanopi,
satu yang lebih gelap dan lembab karena terlindungi dari segala sisi, satu yang berbau berbeda dari
yang lain karena ada sesuatu yang tumbuh di dinding akarnya yang tidak ada di tempat lain.
Dan di mana-mana, tersebar dengan proporsi yang tidak merata tapi tidak acak, ada cahaya.
Di siang hari, cahaya bioluminesensi itu tidak mendominasi, tidak seperti gambar-gambar hutan
bercahaya yang ada di buku-buku, tidak seperti yang mungkin mereka bayangkan. Lebih seperti
cahaya yang tahu bahwa siang bukan waktunya dan menyesuaikan diri, hadir tapi tidak
memaksakan, menyala di sudut-sudut akar dan di permukaan bawah daun-daun besar dan di
sepanjang serat-serat tipis yang menghubungkan satu pohon dengan pohon lainnya seperti benang
perak yang sangat sangat tipis.
"Serat itu apa?" tanya Rael, menunjuk tanpa menyentuh.
Sovi mendekat, scanner diarahkan. Angka-angka bergerak. "Miselium. Jaringan jamur. Tapi, " ia
mengamati lebih lama, "konduktivitasnya tidak normal. Miselium biasa tidak mengalirkan sinyal
elektrokimia secepat ini."
"Artinya?"
"Artinya pohon-pohon ini tidak hanya berbagi nutrisi melalui jaringan akar seperti hutan pada
umumnya." Sovi berdiri tegak. "Mereka berbagi informasi."
Rael menatap serat-serat tipis itu. Dari dekat, dalam cahaya hutan yang berlapis-lapis, ia bisa
melihat pulsa kecil yang bergerak sepanjang serat, sangat lambat, sangat samar, tapi ada. Seperti
kode. Seperti percakapan yang terlalu lambat untuk diikuti dalam waktu manusia tapi terlalu teratur
untuk disebut kebetulan.
"Ini bagian dari Echo?"
"Mungkin ujungnya," kata Sovi. "Atau antena-antennanya. Atau sistem saraf periferal, kalau kita
pakai analogi biologi."
"Kita berjalan di dalam sistem sarafnya."
"Dalam bahasa yang sangat kasar, ya."
Rael menghela napas pelan dan memandang ke depan, ke lorong di antara akar-akar raksasa
yang berlanjut ke dalam hutan yang semakin gelap dan semakin hidup semakin jauh dari tepi. "Kita
jalan."
Satu jam ke dalam hutan, Sovi sudah kehabisan kolom di halaman catatan pertama jurnalnya.
Ini bukan hal yang pernah terjadi sebelumnya dalam hidupnya. Sovi adalah orang yang mencatat
dengan efisien, tulisannya kecil dan padat dan tidak ada kata yang ditulis kalau bisa disingkat
menjadi simbol. Tapi hutan ini menghasilkan data lebih cepat dari kemampuannya untuk
memprosesnya, dan untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasakan sesuatu yang orang lainmungkin sebut kewalahan tapi yang bagi Sovi terasa lebih seperti berlari di belakang sesuatu yang