Mereka terbang selama empat puluh menit setelah meninggalkan gua sebelum glider mulai bermasalah.
Bukan masalah mesin, mesin baik-baik saja, suaranya bersih, panel semua hijau. Masalahnya adalah medan di bawah mereka berubah dengan cara yang tidak ada di peta mana pun yang Sovi punya. Dataran berbatu yang seharusnya berlanjut beberapa puluh kilometer sebelum bertemu formasi dataran tinggi ternyata berakhir lebih awal dari perkiraan, digantikan oleh sesuatu yang dari ketinggian dua ratus meter terlihat seperti permadani berwarna merah gelap yang membentang ke kiri dan kanan sejauh mata bisa mengikuti.
Rael menurunkan ketinggian tanpa diminta siapapun karena penasaran adalah refleks yang tidak bisa ia matikan. Seratus lima puluh meter. Seratus. Tujuh puluh.
Dari tujuh puluh meter, permadani merah itu memperlihatkan dirinya lebih jelas: ini bukan tanah biasa. Ini lahan basah, rawa yang tanahnya kaya mineral merah, ditumbuhi tanaman-tanaman rendah yang warnanya mengikuti substrat di bawahnya, jingga ke merah ke merah gelap ke hampir hitam di beberapa bagian yang paling basah. Di permukaannya, di antara gumpalan-gumpalan tanaman setinggi lutut, ada genangan-genangan air yang warnanya tidak bening tapi merah kecokelatan, kaya mineral, tidak transparan. Dan di antara genangan itu, sesekali, ada semburan kecil gas yang naik ke permukaan dalam gelembung-gelembung lembut dan menghilang.
"Itu apa?" tanya Dunk, menunjuk ke salah satu semburan gas.
Sovi sudah mengangkat scanner. "Hidrogen sulfida. Sebagian metana. Konsentrasi rendah, tidak berbahaya untuk waktu singkat tapi tidak nyaman, dan akumulasi bisa bermasalah kalau kita terlalu lama di area tertutup."
"Kita tidak akan di area tertutup," kata Rael.
"Kita akan di tengah rawa itu."
"Itu tidak tertutup."
"Tergantung anginnya."
Rael tidak menjawab karena ia sedang sibuk mencari tempat mendarat, dan semakin ia cari, semakin jelas satu masalah yang tidak ia antisipasi: tidak ada tempat mendarat. Ke kiri: rawa sampai ke tepi hutan yang tidak bisa ditembus glider. Ke kanan: rawa berlanjut ke formasi batu yang terlalu curam untuk mendarat. Ke depan: rawa terus.
"Peta bilang apa?" tanyanya.
"Peta tidak bilang apa-apa." Sovi mengetuk area kosong di peta nenek yang seharusnya menunjukkan rawa ini. "Di sini hanya kontur dataran. Tidak ada tanda rawa, tidak ada tanda badan air, tidak ada tanda apa pun."
"Peta ini tiga ratus tahun tua."
"Lebih."
"Jadi rawa ini tidak ada tiga ratus tahun lalu."
"Atau ada tapi tidak dipetakan." Sovi menghitung. "Atau berkembang. Rawa tumbuh kalau sumber airnya bertambah, dan sumber air bawah tanah di area ini, berdasarkan data termal yang aku kumpulkan sejak kemarin, lebih aktif dari rata-rata. Mungkin jaringan di bawah kita yang mendorongnya."
"Echo yang bikin rawa ini?"
"Tidak sengaja, mungkin. Sebagai efek samping dari aktivitas termal bawah tanahnya." Sovi menatap hamparan merah di bawah. "Atau sengaja. Aku belum cukup tahu untuk bedakan."
Rael mengarahkan glider ke sisi timur mencari celah. Tidak ada. Sisi barat. Tidak ada. Ia menghela napas dengan cara yang mengumumkan keputusan sebelum kata-katanya keluar. "Kita harus jalan kaki."
"Ya."
"Melewati rawa itu."
"Ya."
"Sambil jaga napas karena gas."
"Gas konsentrasi rendah. Masker filter akan cukup."
"Kita punya masker filter?"
Sovi mengeluarkan tiga masker tipis dari kompartemen kecil di bawah kursi glider yang selama ini tidak pernah Rael perhatikan. "Standar peralatan darurat pertanian. Ayahmu yang simpan di sini."
Rael menatap masker itu. Lalu menatap Sovi. "Kamu tahu itu ada di sana dari kapan?"
"Dari pertama kali aku periksa glider ini tiga minggu lalu."
"Dan tidak bilang."
"Kamu tidak tanya."
Dari belakang, Dunk: "Jadi kita mendarat di mana?"
Sovi menunjuk ke satu-satunya titik yang dari atas terlihat sedikit lebih padat dan sedikit lebih kering dari sekitarnya, tonjolan batu kecil di tepi barat rawa, tidak ideal, tidak rata, tapi cukup solid untuk roda glider. "Di sana."
Rael mengarahkan ke sana tanpa berdebat. Ada momen-momen tertentu di mana ia belajar bahwa menurut lebih cepat adalah hal paling efisien yang bisa ia lakukan.
Pendaratan itu tidak mulus tapi berhasil.
Roda kanan glider mendarat di tepi tonjolan batu dan tergelincir dua puluh sentimeter ke arah rawa sebelum Rael menarik rem dan keseluruhannya berhenti dengan posisi yang tidak akan ada foto bagusnya. Tapi berhenti. Di atas batu. Tidak di lumpur.
"Bagus," kata Dunk dengan nada yang tulus.
"Itu bukan pendaratan yang bagus," kata Rael.
"Kamu tidak jatuh ke rawa. Itu bagus."
Mereka turun. Udara di luar langsung berbeda dari udara dalam glider, lebih berat, lebih basah, ada lapisan tipis bau yang Dunk deskripsikan sebagai mirip telur tapi lebih dalam dan Sovi deskripsikan sebagai kandungan sulfur organik 0.3 ppm di bawah ambang batas berbahaya. Keduanya akurat dari perspektif yang berbeda.
Mereka pasang masker. Kir, yang tidak punya masker karena tidak ada yang memikirkan ukuran masker untuk makhluk sebesar kepalan tangan, menyelip masuk ke kerah jaket Dunk dan mengintip keluar dari sana, posisi yang rupanya ia anggap sebagai protokol standar menghadapi udara tidak menyenangkan.
"Berapa jauh kita harus melewati rawa ini?" tanya Rael, suaranya sedikit teredam masker.
Sovi menatap scanner lalu peta lalu scanner lagi. "Kalau peta ini masih relevan untuk garis besarnya, sekitar tiga kilometer. Mungkin empat kalau harus menghindari bagian yang terlalu dalam."
"Tiga jam."
"Mungkin lebih. Belum pernah jalan di rawa, tidak tahu kecepatan rata-rata yang realistis."
Rael menatap hamparan rawa yang membentang ke depan. Tanah merahnya tidak sepenuhnya padat, ada bagian yang terlihat lebih keras, lebih bisa diandalkan, dan ada bagian yang permukaannya bergoyang sedikit kalau dilihat dari sudut yang tepat, tanda bahwa di bawahnya lebih cair dari yang terlihat.
"Aku yang depan," katanya, sudah melangkah ke depan.
"Tunggu."