Hari kelima dimulai dengan cara terbaik yang bisa dimulai oleh hari mana pun: dingin yang bersih, langit tanpa awan, dan angin dari utara yang artinya mendorong bukan melawan.
Rael menghidupkan mesin sebelum fajar. Kebiasaan yang sudah terbentuk sejak hari pertama, ada sesuatu tentang pagi yang masih gelap yang membuat ia lebih berkonsentrasi dari biasanya, seperti gelap menghilangkan semua kebisingan latar dan menyisakan hanya apa yang perlu. Di ladang ayahnya dulu, pagi gelap adalah waktu terbaik untuk memeriksa mesin sebelum hari mulai menuntut hal-hal lain. Di sini tidak berbeda.
Sovi sudah di kursi sebelumnya. Kali ini ia yang paling diam dari tiga orang, jurnalnya terbuka di pangkuannya tapi penanya tidak bergerak, matanya di luar jendela glider menatap tepi rawa yang di kegelapan hanya terlihat sebagai massa gelap yang berbau mineral.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Rael pelan, karena pagi ini Sovi terlihat berbeda dari biasanya, bukan sedih, bukan takut, tapi ada sesuatu yang lebih serius dari serius biasanya.
"Memikirkan tabung-tabung itu," kata Sovi tanpa menoleh.
"Malam tadi?"
"Sebagian malam. Aku tidak bisa baca isinya tanpa reader yang tepat. Tapi hanya dari beratnya, ini padat. Ada banyak yang tersimpan di dalamnya."
"Mungkin sama dengan yang nenek kamu punya."
"Mungkin berbeda. Mungkin lebih tua. Atau lebih baru." Sovi akhirnya menulis sesuatu di jurnalnya, satu kalimat pendek yang Rael tidak bisa baca dari sudutnya. "Aku mulai berpikir kita membawa pulang lebih banyak dari yang kita pergi untuk cari."
"Itu bagus."
"Itu juga tanggung jawab."
Rael tidak langsung menjawab. Ia menghidupkan mesin, menunggu panel menghangatkan, memeriksa sayap dan sensor dengan urutan yang sudah menjadi ritual. Tanggung jawab adalah kata yang tidak sering ia pakai dan tidak sering ia pikirkan, bukan karena ia tidak peduli, tapi karena selama ini tanggung jawab selalu datang dalam bentuk yang konkret dan terukur: pompa yang harus dicek, ladang yang harus disiram, glider yang harus dikembalikan sebelum ayahnya tahu. Bentuk-bentuk tanggung jawab yang ada batasnya dan ada selesainya.
Yang Sovi bicarakan terasa berbeda. Tidak ada batasnya yang jelas dan tidak ada selesainya yang terlihat dari sini.
"Kita hadapi itu nanti," kata Rael akhirnya. Bukan untuk menghindari, tapi karena ini yang paling jujur yang bisa ia katakan sekarang.
"Ya," kata Sovi. "Nanti."
Dunk masuk ke bak belakang dengan roti lapis di satu tangan dan Kir di pundak, ekspresinya cerah dengan cara yang tidak masuk akal untuk pagi buta yang belum ada cahayanya, dan berkata, "Kita berangkat?"
"Berangkat," kata Rael, dan menaikkan glider ke langit.
Padang itu muncul tiga puluh menit setelah mereka melewati sisa hutan terakhir. Rael melihatnya pertama dari udara dan tidak langsung mengerti apa yang dilihatnya karena tidak ada referensi di kepalanya untuk membandingkan. Bukan ladang, ladang punya pola, punya baris, punya tanda-tanda manusia di dalamnya. Bukan padang rumput biasa, tidak ada warna hijau yang seragam, tidak ada ketinggian yang konsisten. Ini sesuatu di antaranya: terbuka, sangat lebar, dengan permukaan yang dari atas terlihat bergelombang sangat halus seperti kulit yang bernapas, ditumbuhi tanaman pendek yang warnanya berganti-ganti antara abu keperakan dan hijau keabu-abuan tergantung sudut cahaya.
Dan di bawah itu, di bawah permukaan yang terlihat biasa itu, ada sesuatu yang Rael rasakan sebelum Sovi mengatakannya.
Getaran.
Bukan getaran mesin, mesin glider sudah ia hafal frekuensinya sampai bisa membedakan kalau ada sesuatu yang bergeser satu milimeter. Ini berbeda, lebih dalam, seperti frekuensi yang datang dari bawah dan naik melalui rangka glider dan kursi dan tulangnya sendiri tanpa permisi. Frekuensi yang tidak bisa didengar langsung tapi yang tubuh mendeteksi dengan cara yang tidak ada namanya di anatomi standar.
"Kamu rasakan itu?" tanyanya.
"Ya," kata Sovi, sudah di scanner. "Aktivitas akustik bawah tanah. Lebih kuat dari sebelumnya, hampir tiga kali lipat pembacaan di gua kemarin."
"Kita lebih dekat."
"Jauh lebih dekat." Sovi menoleh ke jendela kiri. "Ngarai Veth seharusnya terlihat dari sini kalau kita turun ke ketinggian yang lebih rendah."
Rael menurunkan ketinggian tanpa diminta lebih. Seratus meter. Delapan puluh. Enam puluh.
Dan di sana, di cakrawala selatan yang selama lima hari ini selalu jadi batas pandang, selalu jadi yang di ujung, untuk pertama kalinya Ngarai Veth terlihat bukan sebagai garis gelap di kejauhan tapi sebagai apa adanya.
Rael menarik tuas perlambat tanpa pikir.
Tidak ada yang menegurnya karena Sovi dan Dunk melakukan hal yang sama secara mental, diam seketika, menghadapkan perhatian penuh ke depan, ke selatan, ke sesuatu yang selama ini hanya ada di peta dan cerita dan imaginasi dan sekarang ada di sana di bawah langit amber yang sama dengan langit di atas desa Garven.
Ngarai itu dalam. Lebih dalam dari yang perkiraan mana pun bisa benar-benar menyiapkan seseorang untuk melihatnya. Dari ketinggian ini, tepinya yang menjorok ke depan masih lebih tinggi dari posisi glider mereka, dan dasarnya tidak terlihat, bukan karena terlalu jauh, tapi karena ada kabut tipis yang mengisi ruang di antara dinding-dindingnya seperti isi yang melayang, keputihan, tenang.
Dinding-dindingnya berkilau.