Pagi keenam dimulai dengan Rael yang sudah berdiri di luar kemah sebelum ada yang lain bangun, menatap ke selatan, dengan ekspresi yang Sovi kenali dari sebelum ia membuka matanya penuh karena suara langkahnya di luar sudah cukup untuk mendeskripsikan isinya.
Sovi berbaring sebentar dan mendengarkan.
Langkah Rael: pendek, berulang, tidak ke mana-mana. Langkah orang yang sudah memutuskan sesuatu dan sedang menunggu orang lain bangun supaya bisa mengumumkannya. Ia sudah tahu apa yang akan diumumkan karena sudah tahu Rael cukup lama untuk bisa membaca langkahnya seperti orang lain membaca ekspresi wajah.
Ia duduk tegak. Membuka jurnal. Menulis tanggal. Lalu menutup jurnal lagi karena tidak ada yang bisa dituliskan sebelum ia tahu apa yang akan terjadi pagi ini.
Dunk masih tidur di sebelah kirinya dengan cara tidur Dunk yang tidak pernah berubah sejak mereka pertama kali berkemah bersama di halaman sekolah umur sepuluh tahun: miring ke kanan, satu tangan di bawah pipi, napasnya teratur dan dalam seperti orang yang tidak punya hutang kepada siapapun dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kir tidur di cekungan antara leher dan bahu Dunk, meringkuk kecil, warnanya meredup ke abu-abu pucat seperti bioluminesensi yang sudah beristirahat.
Sovi keluar dari kemah.
Udara pagi di padang ini berbeda dari udara di semua tempat yang sudah mereka lewati, lebih kosong, lebih bersih, seperti angin di sini tidak membawa apapun dari tempat lain karena tidak ada tempat lain yang cukup dekat untuk diacu. Dan di bawah bersihnya udara itu, frekuensi yang sudah lima belas jam menemani mereka masih ada, lebih pelan di pagi hari, seperti sesuatu yang sedang transisi dari satu mode ke mode lain, tapi ada.
Rael menoleh ketika mendengar langkahnya. "Sudah bangun."
"Sudah."
"Kita bisa berangkat setelah sarapan."
Sovi berdiri di sebelahnya. Mereka sama-sama menatap ke selatan, ke ngarai yang dari sini sudah terlihat tepinya, berkilau halus di cahaya pagi yang baru naik. "Berangkat ke mana?"
"Ke ngarai."
"Langsung turun?"
"Kita sudah hampir seminggu di jalan, Sovi. Kita sudah di sini." Rael menunjuk ke selatan dengan dagu. "Ngarai Veth ada di sana. Koloni Satu ada di sana. Koordinat NV-7 ada di sana. Kita pergi untuk itu."
"Aku tahu kita pergi untuk itu."
"Jadi kenapa kita tidak langsung ke sana?"
Sovi menarik napas pelan. Ini bukan pertanyaan yang tidak ia antisipasi, yang tidak ia antisipasi adalah datangnya pagi ini, sebelum sarapan, sebelum ia punya cukup waktu untuk menyusun argumennya dengan tenang.
"Karena ada sinyal yang belum kita pahami," katanya. "Karena kita belum tahu kondisi ngarai dari bawah. Karena kita tidak punya informasi tentang apa yang menunggu di tepi, apalagi di dasarnya. Karena, "
"Kita tidak akan pernah punya cukup informasi."
"Kita bisa punya lebih dari sekarang."
"Kapan cukup, Sovi?" Nada suara Rael naik sedikit, bukan marah, tapi ada tekanan di dalamnya yang sudah ditahan dan mulai mencari jalan keluar. "Kita sudah punya peta. Sudah punya jurnal. Sudah punya koordinat. Sudah punya tiga tabung kristal yang belum bisa dibaca. Sudah punya seminggu perjalanan. Kalau itu semua belum cukup buat kamu, apa yang cukup?"
"Satu hari lagi."
"Untuk apa?"
"Untuk analisis sinyal yang kita temukan kemarin. Untuk memetakan tepi ngarai dari udara sebelum turun. Untuk, "
"Satu hari lagi jadi dua. Dua jadi tiga." Rael berbalik menghadapnya sepenuhnya. "Ini bukan laboratorium, Sovi. Kita tidak bisa terus kumpul data sampai sempurna. Di lapangan tidak ada sempurna."
"Aku tahu ini bukan laboratorium."
"Tapi kamu bertindak seperti itu."
Kalimat itu keluar lebih keras dari yang Rael mungkin niatkan. Sovi tidak langsung menjawab karena ada sesuatu di kalimat itu yang mengenai bukan sebagai kritik tapi sebagai sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang bersentuhan dengan cara ia melihat dirinya sendiri, cara ia bekerja, cara ia percaya bahwa lebih banyak data selalu lebih baik dari lebih sedikit data.
Dan di suatu tempat yang sangat kecil di dalam dirinya, ada bagian yang bertanya apakah Rael salah.
Ia tidak mengakui bagian itu pagi ini.
"Kalau kita turun tanpa persiapan yang cukup dan ada yang tidak berjalan sesuai rencana," kata Sovi dengan suara yang dikendalikan tapi tipis, "aku tidak mau menyesal tidak melakukan yang bisa dilakukan."
"Dan aku tidak mau menghabiskan sisa hidup menyesal tidak pergi waktu sudah ada di sana."
Mereka bertatapan.
Di dalam kemah, Dunk masih tidur.
Dunk bangun dua puluh menit kemudian dan langsung merasakan atmosfer yang ada.
Ia punya kemampuan ini, bukan kecerdasan emosional dalam arti yang bisa diajarkan di kelas, tapi semacam kepekaan yang terbentuk dari bertahun-tahun menjadi anak yang sering ada di pinggir percakapan, yang belajar membaca ruangan karena ruangan tidak selalu mengundangnya masuk. Ketika ia keluar dari kemah dan melihat Rael di satu sisi dan Sovi di sisi lain dengan jarak empat meter di antara mereka yang harusnya tidak terasa seperti empat kilometer tapi terasa, ia langsung tahu.
Ia mengeluarkan dua batang ransum dari ranselnya, menawarkan satu ke Rael dan satu ke Sovi.
Rael mengambil tanpa menoleh.
Sovi mengambil, lalu meletakkannya di tanah karena tidak lapar.
Dunk makan miliknya sendiri dan berpikir.
"Jadi," katanya akhirnya, dengan nada orang yang sudah memutuskan akan mencoba sesuatu dan tidak yakin hasilnya, "siapa yang mau cerita duluan?"
"Tidak ada yang perlu diceritakan," kata Rael.
"Aku mau langsung ke ngarai," kata Sovi. "Rael mau analisis satu hari lagi sebelum turun."
"Kebalik," kata Rael.
"Maaf?"
"Kamu kebalik. Aku yang mau langsung ke ngarai. Kamu yang mau analisis."
Sovi menatapnya. "Iya. Itu yang aku bilang."
"Kamu bilang aku yang mau analisis."
"Aku tidak bilang itu."
"Kamu bilang 'Rael mau analisis satu hari lagi'."
"Aku bilang 'aku mau langsung ke ngarai, Rael mau analisis'. Itu berarti aku yang mau langsung dan kamu yang mau analisis."
"Kamu menyebutkan namaku di kalimat tentang analisis, "
"Dunk." Sovi mengalihkan pandangan ke Dunk. "Siapa yang mau langsung ke ngarai?"
Dunk menatap Rael. "Kamu."
"Dan siapa yang mau analisis dulu?"
"Kamu." Dunk menatap Sovi.
"Terima kasih," kata Sovi kepada Rael.
Rael tidak menjawab karena tidak ada respons yang membantu.
Dunk menyelesaikan ransumnya. Lalu mengeluarkan satu lagi dan menawarkan ke Sovi. "Kamu taruh yang tadi di tanah."
"Aku tidak lapar."
"Kamu selalu bilang tidak lapar waktu sedang kesal. Tapi sebenarnya lapar."
"Itu generalisasi yang tidak, "
"Sovi."