Malam sebelum turun adalah malam paling sunyi dari semua malam yang sudah mereka lalui.
Bukan karena tidak ada suara, resonansi dari ngarai masih ada, angin masih bertiup, Kir sesekali bergerak dalam tidurnya dengan bunyi seperti kertas yang diremas sangat pelan. Sunyi dalam arti yang lain: tidak ada percakapan panjang, tidak ada debat, tidak ada perencanaan yang bersuara. Semua yang perlu direncanakan sudah direncanakan selama sore hari, tali diperiksa, simpul dilatih ulang, ransel dikemas ulang dengan hanya yang paling perlu karena mereka tidak tahu berapa lama akan di bawah dan tidak bisa membawa terlalu berat kalau harus memanjat balik.
Sovi yang paling terakhir selesai mempersiapkan diri. Ia duduk di luar kemah setelah Rael dan Dunk sudah masuk, jurnalnya di pangkuan, lentera kecil menyala di sampingnya, menatap ke arah ngarai yang dari sini hanya terlihat sebagai kegelapan yang lebih gelap dari kegelapan lain, garis di mana bintang-bintang berhenti ada karena ada sesuatu yang menghalangi langit.
Ia tidak menulis apa-apa.
Ini jarang terjadi, Sovi hampir selalu menulis, hampir selalu ada sesuatu yang perlu dicatat atau diproses atau disimpan dalam bentuk kata-kata. Tapi malam ini tidak ada kata yang terasa cukup untuk apa yang besok akan terjadi, dan ada sesuatu yang terasa tidak tepat tentang mencoba meringkas momen sebelum ia selesai menjadi momen.
Ia memikirkan nenek.
Bukan dengan kesedihan, kesedihan itu ada tapi sudah belajar untuk duduk diam di belakang, tidak di depan. Ia memikirkan nenek dengan cara yang lebih tenang: perempuan tua yang tiga puluh dua tahun menyimpan koper cokelat di sudut gelap gudangnya, yang pada hari-hari tertentu mungkin berdiri di dapur dan menatap ke arah selatan dengan cara yang sama seperti Sovi berdiri di luar kemah ini sekarang. Yang tidak pernah ke sana sendiri, entah karena tidak bisa, entah karena sudah terlalu tua ketika menemukan semua ini, entah karena memang bukan tugasnya untuk pergi dan tugasnya hanya untuk menyimpan sampai ada yang siap.
Mungkin nenek tahu dari awal bahwa yang akan menyimpan setelahnya adalah Sovi.
Mungkin tidak, mungkin hanya berharap, dan harapan tidak selalu perlu tahu ke mana ia pergi untuk tetap bergerak ke sana.
Di pundak Sovi yang tidak ada Kir-nya karena Kir malam ini memilih tidur di dalam dengan Dunk, ada rasa yang tidak ada namanya tapi yang terasa seperti: aku di sini, Nek. Aku sampai.
Ia menutup jurnal. Masuk kemah. Mata tertutup lebih cepat dari yang ia antisipasi, ternyata tubuh yang cukup lelah dan pikiran yang sudah cukup berdamai dengan dirinya sendiri bisa tidur bahkan sebelum besok selesai menjadi ancaman.
Mereka tiba di tepi ngarai pukul lima pagi, dalam gelap yang hampir penuh, karena Sovi sudah menghitung bahwa turun dalam kondisi cahaya yang naik lebih baik dari turun dalam kondisi cahaya yang sudah penuh, mata yang menyesuaikan diri ke terang lebih mudah menangani perubahan dari turun ke mendarat daripada mata yang langsung bertemu cahaya penuh dari atas.
Ini adalah jenis perhitungan yang Rael tidak akan pernah memikirkan sendiri tapi yang ketika Sovi menjelaskannya tadi malam terasa sangat masuk akal sehingga ia tidak punya alasan untuk tidak setuju.
Di tepi, dalam gelap sebelum fajar, ngarai terasa berbeda dari kemarin siang.
Lebih besar. Bukan secara fisik, empat kilometer tetap empat kilometer, tapi ada sesuatu tentang gelap yang menghapus batas visual dan membuat ruang yang sudah tidak punya batas yang kelihatan terasa bahkan lebih tanpa batas. Angin dari dalam ngarai naik ke atas dengan cara yang tidak ada di permukaan, lebih hangat dari udara pagi di luar, membawa bau yang sudah mereka kenali dari hari-hari sebelumnya tapi lebih pekat di sini, lebih langsung, seperti sumber aslinya ada sangat dekat di bawah.
"Angkur pertama," kata Sovi, menyalakan lentera dan mengarahkan ke titik yang sudah ia periksa kemarin.
Mereka bekerja dalam setengah keheningan, Sovi yang memimpin pemasangan tali baru ke angkur lama, Rael yang memeriksa simpul dengan cara yang sudah mereka latih selama sore kemarin sampai Sovi yakin ia bisa melakukannya dengan benar bahkan dalam gelap, Dunk yang memegang lentera di sudut yang tepat dan tidak berkomentar tentang apapun karena ia tahu ini bukan waktu untuk komentar.
Kir duduk di bahu Dunk menghadap ke dalam ngarai. Masih warna biru tua yang kemarin. Tidak berubah.
"Siap," kata Sovi setelah dua puluh menit. Ia menarik tali dengan berat badannya dua kali, memverifikasi angkur, memverifikasi simpul. "Urutan turun: aku pertama karena aku yang paling ringan dan akan lihat kondisi jalur. Rael kedua. Dunk terakhir."
"Kenapa aku terakhir?" tanya Dunk.
"Karena kalau ada masalah di jalur, aku dan Rael sudah di bawah dan bisa bantu dari sana. Kalau kamu di atas sendiri kamu tidak bisa bantu apapun dari atas dan tidak ada yang bisa bantu kamu dari bawah karena kita belum di bawah."
Dunk memikirkan logika ini. "Oke."
"Satu hal lagi." Sovi menatap keduanya. "Kita tidak tahu berapa jauh kabutnya. Mungkin seratus meter dari tepi, mungkin lebih. Di dalam kabut kita tidak bisa lihat satu sama lain. Jarak tali antara kita dua meter, artinya kita bisa saling tarik kalau perlu, tapi tidak bisa lihat. Kalau ada masalah, teriak. Satu kali artinya berhenti. Dua kali artinya naik balik. Tiga kali artinya darurat."
"Tiga kali darurat artinya apa tepatnya?" tanya Rael.
"Artinya situasi yang belum bisa kita antisipasi sekarang tapi yang kalau terjadi akan jelas darurat."
"Definisi yang mengkhawatirkan."
"Tapi jujur."
Langit di timur mulai abu-abu di tepinya. Fajar masih sepuluh menit tapi sudah cukup terang untuk melihat tali yang tergantung ke dalam kegelapan ngarai, masuk ke bawah, semakin tipis kelihatannya semakin dalam, hilang di titik di mana gelap cukup pekat untuk menelannya.
"Oke," kata Sovi. Ia menggenggam tali. "Kita turun."
Tiga puluh meter pertama adalah yang paling sulit.
Bukan karena medannya berbahaya, angkur kuat, tali baru, dinding ngarai di sini relatif tegak tanpa tonjolan yang mengganggu. Sulit karena ini adalah tiga puluh meter pertama dan otak yang belum pernah melakukan ini sebelumnya menggunakan sumber daya yang tidak kecil untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa turun adalah tindakan yang masuk akal.
Sovi turun dengan metode yang sudah ia baca dari manual darurat yang ia unduh sebelum sinyal hilang: badan tegak, kaki di dinding, tali dilepas perlahan dengan tangan kanan, tangan kiri sebagai penyeimbang. Ia tidak melihat ke bawah pada tiga puluh meter pertama. Ini bukan karena takut, ini karena melihat ke bawah dalam kondisi visibilitas rendah sebelum ada informasi yang cukup tentang apa yang ada di bawah adalah buang waktu sensorik.
Dinding ngarai dari jarak setengah meter terlihat berbeda dari dari atas.
Berbeda bukan dalam arti buruk, berbeda dalam arti hidup. Batu yang dari atas terlihat gelap dan statis dari sini memperlihatkan teksturnya: berlapis-lapis, setiap lapisan sedikit berbeda warnanya, mencatat sejarah geologis planet ini dalam cara yang tidak ada buku teks yang bisa mereplikasinya. Di antara lapisan-lapisan batu itu, di celah-celah yang terlalu kecil untuk disebut retakan tapi terlalu teratur untuk disebut kecelakaan, ada tumbuhan yang tumbuh horizontal, bukan ke bawah, bukan ke atas, tapi lurus ke samping ke arah ruang kosong ngarai. Seperti selalu mencari cahaya yang tidak datang dari atas.
Dan di beberapa tempat, tidak banyak, tidak merata, tapi ada, dinding batu itu bercahaya.
Bukan terang. Bukan seperti lampu. Lebih seperti bara yang sangat jauh di balik kaca gelap, sesuatu yang menyimpan cahaya di dalamnya dan sesekali melepaskan sebagian kecilnya ke permukaan. Warnanya biru kehijauan, persis seperti warna Kir, persis seperti warna batu-batu di koper nenek.
"Sudah sampai berapa?" suara Rael dari atas, teredam sedikit oleh jarak.
"Tiga puluh meter lebih," balas Sovi ke atas. "Dinding bagus. Turun."
Ia melanjutkan.