Cahaya darurat itu bukan putih.
Rael sudah mengantisipasi putih, warna yang diasosiasikan dengan darurat, dengan fasilitas, dengan sesuatu yang dibuat manusia untuk berfungsi bukan untuk indah. Tapi cahaya yang mengisi bangunan ini ketika pintu terbuka adalah biru keabuan yang sangat redup, lebih mirip cahaya bulan dari balik kaca tebal daripada lampu listrik. Tidak menyilaukan. Tidak dramatis. Lebih seperti cahaya yang sudah lama menyesuaikan diri dengan tempat yang tidak pernah menerima matahari langsung.
Ruangan pertama yang mereka masuki adalah ruang luas berbentuk persegi panjang, langit-langitnya setinggi dua setengah meter, cukup untuk berdiri nyaman, cukup untuk tidak terasa seperti terowongan. Lantainya batu yang diratakan, persis seperti di gua dekat rawa tapi lebih halus, lebih lama diinjak. Di dinding kiri ada deretan rak batu yang dipahat langsung dari dinding, kosong sekarang tapi dengan tanda-tanda bekas isi di permukaannya, lingkaran debu tipis di mana wadah pernah berdiri, persegi panjang lebih gelap di mana kotak pernah ada. Di dinding kanan ada sesuatu yang tidak ada di gua: panel.
Panel logam, menempel di dinding, dengan permukaan yang masih memantulkan cahaya darurat meski sudah ribuan tahun. Tombol-tombol dan tuas yang sudah berkarat di engselnya tapi yang bentuknya masih bisa dibaca. Di atasnya, ditulis dengan aksara yang sama dengan di peta dan di gua, label-label kecil yang Sovi langsung berjalan ke arahnya.
"Panel kendali," katanya. "Sistem dasar. Udara, suhu, cahaya." Ia menelusuri label-labelnya dengan jari tanpa menyentuh. "Ini yang masih aktif, semuanya berjalan dari satu sumber energi yang tersambung ke sistem panas bumi. Bukan mesin buatan manusia yang masih berjalan. Sumber energinya ada di bawah."
"Echo," kata Rael.
"Echo."
Rael berjalan lebih jauh ke dalam ruangan. Di ujung ruangan ada tiga pintu, satu di tengah lebih besar dari dua di sisinya, semua masih tertutup. Di atas pintu tengah ada ukiran yang berbeda dari ukiran di luar, bukan aksara, tapi simbol. Simbol yang sudah mereka kenal: lingkaran dengan tiga gelombang di dalamnya.
"Simbol Koloni Satu," kata Dunk dari belakangnya.
"Atau simbol Echo," kata Sovi. "Kita belum tahu siapa yang pertama memakai simbol itu, pendiri koloni yang menciptakannya untuk menandai tempat ini, atau simbol itu sudah ada lebih dulu dari koloni dan mereka mengadopsinya."
"Cara tahu?"
"Masuk lebih dalam."
Dunk mendorong pintu tengah.
Kali ini tidak semudah tadi, pintu ini lebih berat, mekanisme engselnya lebih kompleks, dan ada bunyi yang bukan derit tapi lebih seperti sesuatu yang bergerak setelah lama diam, menyesuaikan diri kembali dengan tujuannya. Dunk mendorong dengan bahu dan pintu itu terbuka dengan keputusan, bukan perlahan.
Di baliknya: koridor.
Panjang, lurus, dengan cahaya darurat yang sama menyala di interval tertentu di langit-langit, menciptakan pola terang-gelap-terang yang membuat ujung koridor terlihat lebih jauh dari mungkin sebenarnya. Di kedua sisi ada pintu-pintu lain, lebih kecil, lebih rapat jaraknya, seperti lorong asrama atau lorong laboratorium kecil.
"Seberapa besar ini?" tanya Rael.
Sovi sudah mengaktifkan modul pemetaan di scannernya. Angka-angka muncul, bergerak, membangun gambar dari sinyal yang dipantulkan. "Sedang dihitung. Tapi dari sinyal yang sudah terbaca, " ia berhenti sebentar, "besar. Jauh lebih besar dari yang terlihat dari atas."
"Berapa besar?"
"Sabar."
Rael tidak sabar tapi menahan diri.
Mereka tidak masuk ke setiap ruangan. Ini adalah keputusan Sovi yang Rael setujui setelah berpikir dua detik, bukan karena tidak ingin, tapi karena ada dua ratus dua belas meter koridor dengan dua puluh tujuh pintu di kiri dan kanannya dan tidak ada yang tahu kondisi masing-masing ruangan di balik pintu-pintu itu. Mereka masuk ke beberapa yang pintunya sudah terbuka sendiri, dan satu yang Dunk dorong karena penasaran dengan apa yang ada di baliknya.
Ruangan pertama yang mereka masuki adalah ruang makan.
Ini yang paling mudah diidentifikasi karena meja-mejanya masih ada, empat meja panjang dengan bangku-bangku yang terbuat dari bahan yang bukan kayu dan bukan logam, sesuatu di antaranya yang tidak ada padanannya di atas. Di atas meja ada peralatan makan yang ditinggalkan dengan cara yang bukan buru-buru dan bukan teratur, lebih seperti ditinggalkan oleh orang-orang yang pergi dengan harapan akan kembali tapi tidak kembali, peralatan yang sudah ribuan tahun menunggu tangan yang akan mengambilnya kembali.
"Mereka tidak pergi terburu-buru," kata Rael, menatap meja yang setengah teratur setengah tidak.
"Tidak," kata Sovi. "Ada waktu untuk menata tapi tidak ada motif untuk menata sepenuhnya. Seperti seseorang yang meninggalkan rumah untuk pergi jauh tapi belum yakin berapa lama."
"Atau belum yakin apakah akan kembali."
Sovi tidak menjawab karena keduanya mungkin benar dan tidak ada cara untuk memilih dari sini.
Ruangan kedua adalah laboratorium.
Ini yang paling membuat Sovi diam lama. Meja-meja kerja dengan peralatan yang sudah tidak bisa diidentifikasi fungsinya, beberapa jelas rusak oleh waktu, beberapa dalam kondisi yang tidak wajar baiknya untuk usianya. Rak-rak dengan wadah-wadah tertutup yang isinya tidak bisa dilihat dari luar. Papan tulis batu di satu dinding yang masih ada tulisan di atasnya, tulisan tangan dalam aksara yang Sovi sudah mulai bisa membaca sebagian tapi tidak seluruhnya.
"Ada waktu untuk membaca ini semua?" tanya Rael.
"Ada waktu untuk mendokumentasikan dulu," kata Sovi, sudah mengambil foto dari setiap sudut. "Membacanya nanti."
"Berapa lama 'nanti'?"
"Cukup lama." Sovi memotret papan tulis batu dari dekat, memastikan setiap karakter tertangkap. "Ini bukan pekerjaan satu hari, Rael. Ini mungkin pekerjaan satu tahun kalau dilakukan dengan benar."
"Kita tidak punya satu tahun."
"Aku tahu. Makanya kita dokumentasikan sebanyak yang bisa dan pelajari nanti." Sovi menurunkan scanner. "Kita di sini untuk menemukan, bukan untuk memahami semuanya sekarang. Pemahaman butuh waktu yang tidak kita punya hari ini."
Ini salah satu hal tentang Sovi yang Rael paling sering lupa dan paling perlu diingat: bahwa Sovi yang paling hati-hati dan paling analitis dari mereka bertiga justru adalah yang paling bisa menerima ketidaklengkapan. Bukan karena ia tidak peduli, justru sebaliknya. Tapi karena ia tahu bahwa memaksakan pemahaman yang belum waktunya lebih berbahaya dari menunda.
Ruangan ketiga yang mereka masuki adalah yang Dunk dorong karena penasaran.
Isinya: tempat tidur. Dua puluh empat buah, disusun dalam dua baris berhadapan, dengan jarak yang cukup untuk berjalan di antara. Bukan hanya rangka, ada kasur tipis yang materialnya sudah mengeras tapi belum hancur, ada sesuatu yang mungkin pernah jadi selimut yang sekarang lebih mirip lapisan mineral tipis berwarna abu, dan di beberapa tempat tidur ada benda-benda kecil yang ditinggalkan di atas atau di samping kasur. Buku kecil. Wadah. Satu benda yang bentuknya seperti bingkai foto tapi tidak ada gambar di dalamnya, entah sudah hilang atau entah gambarnya sudah tidak bisa dilihat.
"Dua ratus tujuh belas orang," kata Dunk pelan, berdiri di tengah ruangan dan menghitung tempat tidur. "Ini hanya dua puluh empat. Ada berapa ruangan seperti ini?"
"Sembilan, berdasarkan yang terbaca di peta scanner," kata Sovi dari luar ruangan. "Dua ratus enam belas kapasitas tidur. Ditambah kemungkinan ruangan untuk yang bertugas jaga."
"Jadi semua dua ratus tujuh belas orang tidur di sini."