KOSMOS: DI BAWAH LANGIT

Dio Septian
Chapter #18

Lebih Dalam Lagi

Kir masih di sana ketika Rael terbangun.

Posisinya tidak berubah dari semalam, duduk di depan pintu tangga, warna biru tua yang dalam, menghadap ke arah yang sama. Kalau makhluk itu tidur semalam, Rael tidak tahu kapan dan bagaimana caranya karena dalam semua malam yang sudah mereka lalui bersama, Kir selalu terlihat sama antara tidur dan terjaga, perbedaannya hanya pada seberapa banyak matanya terbuka.

Rael berbaring sebentar setelah terbangun, menatap langit-langit ruang makan Koloni Satu, batu gelap dengan cahaya darurat biru keabuan yang sudah jadi familiar, yang semalam dengan cepat berubah dari asing menjadi sesuatu yang matanya tidak perlu berjuang menghadapinya lagi. Dari di bawah pintu tangga, kehangatan masih naik, lebih terasa di pagi ini dari semalam, seperti sesuatu di bawah sana yang bersiap.

Dunk terbangun kedua, dengan cara Dunk terbangun: seketika, tanpa proses transisi, duduk tegak dan langsung menatap Kir dengan ekspresi orang yang mengkonfirmasi sesuatu yang sudah ia duga. "Kamu di sana semalam terus."

Kir tidak merespons karena Kir tidak bisa merespons dalam bahasa manusia, tapi matanya yang besar bergerak ke Dunk dan kembali ke pintu dengan cara yang sangat jelas mengomunikasikan sesuatu.

"Iya, iya," kata Dunk. "Kita turun hari ini."

Sovi terbangun ketiga, sudah membuka jurnal sebelum matanya sepenuhnya terbuka, menulis sesuatu yang sudah ia pikirkan sejak sebelum tidur. "Lima menit," katanya kepada tidak ada yang khusus. "Biarkan aku selesaikan ini dulu."

Sarapan singkat, ransum terakhir yang Dunk bagikan rata, kali ini tidak ada yang komplain soal porsi karena tidak ada lebih banyak yang bisa didebatkan. Air dari filter portabel. Makan dalam hampir sunyi, masing-masing dengan pikirannya sendiri, dengan suara resonansi yang sekarang terasa seperti latar belakang dan bukan objek perhatian, seperti cara orang yang tinggal di dekat laut berhenti mendengar ombak setelah cukup lama.

"Siap?" tanya Sovi setelah semua selesai.

"Siap," kata Rael.

"Siap," kata Dunk. Ia menatap Kir. "Kamu siap?"

Kir berdiri dari posisi duduknya yang tidak berubah semalaman dan berjalan ke kaki Dunk.

"Siap," kata Dunk untuk keduanya.

Tangga itu turun enam belas anak tangga sebelum membelok, lalu enam belas lagi sebelum membelok kembali, lalu terus dalam pola yang sama, enam belas dan belok, enam belas dan belok, seperti spiral yang tidak mau terburu-buru mencapai dasarnya.

Rael menghitung. Ini kebiasaan yang tidak ia rencanakan tapi yang terjadi sendiri, seperti cara ia dulu menghitung kapal di langit, tidak karena angkanya penting tapi karena menghitung memberinya sesuatu yang konkret untuk dipegang ketika yang lain terlalu abstrak untuk digenggam.

Enam belas, tiga puluh dua, empat puluh delapan.

Pada enam puluh empat, ia berhenti menghitung karena ada sesuatu yang lebih menarik perhatiannya dari angka.

Dinding berubah.

Bukan berubah mendadak, prosesnya bertahap, hampir tidak terlihat kalau tidak memperhatikan. Tapi Rael memperhatikan karena Rael selalu lebih peka terhadap perubahan fisik dari perubahan lain, dan yang ia lihat adalah ini: batu di dinding yang pada anak tangga pertama masih batu biasa, keras, dingin, pasif, perlahan melunak karakternya. Bukan lunak secara fisik. Tapi ada sesuatu di permukaannya yang berubah, semacam lapisan tipis yang menumpuk semakin banyak semakin dalam, yang tidak memantulkan cahaya lentera dengan cara batu biasa memantulkan tapi dengan cara yang lebih hidup, lebih menyerap dan kemudian melepaskan dengan warna yang sedikit berbeda.

"Sovi," katanya.

"Aku sudah lihat," kata Sovi dari di bawahnya di tangga. "Kandungan organik di permukaan batu meningkat semakin dalam. Ini bukan debu atau endapan, ini tumbuh. Aktif."

"Tumbuh ke atas atau ke bawah?"

"Tidak ke mana-mana. Tumbuh ke dalam batu. Masuk ke struktur batunya."

Rael menyentuh dinding dengan ujung jarinya, satu sentuhan cepat, tidak lama, seperti menyentuh sesuatu yang belum tahu apakah akan merespons. Permukaannya tidak dingin seperti batu biasa. Tidak hangat seperti kulit. Di antaranya, suhu yang tidak ada referensinya tapi yang terasa, kalau dipaksa dideskripsikan, seperti suhu sesuatu yang hidup dan tenang dan tidak terkejut disentuh.

Di bawahnya, suara Dunk: "Kamu menyentuh dinding?"

"Sebentar."

"Sovi bilang jangan sentuh yang tidak kita tahu."

"Aku sudah sentuh."

"Sovi, "

"Sudah terlambat untuk mencegah," kata Sovi dengan nada yang bukan marah tapi yang mencatat sesuatu. "Rael, ada reaksi?"

"Tidak sakit. Tidak gatal. Terasa, " ia melepaskan jarinya, "terasa biasa. Tapi biasa yang aneh."

"Biasa yang aneh," ulang Sovi. "Aku catat itu."

Mereka terus turun.

Pada anak tangga ke sembilan puluh enam, Rael kembali menghitung tanpa sadar, batu di dinding sudah hampir tidak terlihat sebagai batu lagi. Yang ada di permukaan sekarang adalah lapisan yang lebih tebal dari lapisan organik yang ia sentuh tadi, dengan tekstur yang lebih kompleks, dengan pola yang terlalu teratur untuk disebut pertumbuhan acak. Seperti jaringan. Seperti sesuatu yang tumbuh dengan tujuan.

Dan di antara jaringan itu, berdenyut sangat pelan, cahaya biru kehijauan yang sudah mereka kenal.

Tapi dari dalam sini, dari jarak yang sangat dekat, cahaya itu berbeda dari cara Rael lihat sebelumnya di dinding ngarai atau di tanaman hutan. Dari dekat ia bisa melihat bahwa cahaya itu tidak merata, ada titik-titik yang lebih terang, ada yang lebih redup, ada yang berkedip dengan interval yang sangat kecil yang mata hampir tidak bisa mengikutinya. Seperti sinyal. Seperti sesuatu yang sedang berbicara dalam bahasa yang terlalu cepat untuk dipahami tapi yang jelas bukan sembarang.

"Ini bagian dari Echo," kata Rael. Bukan pertanyaan.

"Ini yang paling luar dari Echo," kata Sovi dari bawah. "Seperti ujung jari yang mencapai ke atas. Semakin dalam kita, semakin dekat ke pusatnya."

Tangga berakhir di satu ruangan.

Lihat selengkapnya