KOSMOS: DI BAWAH LANGIT

Dio Septian
Chapter #21

Log Terakhir

Sovi menyalin dengan sistematis.

Ini cara ia bekerja dalam kondisi yang membatasi waktu: bukan panik, bukan tergesa sampai salah, tapi sistematis dengan kecepatan yang ia tahu bisa ia pertahankan tanpa kehilangan akurasi. Ia tidak menyalin semua log karena tidak mungkin dalam waktu yang tersisa. Yang ia lakukan adalah menyalin yang paling penting, yang paling tidak ada duplikatnya di mana pun, yang paling mungkin dibutuhkan nanti untuk membuktikan apa yang ada di sini kepada dunia yang tidak pernah ke sini.

Log Teodan Veth, semua yang bisa ditemukan. Log nenek, semua tanpa terkecuali. Log dari periode kritis di mana keputusan-keputusan besar dibuat. Data termal dan akustik yang scannernya sudah kumpulkan selama perjalanan. Peta kompleks yang ditampilkan komputer.

Rael membantu dengan cara yang paling berguna yang bisa ia lakukan di ruangan komputer ini: ia tidak mengganggu. Ia duduk di sudut, mengawasi pintu, dan sesekali mengecek scanner cadangan yang Sovi berikan kepadanya untuk memantau posisi kapal di atas. Angkanya perlahan bergerak. Kapal itu turun. Perlahan tapi konsisten.

Dunk turun ke ruangan bawah sekali lagi, sendiri, selama dua puluh menit. Ia tidak menjelaskan dan tidak ada yang tanya. Ketika ia kembali wajahnya lebih tenang dari sebelum turun, dengan cara tenang yang bukan kosong tapi penuh, seperti orang yang baru selesai percakapan penting.

"Kamu bilang selamat tinggal?" tanya Rael ketika Dunk duduk di dekatnya.

"Bukan selamat tinggal. Lebih seperti sebentar ya, aku pergi dulu."

"Ada bedanya?"

"Selamat tinggal itu final. Sebentar ya bisa kembali."

Rael menatapnya sebentar. "Kamu yakin kita kembali?"

"Kamu tidak?"

Rael memikirkan ini. "Tidak yakin. Tapi ingin."

"Itu cukup," kata Dunk.

Di meja, Sovi terus menyalin tanpa menoleh, tapi ada sesuatu di punggungnya yang menunjukkan ia mendengarkan.

Penyalinan selesai dalam satu jam dua puluh menit. Sovi memeriksa ulang semua yang tersimpan di scanner, memverifikasi bahwa file tidak rusak, memastikan format bisa dibaca tanpa perangkat khusus yang mungkin tidak ada di tempat yang akan mereka tuju. Lalu ia menutup scanner dan meletakkannya dengan hati-hati di ranselnya, di kompartemen yang paling terlindungi, di antara lapisan pakaian ekstra yang tidak pernah ia pakai tapi yang ia bawa sejak awal untuk alasan seperti ini.

"Siap," katanya.

"Kita naik?" tanya Rael.

"Sebentar." Sovi tidak bergerak dari kursinya. Matanya kembali ke layar komputer yang masih menyala. Daftar log yang masih terbuka, ribuan entri dalam aksara yang ia sudah mulai bisa membaca tanpa terlalu banyak berhenti. "Ada satu yang belum aku buka."

"Satu log?"

"Log terakhir. Bukan log terakhir dari seluruh arsip, itu sudah aku baca. Ini log terakhir Teodan Veth secara khusus." Sovi menggulir layar ke titik yang sudah ia tandai tadi. "Aku temukan tadi waktu menyalin tapi aku sengaja tidak buka dulu. Ada sesuatu yang terasa seperti log ini perlu dibuka bersama, bukan sendiri."

Rael dan Dunk saling pandang sebentar.

"Buka," kata Rael.

Log itu singkat.

Sovi sudah belajar bahwa hal-hal penting tidak selalu panjang. Jurnal orang yang hampir mati jarang bertele-tele. Yang paling berharga biasanya yang paling padat karena ditulisnya oleh seseorang yang sudah tahu mana yang perlu dan mana yang tidak.

Ia membacakannya keras, pelan, dengan jeda di setiap kalimat karena kalimat ini perlu ruang untuk bernapas.

LOG TEODAN VETH

TAHUN KOLONI KE 12, HARI KE 4.201

Sovi berhenti sebentar. Melanjutkan.

Jeda lagi. Suara Sovi lebih pelan dari awal.

Sovi berhenti di sini lebih lama dari jeda sebelumnya. Layar menunggu.

Sovi menutup log.

Tidak ada yang bicara.

Di layar, kursor berkedip pelan di bawah log terakhir Teodan Veth, di titik di mana tidak ada lagi yang ditulis setelahnya dari tangan yang sama. Di atas layar, dalam database yang ribuan entri panjangnya, ada ratusan tahun percakapan yang dilanjutkan oleh orang-orang lain yang tidak pernah bertemu tapi yang semuanya datang ke ruangan yang sama dan menyentuh dinding yang sama dan merasakan sesuatu yang tidak bisa mereka deskripsikan dengan cara yang sama.

Seperti seseorang yang sudah lama tidak dipanggil namanya.

Rael menatap dindingnya. Bukan dinding ini, dinding ruangan komputer yang batu biasa dan tidak bercahaya. Ia menatap ke arah bawah, ke arah yang ia tahu ada ruangan lain di sana, lebih dalam, di mana dindingnya berbeda.

"Kita sudah memanggilnya," kata Rael pelan.

"Ya," kata Sovi.

"Dan sekarang kita pergi."

"Untuk sementara. Seperti kata Dunk, bukan selamat tinggal."

Dunk mengangguk dari sudutnya. Kir di pundaknya tidak bergerak, warnanya masih biru dalam, menghadap ke arah bawah.

Mereka naik ke permukaan untuk kedua kalinya hari itu dan kali ini kapalnya sudah jauh lebih dekat.

Sovi tidak perlu scanner untuk melihatnya sekarang. Dari tepi ngarai, kapal itu terlihat jelas di langit barat laut, sudah turun ke ketinggian yang membuatnya bisa dikenali bentuknya tanpa alat bantu. Bodi abu-abu ramping, sayap lebar datar, tiga mesin di bagian belakang yang nyalanya biru bukan oranye yang berarti teknologi propulsi yang lebih baru dari glider pertanian keluarga Vander.

Sudah tidak ada lagi empat jam. Sovi menghitung ulang.

"Satu setengah jam," katanya. "Mungkin kurang kalau mereka percepat."

Lihat selengkapnya