KOSMOS: DI BAWAH LANGIT

Dio Septian
Chapter #22

Pulang

Malam pertama perjalanan pulang mereka berkemah di dataran berbatu yang sama dengan malam keempat perjalanan pergi.

Rael menyadari ini ketika ia mendirikan kemah dan menemukan bekas patok yang masih ada di tanah, lubang kecil yang ia buat sembilan hari lalu yang belum diisi kembali oleh alam karena tanah di sini terlalu keras untuk cepat menutup sendiri. Sembilan hari. Ia berdiri sebentar dengan patok di tangan dan menatap bekas lubang itu.

Sembilan hari pergi. Tiga hari pulang.

Dua belas hari total yang akan perlu ia jelaskan kepada ayahnya dengan cara yang tidak melibatkan kata Echo atau Koloni Pertama atau korporasi galaksi yang sedang mendekati ngarai yang berisi sesuatu yang lebih berharga dari semua tambang geothermal di alam semesta yang dikenal manusia.

Ia menancapkan patok ke tanah.

Makan malam malam itu adalah ransum terakhir yang tersisa, ditambah sisa ubi yang Dunk entah bagaimana masih menyimpan di lapisan terdalam ranselnya yang sudah hampir kosong dari semua hal lain tapi tidak pernah benar-benar kosong dari makanan. Dunk memanggangnya dengan cara yang tidak butuh kompor karena batu-batu di sekitar api kecil yang mereka buat sudah cukup panas, dan hasilnya lebih baik dari ransum meski lebih sederhana dari semua masakan Dunk sebelumnya di perjalanan ini.

"Sisa apa lagi yang ada di ransel kamu?" tanya Sovi.

"Dua apel. Satu bungkus kacang. Garam."

"Garam."

"Berguna."

"Kamu bawa garam untuk tiga minggu tapi tidak bawa senter cadangan."

"Sentermu masih hidup."

"Itu bukan argumen."

"Itu fakta. Fakta yang mendukung keputusanku."

Sovi memutuskan bahwa debat ini tidak perlu diteruskan karena ubi-nya sudah matang.

Mereka makan dalam suasana yang berbeda dari semua malam makan di perjalanan pergi. Bukan lebih sunyi atau lebih ramai, tapi berbeda teksturnya. Perjalanan pergi punya ketegangan yang terus menerus di bawahnya, sesuatu yang selalu ada seperti tegangan tali yang terus diregangkan. Perjalanan pulang punya sesuatu yang lain di bawahnya, sesuatu yang lebih berat tapi dengan cara yang tidak menekan melainkan menopang. Seperti membawa sesuatu yang besar tapi berharga.

"Kalian memikirkan apa?" tanya Dunk di tengah makan.

"Banyak hal," kata Rael.

"Spesifik."

Rael memikirkan ini. "Aku memikirkan kapal-kapal itu. Yang Varda." Ia menatap api kecil di depannya. "Berapa lama sebelum mereka turun ke ngarai?"

"Dua hari mungkin, kalau harus memetakan permukaan dulu," kata Sovi. "Seminggu sebelum mereka bisa masuk ke Koloni Satu, kalau mereka menemukan akses turun. Tergantung peralatan."

"Dan sebelum mereka ke ruangan di bawah?"

"Lebih lama. Aku berharap lebih lama. Ada banyak yang perlu dipahami dulu di Koloni Satu sebelum seseorang tahu harus ke mana." Sovi mengambil apel dari ransel Dunk tanpa minta izin dan Dunk tidak protes. "Tapi aku tidak bisa jamin itu."

"Jadi kita punya waktu."

"Kita punya waktu. Pertanyaannya bukan berapa lama waktunya tapi apa yang kita lakukan dengan waktu itu."

Dunk menatap langit. Bintang-bintang sudah muncul semua, lebih banyak dari yang bisa dihitung, persis seperti malam pertama di luar sembilan hari lalu ketika mereka pertama kali berbicara tentang bintang-bintang dan kemungkinan dan berat menjadi satu-satunya yang tahu tentang sesuatu. "Aku memikirkan Kir."

"Kir?"

"Apa yang terjadi dengan Kir kalau kita pulang ke desa. Kir bukan hewan peliharaan dari planet yang sudah dikenal. Orang-orang akan tanya."

Sovi yang belum memikirkan ini terdiam sebentar. "Itu masalah praktis yang valid."

"Kir ikut kemana aku pergi," kata Dunk dengan nada yang bukan diskusi tapi juga bukan keras. "Itu sudah jelas. Pertanyaannya adalah cara menghadapi reaksi orang."

"Kamu bisa bilang kamu temukan di ladang," kata Rael. "Hewan kecil yang jatuh dari suatu tempat atau entah dari mana."

"Kir tidak terlihat seperti hewan yang jatuh dari suatu tempat," kata Dunk.

"Tidak," akui Rael. "Tapi orang percaya apa yang ingin mereka percaya kalau tidak ada yang lebih masuk akal tersedia."

Kir, yang duduk di sebelah Dunk menghadap api dengan cara seekor kucing duduk di depan perapian kecuali ini bukan kucing dan ini bukan perapian, berubah warna sebentar menjadi oranye mengikuti nyala api lalu kembali ke biru mudanya.

"Ia cantik," kata Sovi, sebelum bisa mencegah dirinya.

"Aku tahu," kata Dunk. "Bukan hal yang perlu diumumkan tapi aku senang ada yang setuju."

Hari kedua perjalanan pulang membawa mereka kembali melewati rawa merah dari arah yang berbeda.

Berbeda dalam arti mereka tidak harus melewati rawa itu dari dalam karena Sovi sudah memetakan rute yang melingkar melewati tepi timurnya, di mana tanahnya lebih keras dan tidak ada genangan besar. Rute ini lebih jauh dari yang bisa ditempuh dengan terbang lurus tapi Sovi sudah menghitung bahwa terbang rendah di dekat rawa dengan sensor drone yang mungkin masih aktif di area selatan lebih berisiko dari waktu tambahan yang dibutuhkan untuk melingkar.

Dari tepi, rawa itu terlihat sama seperti sembilan hari lalu. Merah, basah, berbau mineral dalam cara yang sudah tidak asing tapi yang juga tidak pernah menjadi biasa sepenuhnya. Semburan gas kecil dari permukaan yang naik pelan lalu hilang. Tanaman rendah dengan bunga yang tidak ada namanya di kosakata standar.

Rael melihatnya dari jendela glider dan berpikir tentang betapa berbedanya cara ia melihat rawa ini sekarang dari cara ia melihatnya sembilan hari lalu. Sembilan hari lalu ini adalah hambatan, sesuatu yang perlu diatasi dalam perjalanan menuju tujuan. Sekarang ini adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar, satu lapisan dari sistem yang jaringannya menyebar ke seluruh planet, salah satu dari banyak wajah yang sama.

"Ini juga bagian dari Echo, kan," katanya. Bukan pertanyaan.

"Kemungkinan besar," kata Sovi dari kursi sebelahnya. "Aktivitas termal yang mendorong air ke permukaan membentuk rawa ini. Mineral yang memberi warnanya. Tanaman yang beradaptasi dengan komposisi itu selama ribuan tahun." Ia menatap ke bawah. "Semuanya saling terhubung dalam cara yang baru kita mulai mengerti."

"Kita menginjak Echo setiap hari tanpa tahu," kata Dunk dari belakang.

"Setiap orang di Ager Nova," kata Sovi. "Tiga ratus dua puluh juta orang yang setiap hari berjalan di atas tanah yang dirawat oleh sesuatu yang tidak pernah mereka ketahui."

"Dan sekarang ada korporasi yang mau menambangnya."

"Sekarang ada korporasi yang mau menambangnya," ulang Sovi dengan nada yang tidak marah tapi yang mengandung sesuatu yang lebih dingin dari marah.

Glider terbang melingkar di tepi timur rawa, rute yang lebih jauh tapi yang tidak memaksa mereka mendarat dan melewati lumpur. Di suatu titik Dunk menunjuk ke bawah, ke area yang dari atas terlihat sebagai tonjolan batu kecil di tepi rawa yang hampir tidak kelihatan dari ketinggian ini.

"Itu tempat aku hampir tenggelam."

"Kamu tidak hampir tenggelam," kata Rael. "Kamu terperosok sampai pinggang."

"Dari perspektif aku itu hampir tenggelam."

"Perspektif yang dramatis."

"Pengalaman yang dramatis."

Rael tidak melanjutkan karena Dunk ada benarnya.

Mereka melewati rawa dan memasuki area dataran yang lebih terbuka, dan Sovi mengizinkan ketinggian naik ke tiga ratus meter karena risiko drone sudah menurun seiring jarak dari ngarai. Dari sini pemandangan planet terlihat lebih luas. Di utara, jauh, ada garis hijau gelap yang berarti Hutan Lumenar. Lebih jauh lagi, sangat samar, ada sesuatu yang bisa jadi cahaya pertanian atau bisa jadi tidak ada tapi yang insting Rael bilang adalah lampu desa.

Lihat selengkapnya