KOSMOS: DI BAWAH LANGIT

Dio Septian
Chapter #23

Kembali

Garven muncul dari cakrawala pukul sembilan pagi.

Bukan sekaligus. Pertama yang terlihat adalah silo-silo di tepi desa, menara-menara baja abu-abu yang menangkap cahaya matahari Kepler-442 di pagi hari dengan cara yang dari dua belas hari lalu Rael tidak pernah pikirkan tapi yang sekarang, dari ketinggian seratus meter di glider ayahnya, terlihat seperti sesuatu yang sangat akrab dan sangat aneh pada saat yang bersamaan. Akrab karena sudah ada sejak sebelum ia bisa ingat. Aneh karena ia pulang dengan sesuatu yang tidak ada ketika ia pergi.

Lalu ladang. Hijau keemasan yang membentang dari desa ke tepi yang jauh, bergelombang pelan di angin pagi yang belum kencang. Rael pernah membenci pandangan ini karena terasa seperti bukti bahwa tidak ada yang berubah di sini dan tidak ada yang akan berubah. Sekarang ia menatapnya dari udara dan berpikir tentang berapa dalam tanah di bawah ladang itu, tentang jaringan yang ada di sana yang sudah ribuan tahun menghidupi semua ini, tentang betapa berbedanya sesuatu terlihat kalau kamu tahu apa yang ada di bawahnya.

"Ada yang aneh dari atas," kata Sovi.

"Maksudnya?"

"Tidak ada yang aneh. Maksudku tidak ada yang berubah. Semuanya sama persis seperti waktu kita pergi."

"Dua belas hari."

"Dua belas hari kita tidak ada dan dunia ini berjalan tanpa kita." Sovi menatap ke bawah. "Sedikit mengejutkan betapa mudahnya dunia berjalan tanpa kita."

"Itu tidak mengejutkan," kata Dunk dari belakang. "Yang mengejutkan adalah kita pikir seharusnya berbeda."

Tidak ada yang menjawab karena tidak ada yang bisa membantah kalimat itu.

Rael menurunkan ketinggian. Desa semakin besar semakin turun, detail-detail yang dari atas tidak terlihat mulai muncul: jalan tanah antara rumah-rumah, kandang ternak di sisi timur, toko peralatan yang sudah ia kenal sejak kecil dengan papan namanya yang satu hurufnya sudah lama miring dan tidak pernah diperbaiki. Pohon Lumen di tepi desa yang dari atas terlihat lebih kecil dari yang ia ingat, padahal pohon itu tidak berubah dan yang berubah adalah skala perbandingannya di dalam kepalanya.

"Kita mendarat di mana?" tanya Sovi.

"Garasi," kata Rael. "Langsung kembalikan glider sebelum ayahku selesai di ladang. Kalau bisa sebelum ia tahu tidak ada."

"Sudah terlambat untuk itu."

"Aku tahu. Tapi tetap lebih baik ada di garasi dari tidak ada di garasi."

Glider turun ke ketinggian pendaratan, melewati atap rumah-rumah yang dari bawah tidak terlihat dari atas, lalu lebih rendah lagi sampai roda menyentuh tanah halaman samping rumah keluarga Vander dengan bunyi yang tidak ada orang lain dengar karena pagi hari di desa pertanian semua orang sudah di ladang.

Kecuali satu orang.

Ibu Rael berdiri di pintu belakang.

Ia tidak berlari keluar. Ia tidak berteriak. Ia berdiri di pintu belakang dengan tangan di tiang pintu dan menatap tiga orang yang turun dari glider dengan cara yang tidak berteriak tapi yang matanya mengandung dua belas hari kekhawatiran yang sudah dipadatkan menjadi satu tatapan.

Rael berjalan ke arahnya. Ia tidak berlari juga. Berjalan dengan cara yang tidak bisa dipercepat tanpa terasa seperti melarikan diri dari sesuatu.

"Kamu baik-baik saja," kata ibunya. Bukan pertanyaan. Konfirmasi. Seperti seseorang yang sudah mempercayai satu kemungkinan dan baru sekarang mendapat bukti bahwa kepercayaannya tidak salah.

"Baik-baik saja," kata Rael.

Ibunya menatapnya dari atas ke bawah dengan cara cepat yang hanya ibu yang bisa lakukan dan yang dalam dua detik sudah memeriksa lebih banyak dari yang pemeriksaan fisik formal bisa dalam sepuluh menit. Tangannya mengangkat sedikit ke arah bahu Rael lalu berhenti, lalu mengangkat lagi, lalu akhirnya menyentuh lengannya sebentar.

"Masuk. Sarapan sudah dingin tapi masih bisa dihangatkan."

Itulah yang dikatakan ibunya. Tidak lebih, tidak kurang. Tidak pertanyaan tentang ke mana, tidak tuntutan penjelasan, tidak kemarahan yang bersuara keras. Sarapan sudah dingin tapi masih bisa dihangatkan.

Cara orang yang sudah memutuskan bahwa yang paling penting sekarang bukan jawaban tapi anak yang berdiri di depannya.

Sovi dan Dunk berdiri di belakang Rael, sedikit lebih jauh, dengan cara tamu yang tidak mau masuk terlalu jauh ke dalam momen yang bukan milik mereka. Ibu Rael melihat keduanya.

"Kalian juga."

"Terima kasih, tapi kami perlu pulang dulu," kata Sovi. "Orang tua kami belum tahu kami sudah kembali."

"Pergi bilang dulu. Lalu kembali kalau mau makan siang." Bukan tawaran. Pernyataan tentang bagaimana hari ini akan berjalan.

Sovi dan Dunk saling pandang sebentar lalu mengangguk.

Rael mengikuti ibunya masuk ke dapur. Pintunya ditutup perlahan di belakangnya. Di luar, Sovi dan Dunk berjalan ke arah rumah masing-masing dengan Kir di pundak Dunk yang warnanya hari ini lebih hangat dari biasanya, seperti makhluk yang sedang menyesuaikan diri dengan suhu emosional yang berbeda dari suhu tempat yang sudah ditinggalkan.

Sarapan yang dihangatkan adalah nasi dan lauk yang sudah ada di meja dalam keadaan tertutup, cara ibu Rael menyimpan makanan untuk orang yang akan datang tapi waktunya tidak pasti.

Rael makan. Ibunya duduk di kursi seberang dengan cangkir teh yang tidak diminum, hanya dipegang, tangannya melingkar di cangkir dengan cara orang yang butuh sesuatu untuk dipegang.

Mereka tidak bicara selama beberapa menit pertama. Ini tidak canggung karena mereka sudah pernah duduk dalam diam yang seperti ini sebelumnya, diam yang tidak perlu diisi karena sudah cukup penuh dengan keberadaan satu sama lain.

"Ayahmu di sektor tiga belas," kata ibunya akhirnya. "Ia akan kembali siang."

"Ia tahu glider tidak ada?"

"Ia yang pertama tahu."

"Ia marah?"

Ibunya minum tehnya sebentar. "Ia khawatir. Marah itu setelah khawatir selesai."

"Sekarang masih khawatir?"

"Sekarang kamu sudah ada di depannya, jadi khawatir selesai." Ibunya meletakkan cangkir. "Marah bisa dimulai nanti."

Rael menatap makanannya. "Aku tahu."

"Makan dulu."

Ia makan. Nasi yang dihangatkan tidak pernah sama baiknya dengan nasi yang baru matang tapi ada sesuatu tentang makanan yang dibuat oleh seseorang yang menunggu kamu pulang yang membuatnya terasa berbeda dari makanan yang sama yang dibuat untuk yang lain.

"Ibu," katanya.

"Hm."

Lihat selengkapnya