Suara Penghubung
Lyris Vaen
Lyris bangun sebelum cahaya. Ini bukan kebiasaan yang ia pilih dengan sadar. Tubuhnya sudah lama berhenti menunggu fajar sebagai tanda. Di usianya yang ke sekian puluh tahun, raga telah menjadi instrumen yang menyetel diri sendiri, menangkap pergeseran kelembaban udara dan getaran akar jauh di bawah tanah, lalu mendorongnya keluar dari tidur beberapa saat sebelum langit Sentra berubah dari hitam menjadi tembaga tua.
Ia duduk di tepi tikar anyaman, menunggu. Veth di punggungnya bergerak sedikit, menyesuaikan diri dengan perubahan postur, seperti yang selalu dilakukannya dalam tiga puluh tahun terakhir tanpa pernah perlu diminta.
Di luar gubuk kayu, hutan masih diam.
Bukan sunyi, karena hutan tidak pernah benar-benar sunyi. Selalu ada suara, selalu ada napas kecil dari ratusan organisme yang berbagi udara yang sama. Tapi ada perbedaan antara diam yang hidup dan diam yang mendengarkan, dan pagi ini hutan terasa seperti yang kedua. Seperti sesuatu sedang menahan napas.
Lyris merentangkan jari-jarinya ke lantai.
Papan kayu yang ia injakkan telapak tangannya bukan sembarang kayu. Itu bagian dari pohon Telhar yang sudah mati tiga belas tahun lalu, diambil bukan karena ditebang melainkan karena sudah rela. Bahkan dalam kematiannya, Telhar masih menjadi bagian dari Jalinan, meneruskan getaran-getaran kecil dari akar-akar tetangganya yang masih hidup. Dengan cara itu, gubuk ini bukan bangunan mati. Ia hanya tidur lebih nyenyak dari yang lain.
Getaran yang ia rasakan pagi ini berbeda.
Samar. Bukan samar seperti jauh, tapi samar seperti terganggu. Seperti nada yang sudah lama ia hapal tiba-tiba dimainkan dengan satu senar yang putus.
Veth menekan punggungnya sedikit lebih keras.
Itu bukan gerakan yang Veth lakukan sembarangan. Makhluk itu tidak punya cara bicara selain melalui tekanan dan kehangatan dan dingin yang disampaikannya lewat kontak langsung dengan kulit. Dan tekanan seperti ini, perlahan tapi konsisten seperti kepalan tangan yang tidak mau longgar, biasanya hanya muncul ketika ada sesuatu yang Veth ingin ia perhatikan betul-betul.
"Aku tahu," kata Lyris pelan.
Veth tidak menjawab. Tentu saja tidak. Tapi tekanannya sedikit mereda, seperti orang yang lega sudah didengar.
Ritual pagi Lyris tidak pernah berubah dalam dua puluh tahun. Ia mulai dari sudut timur, tempat akar Telhar paling tua mencuat dari tanah seperti tulang punggung makhluk purba yang setengah tenggelam. Di sana ia berlutut dan meletakkan kedua telapak tangannya rata di permukaan akar. Bukan untuk berdoa, karena Lyris tidak percaya pada ritual semacam itu, tapi untuk mendengar.
Jalinan bekerja seperti saraf yang sangat panjang. Setiap organisme yang terhubung dengannya adalah titik penerima sekaligus titik pengirim. Seekor serangga kecil yang mati di ujung hutan akan dirasakan oleh pohon-pohon terdekat, yang akan meneruskan sinyal itu ke pohon-pohon lain, dan begitu seterusnya sampai seluruh hutan tahu bahwa ada yang hilang. Sebagian besar sinyal itu terlalu kecil untuk dirasakan oleh Sentralis biasa. Tapi Lyris sudah merawat Penghubung ini cukup lama untuk belajar membaca bahkan yang paling samar sekalipun.
Pagi ini, yang ia rasakan membuat tangannya tidak bergerak lebih lama dari biasanya.
Ada kekosongan. Bukan kekosongan sunyi seperti tidur, tapi kekosongan yang tajam, seperti lubang yang dipotong rapi dari kain yang masih utuh di sekelilingnya. Ia bisa merasakan tempat kosong itu di suatu titik yang jauh, di luar jangkauan Penghubung yang ia jaga, di suatu bagian Jalinan yang terhubung ke kawasan yang lebih luas dari sekadar hutan ini.
Lyris mencoba menelusurinya lebih jauh.
Seperti biasanya, Jalinan tidak memberikan gambar atau kata-kata. Ia hanya memberikan rasa. Dan rasa yang sampai padanya sekarang adalah sesuatu yang ia sudah kenal dari pengalamannya bertahun-tahun merawat tanah: kehilangan. Bukan kematian biasa dari seekor pohon atau hewan yang sudah tua. Ini berbeda. Ini kehilangan yang tiba-tiba, tanpa persiapan, tanpa proses.
Seperti sesuatu dicabut paksa.