KOSMOS: KEHANCURAN DI ANTARA BINTANG

Dio Septian
Chapter #2

Chapter 2

Sang Filamen

Erael

Erael tiba di ruang sidang Majelis Filamen tujuh belas menit sebelum sesi dimulai, dan ia sudah menjadi orang ketiga yang datang.

Itu bukan hal yang lazim. Majelis biasanya mengisi dirinya sendiri secara perlahan, para anggota masuk dalam rombongan kecil sambil masih menyelesaikan percakapan dari lorong. Tetapi pagi ini kursi-kursi batu di tepi ruangan sudah terisi setengahnya sejak ia melangkahi ambang pintu, dan yang duduk di sana tidak sedang berbicara. Mereka duduk dengan postur yang berbeda-beda tapi dengan kesamaan yang sama: punggung sedikit kaku, Veth masing-masing memancarkan warna yang ditekan keras, seperti cahaya yang sengaja ditahan agar tidak bocor terlalu jauh.

Erael memilih tempat duduknya di baris tengah, tidak terlalu dekat dengan podium tapi tidak terlalu jauh dari pusat ruangan. Ia meletakkan tas kecilnya di lantai dan menyandarkan punggung ke kursi, membiarkan dirinya menyentuh batu Telhar yang menjadi rangka ruangan ini. Batu Telhar yang sama dengan yang ada di seluruh kota Sentra, yang sama dengan yang terhubung ke Jalinan, yang sama dengan yang pagi ini terasa seperti benang yang ditarik terlalu kencang di bagian tertentu.

Veth di punggungnya sudah merespons sejak ia bangun tidur. Cahayanya berwarna biru gelap dengan semburat lembayung di tepinya, warna yang dalam bahasa tubuh Veth tidak punya satu terjemahan yang mudah. Bukan ketakutan. Bukan kesedihan biasa. Lebih dekat ke kondisi yang Erael selalu gambarkan dalam pikirannya sebagai waspada yang melelahkan, keadaan di mana tubuh tahu bahwa sesuatu perlu dipersiapkan tapi belum tahu persis apa.

Anggota-anggota lain masuk satu per satu. Seorang anggota tua dari Daerah Utara yang biasanya selalu membawa teh herbal dalam kantong kecil, hari ini masuk dengan tangan kosong. Seorang anggota muda dari kawasan delta yang terkenal cerewet di luar sidang, hari ini langsung duduk dan diam. Terakhir masuk adalah Maer, Ketua Majelis, yang melangkah ke podium dengan cara yang tidak membuat suara langkah sama sekali karena ia memang selalu berjalan seperti itu, dengan intensi yang tertanam di setiap gerakan.

Maer tidak membuka sesi dengan basa-basi.

"Kalian semua sudah tahu," katanya. Suaranya tidak keras, tapi ruangan ini dibangun untuk memantulkan suara ke setiap sudut tanpa perlu berteriak. "Dua ratus sebelas. Mereth dan Avaan. Kemarin pagi."

Tidak ada yang merespons. Semua orang sudah tahu. Yang mereka tunggu bukan informasinya.

"Zaer mengirimkan pesan resmi dua belas jam sesudah kejadian," lanjut Maer. "Mereka menyatakan bahwa operasi penambangan di sabuk asteroid dilakukan berdasarkan survei mineral yang dilakukan tiga siklus lalu. Survei tersebut tidak mendeteksi keberadaan Vaethan di lokasi."

Erael mendengar seseorang di baris belakang mengeluarkan napas panjang melalui hidung. Bukan desahan. Lebih dekat ke bunyi yang dibuat seseorang ketika mencoba menahan sesuatu yang ingin keluar lebih keras dari itu.

"Mereka mengakui kerusakan," kata Maer, "tapi tidak mengakui kesalahan. Perbedaan itu disengaja."

"Tentu saja disengaja," kata anggota dari Daerah Utara. Namanya Oran, yang tertua di ruangan ini, dan ketika ia bicara biasanya semua orang mendengarkan bukan karena jabatannya tapi karena ia jarang bicara jika tidak perlu. "Mereka tidak bisa mengakui kesalahan tanpa membuka diri untuk tuntutan lebih lanjut. Ini bukan kelalaian. Ini strategi."

Maer mengangguk sedikit. "Itu salah satu interpretasi."

"Ada interpretasi lain?" tanya Oran.

"Ada," kata Erael.

Semua kepala berbalik ke arahnya. Erael tidak bergerak dari posisinya, tangan masih terlipat di pangkuan, tapi ia merasakan tekanan tatapan itu seperti sesuatu yang fisik. Veth di punggungnya berkedip sekali, cepat, warna keperakan, sebelum kembali ke biru gelap.

"Interpretasi lain adalah bahwa mereka benar-benar tidak tahu. Bahwa survei mineral mereka memang tidak mampu mendeteksi Vaethan karena mereka tidak punya instrumen untuk itu. Karena mereka tidak pernah perlu memiliki instrumen untuk itu. Karena dalam seluruh sejarah peradaban Zaer, tidak ada satu pun konsep yang setara dengan Vaethan." kata Erael.

Ruangan itu diam.

"Itu tidak mengurangi keparahan apa yang terjadi," kata Erael sebelum ada yang memotong. "Dua ratus sebelas tetap dua ratus sebelas. Tapi ada perbedaan besar antara musuh yang berbohong dan pihak yang tidak mengerti. Yang pertama kita hadapi dengan konfrontasi. Yang kedua perlu pendekatan yang berbeda."

Lihat selengkapnya