Planet Tanpa Jalinan
Erael
Perjalanan dari Sentra ke Planet Zaer memakan waktu empat hari dalam kapal kecil yang disediakan Federasi.
Empat hari mungkin terdengar singkat untuk sebuah perjalanan antar-planet, tapi Erael baru menyadari di hari kedua bahwa singkat atau tidak bukan ukuran yang tepat untuk perjalanan seperti ini. Ukuran yang tepat adalah seberapa jauh seseorang merasa dirinya bergerak dari sesuatu yang ia kenal. Dan dalam pengertian itu, empat hari terasa sangat panjang.
Di hari pertama ia masih bisa merasakan Sentra. Bukan lewat penglihatan karena planet itu sudah mengecil menjadi bulatan tembaga di jendela belakang kapal, tapi lewat Jalinan. Jalinan tidak berhenti di permukaan planet. Ia meluas, menipis, meregang mengikuti siapapun yang membawa Vaethan di dalam dirinya. Seperti benang yang sangat panjang dan sangat sabar, yang tidak akan putus selama ujung satunya masih tertancap di tanah yang dikenal.
Di hari kedua benang itu terasa lebih tipis.
Di hari ketiga Erael mencoba menyentuhnya dan mendapati sesuatu yang berbeda dari sekadar lemah. Rasanya seperti menyentuh bayang-bayang dari sesuatu yang dulu pernah nyata. Getaran Lethis tidak ada di sana. Getaran batu-batu kota Sentra tidak ada. Yang tersisa hanya semacam gema yang sudah kehilangan sumbernya, bunyi yang masih terdengar tapi tidak lagi punya asal.
Veth di punggungnya meredup sepanjang perjalanan secara konsisten, seperti lampu yang perlahan kehabisan daya tapi tidak tahu cara meminta diganti. Erael tidak bisa berbuat banyak selain memastikan ia makan dengan teratur dan tidur cukup, dua hal yang terdengar sangat sederhana tapi menjadi semakin sulit ketika tubuhnya mulai merespons jarak dari Vaethan dengan cara yang tidak sepenuhnya bisa ia kendalikan.
Sakit kepala ringan di pagi hari. Rasa berat di dada yang bukan kesedihan tapi berperilaku seperti kesedihan. Tidur yang datang terlambat dan pergi terlalu cepat.
Ia tidak menceritakan ini kepada siapapun karena tidak ada siapapun di kapal itu selain pilot yang tugasnya terbatas pada navigasi dan tidak berbicara lebih dari yang diperlukan. Itu mungkin pilihan yang disengaja dari Federasi. Memberi Erael ruang untuk mempersiapkan diri tanpa gangguan. Atau mungkin memang tidak ada yang mau ikut.
Di hari keempat ia berhenti mencoba menyentuh Jalinan.
Bukan karena menyerah. Tapi karena ia menyadari bahwa terus mencoba sesuatu yang semakin tidak ada hanya membuatnya semakin sadar akan ketiadaannya. Lebih baik mempersiapkan diri untuk apa yang ada di depan daripada terus menggenggam apa yang sudah tertinggal di belakang.
Ia membuka catatan-catatannya tentang Zaer, yang ia kumpulkan dari arsip Majelis selama bertahun-tahun. Bukan banyak, karena kontak resmi antara dua peradaban ini selama ini selalu berlangsung melalui perantara jarak jauh, sinyal komunikasi tanpa pertemuan langsung, perjanjian batas yang ditandatangani oleh perwakilan yang tidak pernah bertemu muka. Tapi cukup untuk memberi gambaran.
Zaer lebih kecil dari Sentra. Orbitnya lebih jauh dari bintang Anttan, yang berarti suhunya lebih rendah dan vegetasinya lebih jarang. Peradaban mereka berkembang bukan dengan cara menyatu dengan lingkungan melainkan dengan cara mengatasi lingkungan, membangun di atas apa yang ada, mengekstrak apa yang diperlukan, dan bergerak ke tempat baru ketika tempat lama sudah tidak cukup. Cara pandang yang bagi Erael terasa seperti selalu berlari dari sesuatu tanpa pernah berhenti untuk mendengar tanah di bawah kaki.
Tapi cara pandang itu menghasilkan teknologi yang jauh melampaui Federasi dalam beberapa bidang. Terutama di bidang perjalanan antar-benda langit dan ekstraksi sumber daya. Dua hal yang, bagi Zaer, adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup dalam jangka panjang. Dan dua hal yang, bagi Sentra, adalah akar dari semua masalah yang ada sekarang.
Kapal mendarat di platform penerimaan di pinggiran kota terbesar Zaer (Zarot) yang namanya dalam bahasa mereka berbunyi seperti bunyi batu yang jatuh ke logam, sebuah konsonan keras diikuti vokal pendek yang Erael tidak yakin bisa ia ucapkan dengan benar tanpa berlatih lebih lama.
Pintu kapal terbuka.
Erael sudah mempersiapkan diri untuk udara yang berbeda. Ia tahu komposisi atmosfer Zaer dari data survei lama dan ia sudah berlatih bernapas dengan campuran serupa di ruang simulasi Federasi selama seminggu sebelum keberangkatan. Tapi yang tidak bisa disimulasikan adalah bau. Udara Zaer berbau seperti mineral dan logam dan sesuatu yang lebih dalam dari itu, sesuatu yang tidak punya nama dalam kosakata Sentralis karena tidak ada yang setara dengannya di Sentra.
Langit di atas platform berwarna abu-abu kebiruan. Bukan gelap, hanya berbeda dari amber yang sudah menjadi referensi warna langit dalam seluruh hidupnya. Matahari Anttan terlihat lebih kecil dari sini, lebih putih, kurang hangat dalam penampilan meskipun suhunya secara angka tidak jauh berbeda.
Yang paling langsung ia rasakan bukan udara atau langit.
Yang paling langsung ia rasakan adalah ketiadaan.
Oran benar. Mengetahui bahwa suatu tempat tidak punya Jalinan berbeda dengan benar-benar berdiri di tempat itu dan merasakan ketiadaannya. Di Sentra bahkan di kota sekalipun, Jalinan selalu ada di bawah. Ia bisa tidak aktif dirasakan, bisa berada di latar belakang seperti detak jantung yang tidak perlu diperhatikan untuk ada. Di sini, di bawah platform logam dan beton yang menjadi fondasi kota Zaer, tidak ada apa-apa. Tidak ada getaran. Tidak ada napas tanah. Tidak ada saling berbicara antara akar dan batu dan air.
Hanya diam yang berbeda teksturnya dari diam yang pernah Erael kenal.
Diam Sentra adalah diam yang penuh. Diam Zaer adalah diam yang kosong.
Veth di punggungnya tidak berpendar sama sekali. Pertama kalinya dalam memori Erael, Veth benar-benar padam seperti organisme yang tidak tahu harus merespons apa karena semua referensi yang dimilikinya tidak berlaku di tempat ini.
Erael berdiri di pintu kapal selama beberapa detik lebih dari yang ia rencanakan. Kemudian ia melangkah keluar.
Perwakilan Zaer yang menjemputnya bernama Rakan.
Erael sudah mempelajari gambaran fisik Zaeren dari dokumentasi yang ada, tapi dokumentasi selalu gagal menangkap hal-hal yang baru bisa dipahami lewat kehadiran langsung. Zaeren berdiri lebih tegak dari yang ia bayangkan, tulang belakang mereka terasa seperti ditopang oleh sesuatu yang lebih keras dari tulang biasa, dan gerakan mereka mengandung ekonomi yang tidak ia temui di antara Sentralis, tidak ada gerakan yang sia-sia, tidak ada ruang untuk ekspresi yang tidak perlu.
Rakan lebih tinggi darinya hampir satu kepala. Matanya berwarna keabu-abuan, warna yang berbeda dari pigmentasi apapun yang ada di Sentra, dan ia menatap Erael dengan cara yang tidak bisa langsung Erael baca karena tidak ada Veth di punggungnya yang bisa menjadi kunci untuk memahami kondisi emosionalnya.