KOSMOS: KEHANCURAN DI ANTARA BINTANG

Dio Septian
Chapter #4

Chapter 4

Di Bawah Langit Amber

Setha

Setha tidak pernah bangun sebelum langit berubah warna.

Ini bukan kemalasan. Atau mungkin iya, sedikit, tapi bukan hanya itu. Pagi di komunitas pesisir Sentra punya ritmenya sendiri yang berbeda dari tempat lain di planet ini, dan ritme itu dimulai bukan dengan cahaya tapi dengan suara. Suara ombak pertama yang cukup besar untuk terdengar sampai ke bagian dalam pemukiman. Suara perahu-perahu kecil yang mulai dilepas dari tambatan oleh nelayan yang lebih tua dan lebih disiplin dari Setha. Suara Ibu Tarev di rumah sebelah yang selalu memasak lebih pagi dari siapapun karena katanya udara pagi membuat bahan masakan menyerap rasa lebih baik, sebuah klaim yang tidak pernah bisa Setha verifikasi tapi yang tidak pernah ia pertanyakan karena hasil masakannya memang selalu lebih enak dari yang lain.

Pagi ini Setha berbaring di tikarnya dan mendengar semua suara itu berurutan seperti biasa sambil menunggu satu suara lagi yang akan benar-benar membuatnya bangun.

Suara Veth-nya.

Veth Setha tinggal di punggungnya seperti semua Veth, tapi berbeda dari Veth kebanyakan Sentralis dewasa yang sudah membentuk Vaethan, Veth Setha masih muda dan masih sering berperilaku lebih seperti makhluk hidup yang punya pendapat sendiri daripada organ yang menyatu dengan sistem saraf pemiliknya. Ia sering bergerak di pagi hari sebelum Setha siap, mendorongnya dengan tekanan kecil yang persisten seperti seseorang yang mengetuk bahu berulang kali sambil menunggu diperhatikan.

Tekanan itu datang tepat ketika langit di luar jendela berubah dari hitam ke tembaga pertama.

Setha menyerah dan duduk.

Komunitas pesisir tempat Setha tinggal tidak punya nama resmi yang dipakai di luar kawasan itu sendiri. Di peta Federasi ia tercatat sebagai Pemukiman Pesisir Sektor Tujuh Belas, nama yang tidak pernah dipakai oleh siapapun yang tinggal di sana karena terdengar seperti label yang ditempelkan dari jauh oleh seseorang yang tidak pernah duduk di tepi lautnya.

Yang dipakai adalah nama lama yang sudah ada sejak generasi pertama Sentralis memutuskan untuk membangun di tepi laut ini: Lethar. Dari kata yang dalam bahasa tua berarti tempat di mana angin dan air bertemu dan memutuskan untuk tidak bertengkar. Nama yang, menurut tetua-tetua di sana, dipilih bukan karena puitis tapi karena akurat.

Lethar adalah komunitas kecil dengan tiga ratus lebih penduduk, sebagian besar bekerja di perikanan dan pengolahan mineral laut, sebagian kecil menjadi pengrajin yang menggunakan material dari simbiont laut untuk membuat alat dan perhiasan yang dijual ke kota-kota lebih besar di pedalaman. Tidak ada yang sangat kaya di Lethar dan tidak ada yang sangat miskin, keseimbangan yang bukan hasil kebijakan tapi hasil dari kenyataan bahwa di komunitas sekecil itu semua orang tahu semua orang dan terlalu sulit untuk mengabaikan kebutuhan seseorang yang namanya kamu tahu dan mukanya kamu lihat setiap hari.

Setha lahir di sini. Ibunya lahir di sini. Neneknya datang dari pedalaman tiga puluh tahun lalu dan memutuskan untuk tinggal karena, katanya, laut Sentra punya cara berbicara yang tidak ia temukan di tempat lain.

Setha tidak tahu apakah ia setuju dengan cara neneknya menggambarkan itu. Tapi ia tahu bahwa ia tidak pernah bisa membayangkan tinggal di tempat yang tidak ada suara ombak di paginya.

Soal Vaethan, Setha belum memilikinya.

Ini bukan hal yang aneh untuk usianya. Ia baru memasuki siklus kedelapan belasnya, dan meskipun beberapa temannya sudah mulai membentuk Vaethan pertama mereka sejak siklus kelima belas atau keenam belas, tidak ada aturan yang mengatakan kapan tepatnya itu harus terjadi. Vaethan tidak bisa dipaksa. Ia tumbuh dari keputusan tubuh dan kesadaran yang bekerja bersamaan, dan tidak semua orang sampai pada keputusan itu di waktu yang sama.

Yang Setha tahu adalah bahwa ia belum siap. Bukan karena takut, karena ia sudah cukup sering menyentuh tanah dan batu dan akar di sekitar Lethar untuk tahu bahwa Jalinan di sana nyata dan hangat dan tidak mengancam. Tapi ada sesuatu di dalam dirinya yang setiap kali ia mulai bergerak ke arah pembentukan Vaethan selalu mundur satu langkah, seperti bagian dirinya yang belum yakin ia mau terikat pada satu tempat selamanya.

Neneknya pernah berkata bahwa Vaethan bukan tentang terikat. Vaethan tentang memilih untuk mencintai sesuatu cukup dalam sampai kamu dan sesuatu itu saling menopang.

Setha mengerti kata-kata itu secara intelektual. Belum sepenuhnya merasakannya.

Veth-nya tidak komentar soal ini. Atau mungkin komentar, tapi Setha belum cukup terlatih membaca sinyal Veth-nya untuk menangkap nuansa yang lebih halus. Yang ia bisa baca adalah yang paling jelas: dorongan ketika harus bangun, kehangatan ketika sesuatu terasa menyenangkan, dingin yang datang cepat ketika ada bahaya. Selebihnya masih seperti mendengar percakapan dalam bahasa yang ia mengerti separuhnya.

Tetua Moran pernah memberitahunya bahwa hubungan antara Sentralis dan Veth-nya menjadi lebih dalam seiring waktu dan perhatian. Seperti semua hubungan, katanya. Semakin kamu mendengarkan, semakin banyak yang bisa kamu dengar.

Setha sedang belajar mendengarkan.

Kabar tentang Mereth dan Avaan sampai ke Lethar dua hari setelah kejadian, bukan karena informasi itu tertahan tapi karena komunitas pesisir tidak selalu berada di jalur pertama penyebaran berita dari Federasi.

Yang menyampaikannya kepada Setha adalah Davan, teman sebayanya yang bekerja di gudang penyimpanan di mana sinyal komunikasi Federasi biasanya diterima pertama kali sebelum disebarluaskan ke seluruh komunitas.

Mereka sedang duduk di dermaga ketika Davan menceritakannya, kaki-kaki mereka menggantung di atas permukaan laut yang bergerak pelan dalam ritme sore hari. Cahaya Anttan sudah mulai condong, mengubah warna air dari biru kehijauan menjadi oranye-emas yang dalam, warna yang Setha selalu anggap sebagai satu dari beberapa hal di dunia yang tidak perlu penjelasan untuk dinikmati.

"Dua ratus sebelas," kata Davan. Ia mengucapkannya dengan nada yang datar, nada orang yang sudah mengulang angka itu beberapa kali dan sudah melewati fase di mana angka itu masih terasa seperti pukulan. "Dari dua Penghubung. Mereth dan Avaan. Asteroid di sabuk luar."

Setha mendengarnya. Tidak berkata apa-apa dulu, membiarkan angka itu duduk di antara mereka bersama suara ombak dan bau garam.

"Zaer?" katanya akhirnya.

Lihat selengkapnya