Tiga minggu setelah kabar pertempuran orbital pertama sampai ke Lethar, komunitas pesisir itu sudah tidak terasa seperti dirinya sendiri.
Perubahan tidak datang sekaligus. Ia datang seperti air yang masuk melalui celah-celah kecil di dinding, sedikit demi sedikit, sampai suatu hari seseorang sadar bahwa lantai sudah basah dan tidak ingat persis kapan itu mulai terjadi. Perahu-perahu nelayan masih keluar di pagi hari tapi kembali lebih cepat dari biasanya, sebelum tengah hari, sebelum cuaca berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa diprediksi. Balai komunitas yang biasanya digunakan untuk makan malam dan pertemuan sosial kini lebih sering digunakan untuk pertemuan koordinasi yang pembahasannya tidak selalu dibagikan kepada semua orang. Anak-anak masih bermain di tepi laut tapi orang tua mereka berdiri lebih dekat dari biasanya, dengan postur yang berbeda, dengan mata yang sesekali menatap ke langit tanpa alasan yang bisa dijelaskan.
Setha memperhatikan semua ini.
Ia bukan orang yang mudah mengabaikan perubahan di lingkungan sekitarnya, sifat yang mungkin berasal dari bertahun-tahun mendengarkan laut yang selalu memberikan tanda sebelum badai tiba, hanya saja tandanya kadang sangat kecil dan perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh untuk dibaca. Lethar sedang memberikan tanda-tanda seperti itu sekarang. Dan tanda-tanda itu mengatakan bahwa komunitas ini sedang mempersiapkan diri untuk sesuatu yang belum ada yang mau menyebutnya dengan nama yang tepat.
PERANG.
Kata itu sudah beredar di antara percakapan-percakapan dewasa sejak seminggu lalu, tapi selalu dengan nada yang sedikit lebih rendah dari kata-kata di sekitarnya, seperti orang yang menyebut nama seseorang yang sedang sakit keras dan tidak mau terdengar terlalu keras berharap yang buruk.
Setha tidak mengerti mengapa menyebutnya dengan nama yang tepat dianggap lebih menakutkan dari membiarkannya mengambang tanpa nama. Sesuatu yang tidak diberi nama tidak menjadi lebih kecil karenanya.
Ileth duduk di depan rumahnya seperti setiap sore, tapi tanpa pekerjaannya biasa. Tidak ada tenun, tidak ada alat apapun di tangannya. Ia hanya duduk dan menatap ke arah laut dengan cara yang membuat Setha berpikir bahwa perempuan tua itu sedang mendengarkan sesuatu yang tidak bisa didengar dari jarak Setha berdiri.
Setha mendekat dan duduk di tangga di bawah kursi Ileth.
"Penghubung pesisir," kata Ileth tanpa menoleh. Bukan pembukaan percakapan. Lebih seperti melanjutkan sesuatu yang sudah ia pikirkan sebelum Setha tiba.
"Ada apa dengannya?" tanya Setha.
"Sudah tiga hari terakhir terasa berbeda." Ileth akhirnya menurunkan matanya dari laut ke tangan-tangannya yang terlipat di pangkuan. Tangan yang sudah banyak digunakan dan yang menunjukkan itu. "Bukan sakit. Lebih seperti... tegang. Seperti sesuatu menarik dari sisi lain."
Setha tahu bahwa Ileth sedang berbicara tentang Vaethan-nya, tentang apa yang ia rasakan melalui koneksi empat puluh siklus dengan batu-batu di tepi laut selatan. Setha tidak bisa merasakannya sendiri karena ia belum punya Vaethan, tapi ia bisa membayangkan seperti apa mendengar sesuatu yang sudah lama akrab tiba-tiba berubah nadanya.
"Apakah ini karena pertempuran orbital?" tanya Setha.
"Bukan langsung. Pertempuran itu terlalu jauh untuk mempengaruhi Penghubung di sini secara fisik." Ileth berhenti sebentar. "Tapi Jalinan terhubung. Ketika Penghubung-Penghubung lain di tempat yang lebih dekat dengan zona konflik merasakan tekanan, seluruh jaringan merasakannya sampai tingkat tertentu. Seperti memegang ujung tali yang sangat panjang dan merasakan seseorang di ujung satunya menarik."
"Kamu khawatir."
Ileth tidak menjawab langsung. Ia menatap laut lagi, ke cakrawala yang sore itu berwarna oranye keemasan karena Anttan sedang condong ke barat. "Saya sudah tua," katanya akhirnya. "Dan orang yang sudah tua tahu bahwa ada jenis kekhawatiran yang perlu dirasakan dengan tenang dan ada jenis yang perlu segera ditindaklanjuti. Ini yang kedua."
"Apa yang perlu dilakukan?"
"Kamu perlu tahu di mana letak Penghubung pesisir itu," kata Ileth. "Dan kamu perlu tahu cara mengenalinya secara visual, dari luar, tanpa perlu Vaethan untuk merasakannya. Batu-batu itu punya karakteristik tertentu yang bisa dilihat kalau tahu cara melihatnya."
Setha menatapnya. "Kenapa saya yang perlu tahu?"
Ileth akhirnya menatapnya balik, dan di mata perempuan tua itu ada sesuatu yang Setha jarang lihat di sana: keputusan yang sudah dibuat dan tidak bisa lagi diubah. "Karena kamu adalah satu dari sedikit orang di Lethar yang tidak terjalinan dengan Penghubung ini. Dan dalam situasi tertentu, itu membuat kamu lebih bisa bergerak bebas dari orang lain."
Setha diam sebentar, memproses implikasi dari kata-kata itu.
"Ileth. Apakah kamu sudah mempertimbangkan bahwa Penghubung ini mungkin akan diserang?"
Perempuan itu tidak menjawab. Tapi ia juga tidak menyangkal.
Dalam lima hari berikutnya, Ileth mengajari Setha cara mengenali batu-batu Penghubung.
Bukan pelajaran formal. Mereka berjalan bersama ke tepi laut setiap pagi sebelum nelayan-nelayan lain mulai sibuk dengan perahu mereka, dan Ileth menunjuk dan menjelaskan dengan cara seseorang yang sudah mengenal sesuatu begitu lama sampai penjelasannya tidak lagi terasa seperti instruksi melainkan seperti memperkenalkan seseorang kepada teman lama.
"Lihat warna di bawah lumut itu," kata Ileth suatu pagi, menunjuk ke kelompok batu di tepi air yang dari jarak tertentu terlihat seperti batu biasa. "Sedikit lebih gelap dari batu di sebelahnya. Bukan karena bayangan. Karena mineral yang berbeda. Penghubung Vaethan hampir selalu terbentuk di titik di mana komposisi mineral dan kelembaban dan aliran air bawah tanah bertemu dalam proporsi tertentu. Kalau kamu tahu cara melihat mineralnya, kamu bisa mengenalinya bahkan tanpa Vaethan."
Setha jongkok di samping batu itu dan memperhatikan. Perbedaan warnanya memang ada, sangat halus, tapi ada. Seperti perbedaan antara kulit yang sehat dan kulit yang punya kehidupan lebih banyak di bawahnya.
"Dan yang itu," lanjut Ileth, menunjuk ke kelompok batu yang sedikit lebih ke utara. "Cara air mengalir di sekitarnya. Lihat bagaimana air tidak pernah menggenang di titik itu bahkan saat pasang? Itu bukan kebetulan. Ada aliran bawah yang menjaga keseimbangannya."
Mereka melakukan ini setiap pagi. Ileth menunjuk, menjelaskan, dan Setha melihat, bertanya, mengingat. Bukan karena Setha mengerti sepenuhnya apa yang ia pelajari atau mengapa ia memerlukannya. Tapi karena Ileth memintanya dan karena ada sesuatu dalam cara Ileth memintanya yang membuat Setha tahu bahwa ini bukan pelajaran yang bisa ditunda.