4.880 EG
Langit yang Tidak Pernah Gelap
Lucastea, planet yang aku huni sekarang
Mereka bilang nenek moyang kami pergi dari Bumi karena tidak punya pilihan lain. Aku tidak
tahu apakah itu benar, memori tentang Bumi sudah terlalu lama menjadi milik buku sejarah, bukan
milik siapa pun yang masih hidup. Yang aku tahu adalah ini: Lucastea tidak pernah benar-benar
gelap.
Langitnya selalu menyala. Bukan dengan cara yang romantis, bukan seperti bintang-bintang
yang orang-orang tua ceritakan dalam kisah tentang planet yang ditinggalkan. Tapi dengan cara
aurora ionik yang menggantung permanen di cakrawala, berwarna ungu-biru, seperti bekas luka
yang sudah terlalu lama ada untuk dianggap luka lagi. Seperti pengingat bahwa atmosfer di sini
bukan milik planet ini sejak awal, ia dipasang, dipompa, dipertahankan oleh mesin-mesin yang
tidak boleh berhenti bekerja sedetik pun.
Kota Velund tumbuh di bawah kubah yang memisahkan udara yang bisa dihirup dari udara yang
tidak bisa. Dari dalam, kubah itu hampir tidak terlihat, hanya lapisan tipis yang sedikit mengubah
warna langit jika kamu tahu harus melihat ke mana. Dari luar, jika ada yang mau berdiri di luar
tanpa baju bertekanan, kubah itu terlihat seperti gelembung besar yang menampung cahaya dan
kehidupan dan ambisi dan kecurangan manusia di dalamnya.
Tiga ratus delapan puluh tahun manusia tinggal di Lucastea. Cukup lama untuk melupakan cara