sera datang keesokan paginya dengan sebuah map cokelat tipis dan wajah orang yang tidak tidur.
Ia meletakkan map itu di atas meja tanpa membukanya, lalu duduk dan menatapku selama beberapa
detik seolah sedang mempertimbangkan ulang keputusannya.
Kemudian ia membuka map itu.
Foto pertama adalah ruangan. Aku mengenalinya dari memori Aldric, ruang kerja pribadi di
lantai empat puluh tiga menara Voss Synthetics, Distrik Pusat. Karpet hitam, meja kayu gelap,
dinding kaca menghadap cakrawala kota. Aldric menghabiskan rata-rata sebelas jam sehari di
ruangan itu selama dua puluh tahun terakhir.
Pada foto ini, ruangan itu terlihat sama persis, kecuali tubuh yang tergeletak di balik meja.
Aku tidak memalingkan muka. Itu adalah tubuhku juga, secara teknis. Menghindar terasa seperti
penghinaan terhadap diri sendiri.
"Ditemukan pukul enam pagi oleh staf kebersihan," kata Sera, suaranya masuk ke mode laporan
yang datar dan terukur. "Pintu utama terkunci dari dalam, kunci mekanis, bukan digital, satu-
satunya jenis yang Aldric-1 percayai untuk ruang kerjanya. Tidak ada jendela yang bisa dibuka.
Sistem ventilasi terlalu sempit untuk dilalui manusia dewasa. Kamera pengawas di koridor
menunjukkan tidak ada yang masuk atau keluar sejak Aldric-1 memasuki ruangan pukul sebelas
malam."
"Kamera bisa dimanipulasi," kataku.
"Bisa. Tapi rekaman dari dua kamera di sudut berbeda keduanya menunjukkan hal yang sama,
dan tim forensik digital tidak menemukan tanda-tanda penyuntingan." Sera mengeluarkan foto
kedua, lebih dekat, lebih detail. "Yang lebih menarik adalah ini."
Foto kedua memperlihatkan tangan Aldric-1. Lebih tepatnya, memperlihatkan pergelangan
tangannya, dan pola luka di sana yang tidak masuk akal.
"Forensik menyebutnya 'luka tekanan internal,'" kata Sera. "Jaringan rusak dari dalam ke luar,
bukan sebaliknya. Seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam tubuhnya."
Aku menatap foto itu lebih lama dari yang seharusnya. Dalam memori Aldric, pergelangan
tangan itu pernah memakai jam tangan pemberian ibunya, pernah dipegang erat oleh seseorang
yang ia cintai di sebuah rumah sakit dua puluh tahun lalu. Sekarang pergelangan itu adalah teka-teki
forensik.
"Penyebab kematian?"
"Resmi: gagal jantung mendadak." Sera memungut foto itu kembali. "Tidak resmi: ada anomali
di jaringan jantungnya yang tidak bisa dijelaskan oleh gagal jantung biasa. Sel-sel otot jantungmenunjukkan tanda-tanda kerusakan yang terstruktur, bukan acak seperti yang terjadi pada serangan
jantung. Lebih mirip... dipadamkan secara sistematis."
Dipadamkan, ulang sesuatu di kepalaku. Bukan suara Aldric kali ini, suara itu terlalu dingin,
terlalu teknis untuk suara seseorang. Lebih seperti kata yang muncul sendiri dari tempat yang belum
pernah ada sebelumnya.
"Ada racun?" tanyaku.
"Tidak ada yang dikenal. Toksikologi bersih dari semua senyawa yang ada dalam database
forensik, dan database itu mencakup lebih dari dua ratus ribu senyawa." Sera mengeluarkan lembar
ketiga, bukan foto, tapi grafik. Serangkaian kurva dan angka yang bahkan dengan memori Aldric
yang punya latar belakang sains dasar, aku perlu beberapa detik untuk menginterpretasikannya. "Ini
pemindaian selular dari jaringan yang rusak. Lihat pola kerusakannya."
Aku melihat. Dan sesuatu di dalam pemahaman yang kuwarisi dari Aldric mulai menyusun
gambar yang tidak ingin ia susun.
"Ini terstruktur," kataku pelan. "Terlalu terstruktur. Seperti ada instruksi."
Sera menatapku dengan tajam. "Apa maksudmu?"
"Dalam penelitian kloning generasi ketiga, Aldric pernah membaca makalah tentang ini, aku
punya memorinya, ada teori tentang penanda selular yang bisa diprogram. Semacam kode yang
tertanam di tingkat genetis yang bisa diaktifkan dari luar dengan frekuensi tertentu." Aku berhenti.
Kata-kata berikutnya terasa berat di mulut. "Teknologi itu dikembangkan pertama kali oleh divisi
riset Voss Synthetics. Dua belas tahun lalu. Proyek yang diklasifikasikan dan secara resmi
dihentikan."