pasar lama itu terletak di sudut dermaga yang sudah berhenti menjadi dermaga sejak banjir besar
dua belas tahun lalu merusak fondasi kanal dan tidak ada yang merasa perlu memperbaikinya.
Bangunannya masih berdiri dengan cara yang keras kepala, dinding bata yang sudah kehilangan
warnanya, atap yang agak miring ke kiri, jendela-jendela lantai bawah dipapani kayu dari dalam. Di
depannya ada tanda yang setengah terbaca: Pasar Dermaga Lama, buka setiap hari — kebohongan
kecil yang sudah tidak ada yang repot mengoreksinya.
Aku dan Sera berjalan dari arah yang berbeda dan bertemu di sudut jalan seratus meter dari
bangunan itu, seperti yang sudah ia instruksikan. Dua jam tadi ia mengatur pergerakan kami melalui
rute yang melewati setidaknya empat distrik berbeda, naik turun transportasi publik yang berbeda-
beda, dua kali berjalan kaki melalui pasar yang ramai, semua untuk memastikan bahwa jika ada
yang mengikuti salah satu dari kami, mereka akan kehilangan jejaknya di suatu tempat di antara
semua itu.
"Lantai dua, pintu biru," kataku.
"Aku tunggu di bawah," kata Sera. "Voss-2 bilang ia tidak percaya pada orang yang datang dari
arah korporasi. Investigator resmi lebih buruk dari sekedar nama Voss."
Aku masuk sendirian.
Lantai bawah bangunan itu kosong dan berbau seperti kayu basah dan sesuatu yang lebih tua dari
itu. Cahaya masuk miring melalui celah-celah papan di jendela, membuat potongan-potongan
terang di lantai berdebu yang terlihat seperti denah suatu tempat yang tidak ada. Aku menemukan
tangga di sudut belakang, sempit, berderit, tapi solid.
Lantai dua lebih terang. Ada jendela yang tidak dipapani di sisi utara, menghadap ke kanal yang
sudah kering dan bangunan-bangunan di seberangnya yang sedang dalam berbagai tahap bertahan
hidup. Pintu biru ada di ujung ruangan, biru yang sudah memudar menjadi lebih dekat ke abu-abu,
biru yang pernah lebih biru dari ini pada suatu waktu dan tidak ada yang merasa perlu mengecat
ulang.
Aku berdiri di depannya selama beberapa detik. Kemudian mengetuk.
Tidak ada jawaban.
Aku mengetuk lagi. "Aku tahu kamu di dalam. Voss-2 yang memberi tahu aku alamat ini."
Hening panjang. Kemudian suara langkah yang sengaja dibuat terdengar, bukan langkah orang
yang baru berjalan, tapi langkah orang yang memutuskan untuk membiarkan dirinya terdengar.
Pintu terbuka.
Dan untuk kedua kalinya dalam satu hari, aku melihat diriku sendiri, tapi kali ini sangat berbeda
dari yang pertama sehingga kesamaannya terasa lebih mengejutkan daripada perbedaannya.Voss-3 lebih kurus dari yang aku bayangkan. Rambut yang dipotong sangat pendek di sisi kiri,
lebih panjang di kanan, potongan yang tidak ada dalam memori Aldric mana pun, potongan yang
dipilih bukan dari warisan tapi dari keputusan. Matanya sama, tentu saja sama, tapi cara ia
menggunakannya berbeda: terbuka lebih lebar, lebih waspada, lebih terbiasa memindai lingkungan
daripada mengevaluasi lawan bicara. Mata orang yang sudah lama hidup dengan kemungkinan
bahwa ada yang mengikutinya.
Ia menatapku dari atas ke bawah. Kemudian menatap wajahku. Kemudian menatap tanganku
seolah mencari sesuatu di sana.
"Berapa hari?" tanyanya.
"Lima."
Sesuatu di wajahnya bergerak, ekspresi yang tidak bisa kuidentifikasi dengan tepat tapi yang
terasa seperti campuran antara iba dan kewaspadaan. Ia mundur selangkah, membuka pintu lebih
lebar.
"Masuk. Cepat."
Ruangan di balik pintu biru itu adalah kebalikan total dari unit Voss-2. Di mana-mana ada
sesuatu, tumpukan dokumen di sudut, papan besar di satu dinding penuh dengan kertas-kertas yang
dipasang dengan jarum dan dihubungkan dengan benang, rak buku yang sudah tidak muat lagi
sehingga buku-buku mulai menumpuk horizontal di atas buku-buku vertikal. Di atas meja ada dua
layar yang keduanya menyala dengan jendela-jendela kecil yang terlalu banyak untuk kubaca
semuanya sekaligus.
Dan di mana-mana ada nama. Nama-nama salinan, bukan dengan nomor, tapi dengan nama-
nama yang mereka pilih sendiri atau yang dipilihkan oleh situasi mereka. Aku melihat "Ardan" di
beberapa dokumen, nama yang Voss-3 gunakan untuk dirinya sendiri, dan nama-nama lain yang
tidak aku kenal tapi yang jelas bukan nama Voss.
Ia menarik kursi dari bawah meja dan meletakkannya menghadap ke arahku. Tidak duduk
sendiri, berdiri, bersandar ke dinding, dengan cara orang yang belum memutuskan seberapa lama
percakapan ini akan berlangsung.
"Kamu datang untuk menyelidiki aku," katanya. Kalimat, bukan pertanyaan.
"Aku datang untuk berbicara."
"Perbedaan yang sama yang sudah kamu gunakan dengan Voss-2, aku tebak." Ada sesuatu dalam
nada suaranya yang berbeda dari Voss-2, lebih langsung, lebih sedikit lapisan, lebih tidak peduli
apakah apa yang ia katakan terdengar sopan. "Ia mengirim yang termuda karena mengira aku akan
lebih mudah berbicara dengan seseorang yang belum punya cukup waktu untuk menjadi bagian dari
masalahnya."
"Apakah ia salah?"Jeda. "Belum tahu."
Aku duduk di kursi yang ia taruh. Ia tetap berdiri.
"Kamu tidak merespons panggilan investigasi," kataku.
"Investigasi yang dikelola oleh korporasi yang punya kepentingan langsung dalam hasil
temuannya," jawabnya. "Tidak, aku tidak merespons. Dan aku tidak akan merespons."
"Investigator Munk bekerja di divisi independen."