KOSMOS: SALINAN KEBELAS

Dio Septian
Chapter #10

VOSS-2: YANG PATUH

kami pergi ke Dermaga Timur dan kembali dengan lebih banyak pertanyaan dari yang kami

bawa. Tapi itu untuk nanti. Yang mendesak, ketika kami tiba kembali di fasilitas menjelang malam

hari keempat, adalah pesan singkat yang Voss-2 tinggalkan di saluran yang Sera siapkan untuk

komunikasi tidak resmi, saluran yang tidak terhubung ke sistem mana pun yang bisa dimonitor

korporasi.

Pesannya hanya dua belas kata: Ada yang perlu aku koreksi dari apa yang kukatakan kemarin.

Malam ini.

Sera membaca pesan itu tiga kali. Aku membacanya sekali dan sudah tahu bahwa kami perlu

pergi.

Lift ke lantai tiga puluh delapan terasa lebih sempit dari kunjungan pertama, atau mungkin aku

yang sudah lebih besar dari empat hari lalu, bukan secara fisik, tapi dengan cara yang tidak punya

nama anatomis. Cara seseorang yang sudah tahu lebih banyak dari yang mau ia tahu dan tidak bisa

berpura-pura sebaliknya.

Voss-2 membuka pintu sebelum kami sempat mengetuk. Ia sudah tahu kami datang, tentu saja, ia

yang mengundang, tapi ada sesuatu dalam caranya berdiri di depan pintu yang berbeda dari

kemarin. Kemarin ia berdiri dengan cara orang yang sudah memutuskan seberapa banyak yang akan

ia berikan. Malam ini ia berdiri dengan cara orang yang sudah memutuskan bahwa menyimpan

sesuatu tidak lagi lebih aman dari melepaskannya.

Ruangan yang sama. Furnitur yang sama. Tapi di atas meja ada sesuatu yang tidak ada kemarin,

sebuah cangkir kedua, sudah terisi, sudah menunggu.

Kali ini ia menawarkan.

"Kemarin aku bilang aku mendengar dua nama," katanya, setelah kami semua duduk dan setelah

hening yang pendek yang terasa seperti ia sedang memberi dirinya sendiri kesempatan terakhir

untuk mundur. "Voss-9 dan Voss-3."

"Ya," kataku.

"Itu tidak salah. Tapi tidak lengkap." Ia meletakkan tangannya di atas meja, datar, terbuka, gestur

yang dalam bahasa tubuh manapun berarti hal yang sama. "Ada nama ketiga yang aku dengar. Yang

tidak kusebutkan kemarin karena aku belum yakin apakah menyebutnya akan membuat situasi lebih

baik atau lebih buruk."

"Dan sekarang?" tanya Sera.

"Sekarang aku sudah menghitung selama dua puluh empat jam. Dan aku sampai pada

kesimpulan bahwa jika aku tidak mengatakannya dan sesuatu yang buruk terjadi akibatketidaktahuanmu, aku tidak akan bisa tinggal di dalam kulit ini dengan nyaman." Ia menatapku

langsung. "Voss-8."

Nama itu jatuh di antara kami seperti benda yang berat.

Voss-8. Yang menghilang selama dua tahun. Yang muncul kembali sebulan sebelum Aldric-1

mati. Yang satu-satunya tidak punya alibi dan tidak mengajukan klarifikasi apa pun.

"Kamu yakin?" kataku.

"Aku yakin dengan apa yang aku dengar. Seberapa yakin aku dengan interpretasiku terhadapnya,

itu pertanyaan yang berbeda." Voss-2 mengangkat cangkirnya tapi tidak meminumnya, hanya

memegangnya. "Konteks percakapan yang aku dengar adalah rencana. Bukan diskusi, rencana.

Sesuatu yang sudah cukup matang untuk memiliki pembagian tugas."

"Pembagian tugas seperti apa?" tanya Sera, dan suaranya sudah kembali ke nada investigatornya,

lebih datar, lebih terukur, tapi justru karena itu lebih terasa urgensinya.

"Itu yang tidak kutangkap dengan jelas. Aku mendengar bagian tengah percakapan, bukan awal

dan akhirnya." Ia akhirnya meminum tehnya. "Yang kutangkap hanya tiga nama. Dan kata 'malam

itu' yang diulang dua kali oleh dua orang yang berbeda."

Malam itu. Malam dua belas Maret.

Aku menatap permukaan meja dan mencoba menyusun implikasi dari apa yang baru saja

dikatakan Voss-2. Tiga nama, Voss-3, Voss-9, Voss-8. Tapi dari catatan Voss-3 sendiri, ada lebih

banyak yang terlibat. Yang berarti entah Voss-2 tidak mendengar semua nama, atau ada yang

bergabung kemudian, atau ada anggota koalisi yang nama-namanya disimpan dari percakapan itu

secara sengaja.

"Kamu bilang kemarin bahwa kamu memilih untuk tidak menyelidiki lebih lanjut setelah

mendengar percakapan itu," kataku. "Tapi kamu memutuskan untuk menghubungi investigasi pagi

setelah kematiannya. Itu perubahan yang besar dalam delapan bulan."

Voss-2 menatapku dengan ekspresi yang untuk pertama kali sejak aku mengenalnya terlihat

seperti sesuatu yang tidak sepenuhnya terkontrol.

"Selama delapan bulan itu," katanya, "aku menunggu untuk melihat apa yang akan terjadi.

Lihat selengkapnya