kami pergi ke Dermaga Timur dan kembali dengan lebih banyak pertanyaan dari yang kami
bawa. Tapi itu untuk nanti. Yang mendesak, ketika kami tiba kembali di fasilitas menjelang malam
hari keempat, adalah pesan singkat yang Voss-2 tinggalkan di saluran yang Sera siapkan untuk
komunikasi tidak resmi, saluran yang tidak terhubung ke sistem mana pun yang bisa dimonitor
korporasi.
Pesannya hanya dua belas kata: Ada yang perlu aku koreksi dari apa yang kukatakan kemarin.
Malam ini.
Sera membaca pesan itu tiga kali. Aku membacanya sekali dan sudah tahu bahwa kami perlu
pergi.
Lift ke lantai tiga puluh delapan terasa lebih sempit dari kunjungan pertama, atau mungkin aku
yang sudah lebih besar dari empat hari lalu, bukan secara fisik, tapi dengan cara yang tidak punya
nama anatomis. Cara seseorang yang sudah tahu lebih banyak dari yang mau ia tahu dan tidak bisa
berpura-pura sebaliknya.
Voss-2 membuka pintu sebelum kami sempat mengetuk. Ia sudah tahu kami datang, tentu saja, ia
yang mengundang, tapi ada sesuatu dalam caranya berdiri di depan pintu yang berbeda dari
kemarin. Kemarin ia berdiri dengan cara orang yang sudah memutuskan seberapa banyak yang akan
ia berikan. Malam ini ia berdiri dengan cara orang yang sudah memutuskan bahwa menyimpan
sesuatu tidak lagi lebih aman dari melepaskannya.
Ruangan yang sama. Furnitur yang sama. Tapi di atas meja ada sesuatu yang tidak ada kemarin,
sebuah cangkir kedua, sudah terisi, sudah menunggu.
Kali ini ia menawarkan.
"Kemarin aku bilang aku mendengar dua nama," katanya, setelah kami semua duduk dan setelah
hening yang pendek yang terasa seperti ia sedang memberi dirinya sendiri kesempatan terakhir
untuk mundur. "Voss-9 dan Voss-3."
"Ya," kataku.
"Itu tidak salah. Tapi tidak lengkap." Ia meletakkan tangannya di atas meja, datar, terbuka, gestur
yang dalam bahasa tubuh manapun berarti hal yang sama. "Ada nama ketiga yang aku dengar. Yang
tidak kusebutkan kemarin karena aku belum yakin apakah menyebutnya akan membuat situasi lebih
baik atau lebih buruk."
"Dan sekarang?" tanya Sera.
"Sekarang aku sudah menghitung selama dua puluh empat jam. Dan aku sampai pada
kesimpulan bahwa jika aku tidak mengatakannya dan sesuatu yang buruk terjadi akibatketidaktahuanmu, aku tidak akan bisa tinggal di dalam kulit ini dengan nyaman." Ia menatapku
langsung. "Voss-8."
Nama itu jatuh di antara kami seperti benda yang berat.
Voss-8. Yang menghilang selama dua tahun. Yang muncul kembali sebulan sebelum Aldric-1
mati. Yang satu-satunya tidak punya alibi dan tidak mengajukan klarifikasi apa pun.
"Kamu yakin?" kataku.
"Aku yakin dengan apa yang aku dengar. Seberapa yakin aku dengan interpretasiku terhadapnya,
itu pertanyaan yang berbeda." Voss-2 mengangkat cangkirnya tapi tidak meminumnya, hanya
memegangnya. "Konteks percakapan yang aku dengar adalah rencana. Bukan diskusi, rencana.
Sesuatu yang sudah cukup matang untuk memiliki pembagian tugas."
"Pembagian tugas seperti apa?" tanya Sera, dan suaranya sudah kembali ke nada investigatornya,
lebih datar, lebih terukur, tapi justru karena itu lebih terasa urgensinya.
"Itu yang tidak kutangkap dengan jelas. Aku mendengar bagian tengah percakapan, bukan awal
dan akhirnya." Ia akhirnya meminum tehnya. "Yang kutangkap hanya tiga nama. Dan kata 'malam
itu' yang diulang dua kali oleh dua orang yang berbeda."
Malam itu. Malam dua belas Maret.
Aku menatap permukaan meja dan mencoba menyusun implikasi dari apa yang baru saja
dikatakan Voss-2. Tiga nama, Voss-3, Voss-9, Voss-8. Tapi dari catatan Voss-3 sendiri, ada lebih
banyak yang terlibat. Yang berarti entah Voss-2 tidak mendengar semua nama, atau ada yang
bergabung kemudian, atau ada anggota koalisi yang nama-namanya disimpan dari percakapan itu
secara sengaja.
"Kamu bilang kemarin bahwa kamu memilih untuk tidak menyelidiki lebih lanjut setelah
mendengar percakapan itu," kataku. "Tapi kamu memutuskan untuk menghubungi investigasi pagi
setelah kematiannya. Itu perubahan yang besar dalam delapan bulan."
Voss-2 menatapku dengan ekspresi yang untuk pertama kali sejak aku mengenalnya terlihat
seperti sesuatu yang tidak sepenuhnya terkontrol.
"Selama delapan bulan itu," katanya, "aku menunggu untuk melihat apa yang akan terjadi.