Distrik Pelabuhan Lama tidak pernah sepenuhnya mati tapi juga tidak pernah sepenuhnya hidup,
ia ada di antara keduanya dengan cara yang terasa seperti keputusan yang sudah lama berhenti
dicoba untuk diubah. Bangunan-bangunannya lebih tua dari regulasi kloning, lebih tua dari Voss
Synthetics, lebih tua dari sebagian besar sistem yang sekarang menentukan apakah seseorang punya
hak untuk disebut manusia. Ada sesuatu yang agak menenangkan dalam kekutuaan itu, dalam cara
ia berdiri tanpa perlu membuktikan relevansinya kepada siapa pun.
Unit hunian Voss-4 dan Voss-5 ada di lantai tiga sebuah gedung yang eksteriornya terlihat lebih
tua dari interiornya, atau mungkin sebaliknya, aku tidak bisa memutuskan. Sera menunggu di luar
lagi. Ini sudah menjadi pola kami: aku masuk, ia menjaga perimeter dari jarak yang cukup untuk
terlihat tidak terlibat tapi cukup dekat untuk berguna jika sesuatu yang tidak direncanakan terjadi.
Aku mengetuk pintu nomor tiga ratus empat belas.
Yang menjawab adalah dua wajah sekaligus.
Ini berbeda dari bertemu Voss-2 atau Voss-3. Dengan mereka, ada keterkejutan sebentar, satu
momen ketika otak perlu menyesuaikan diri dengan kenyataan bahwa wajah di depannya adalah
wajahnya sendiri. Tapi dengan Voss-4 dan Voss-5, keterkejutan itu berlipat ganda dengan cara yang
tidak sekadar dua kali lebih banyak, melainkan secara eksponensial lebih disorientatif. Karena
bukan hanya ada dua wajahku di depan pintu, ada dua wajahku yang sedang saling menatap satu
sama lain dengan cara yang sudah sangat terbiasa, dua wajah yang sudah lama berdamai dengan
keberadaan satu sama lain jauh sebelum aku ada.
Mereka identik dalam semua hal yang bisa diukur secara fisik. Tapi dalam dua detik pertama
berdiri di depan mereka, aku sudah bisa menangkap perbedaan yang tidak bisa diukur: cara Voss-4
berdiri sedikit lebih ke depan, cara Voss-5 condong sedikit ke kiri. Cara yang satu mengevaluasi
tamunya dari atas ke bawah sementara yang lain sudah memindai koridor di belakangku sebelum
matanya kembali ke wajahku.
Mereka tidak berkata apa-apa selama beberapa detik. Kemudian Voss-4, yang di depan,
menggerakkan kepalanya satu sentimeter ke kiri. Voss-5 mengangguk, sangat kecil, tanpa ada
pertanyaan yang diucapkan dan tanpa ada jawaban yang terdengar.
"Masuk," kata Voss-4.
Satu kata, tapi aku bisa merasakan bahwa keputusan untuk mengucapkannya bukan milik satu
orang.Ruangan mereka adalah sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya kusiapkan diri meski sudah
membaca berkasnya. Bukan karena berantakan atau tidak biasa secara visual, justru sebaliknya,
ruangan itu sangat teratur, sangat fungsional, dengan setiap benda di tempatnya dan setiap tempat
punya bendanya. Yang tidak bisa disiapkan adalah atmosfernya: rasa bahwa ruangan ini sudah lama
menjadi semesta yang lengkap untuk dua orang, semesta yang tidak membutuhkan pintu terbuka
karena semua yang perlu ada sudah ada di dalamnya.
Ada dua kursi menghadap satu meja, bukan dua kursi di sisi meja yang berbeda, tapi dua kursi
berdampingan menghadap ke arah yang sama, seperti dua orang yang sudah terbiasa melihat dunia
dari sudut yang identik. Di atas meja ada buku-buku dengan penanda di halaman-halaman berbeda
dan catatan-catatan kecil yang tulisan tangannya bergantian antara dua gaya yang mirip tapi tidak
identik, gaya yang sama tapi sudah berevolusi ke arah yang berbeda dalam lima tahun terakhir.
Mereka duduk berdampingan. Aku duduk di kursi yang mereka letakkan di depan mereka,
sendiri, menghadap keduanya, dengan perasaan sedang diwawancara bukan mewawancari.
"Kamu yang kesebelas," kata Voss-5. Bukan pertanyaan.
"Ya."
"Berapa hari?" tanya Voss-4.
"Enam."
Mereka saling menatap sebentar, sekilas, sangat cepat, dengan cara yang sudah tidak
membutuhkan kata-kata karena kata-kata akan lebih lambat dari apa yang sudah terjadi di antara
keduanya.
"Kamu sudah bertemu berapa?" tanya Voss-4.
"Dua dan Tiga."
"Urutan yang menarik," kata Voss-5.
"Kenapa?"
Mereka tidak langsung menjawab. Ada proses yang terjadi di antara mereka, tidak kelihatan,
tidak terdengar, tapi terasa seperti udara di ruangan berubah tekanannya sedikit. Kemudian Voss-4
berbicara, dan Voss-5 melanjutkan, dengan cara yang terasa seperti satu kalimat yang dibagi
menjadi dua bagian bukan karena tidak ada pilihan, tapi karena memang selalu seperti itu.
"Dua memberikan informasi yang aman,"
"— Tiga memberikan konteks yang berbahaya."
"Keduanya mengarahkan kamu ke sini,"
"— tapi dengan harapan yang berbeda tentang apa yang akan kamu temukan."
Hening. Aku duduk di tengah kalimat yang baru saja selesai diucapkan oleh dua orang sekaligus
dan mencoba menyusun apa yang baru saja didengar telingaku.
"Kamu mengatakan itu seolah kamu sudah tahu percakapanku dengan mereka," kataku."Tidak perlu tahu secara spesifik," mulai Voss-4.
"— untuk memahami pola yang mereka ikuti," selesai Voss-5. "Dua selalu memberikan