Voss-3 membuka pintu biru sebelum kami sempat mengetuk, ia sudah melihat kami dari jendela,
atau sudah mengantisipasi bahwa kami akan kembali, atau keduanya. Ia menatap perangkat di
tanganku selama satu detik penuh. Kemudian mundur dan memberi jalan tanpa bertanya apa pun.
Beberapa hal tidak perlu dijelaskan untuk dipahami.
Pembaca yang ia keluarkan dari laci mejanya sudah usang, perangkat keras yang terakhir
diproduksi sekitar era yang sama dengan penyimpan data yang Voss-10 gunakan, dua teknologi
lama yang kebetulan masih kompatibel satu sama lain. Voss-3 menghubungkan keduanya dengan
kabel yang ia temukan dari kotak di sudut ruangan, kotak yang isinya terlihat seperti kuburan
teknologi dari dekade lalu yang tidak ada yang punya hati untuk membuang.
Kami bertiga duduk di sekitar meja. Sera di kiri, Voss-3 di kanan, aku di depan layar kecil yang
menyala dengan satu direktori dan di dalamnya: tiga puluh tujuh berkas.
Tiga puluh tujuh. Aku menatap angka itu dan merasakan sesuatu yang tidak punya nama yang
tepat, campuran antara antisipasi dan sesuatu yang lebih dekat ke rasa takut dari yang mau aku akui.
"Buka dari yang pertama," kata Voss-3.
Berkas pertama adalah rekaman suara. Tidak ada video, tidak ada teks pengantar, hanya audio,
berdurasi empat menit dua puluh detik, dengan kualitas yang sedikit berbintik seperti rekaman yang
dibuat di ruangan yang tidak dirancang untuk akustik yang baik.
Suaranya adalah suaraku. Tentu saja. Suara yang sama dengan suaraku, dengan suara Aldric,
dengan suara semua salinan yang pernah ada, tapi dengan cara yang sudah sedikit berbeda, sedikit
lebih pelan di akhir kalimat, sedikit lebih hati-hati dalam memilih jeda. Enam bulan keberadaan
yang tidak meninggalkan jejak di mana pun ternyata sudah cukup untuk membuat perbedaan kecil
itu.
Voss-10 berbicara seperti seseorang yang tidak yakin apakah rekamannya akan didengar tapi
memutuskan untuk berbicara seolah-olah yakin. Ada keberanian kecil dalam itu, atau mungkin
bukan keberanian, mungkin hanya ketiadaan pilihan lain.
Jika kamu mendengar ini, berarti kamu menemukan jalan ke sini. Itu artinya Aldric-1 sudah
mati. Dan itu artinya aku benar tentang setidaknya satu hal yang kuharap bisa salah. Namaku, yah,
kamu tahu apa namaku. Yang belum kamu ketahui adalah bahwa aku sudah tahu tentang semua ini
lebih lama dari yang kamu bayangkan. Bukan karena aku memata-matai siapa pun. Tapi karena ada
orang yang memutuskan untuk mempercayaiku dengan sesuatu yang terlalu berat untuk ia simpan
sendiri. Orang itu adalah Imara Solís.
Sera menarik napas di sebelah kiriku. Sangat pelan, hampir tidak terdengar, tapi terdengar. Ia menemukanku dua bulan setelah aku aktif. Aku tidak tahu bagaimana ia tahu di mana aku
berada, sampai sekarang aku masih tidak tahu sepenuhnya. Yang aku tahu adalah bahwa ia datang
bukan sebagai ancaman dan bukan sebagai penyelamat. Ia datang sebagai seseorang yang
membawa dokumen dan membutuhkan seseorang yang tidak punya kepentingan apa pun untuk
menyimpannya. Ia memilihku karena aku yang paling baru. Karena aku belum punya waktu untuk
memilih sisi.
Seperti alasan Aldric-1 mencetak aku, pikir sesuatu di dalam kepalaku. Semua orang mencari
yang paling baru karena yang paling baru belum rusak oleh apa pun yang terjadi sebelumnya.
Apa yang ia ceritakan membutuhkan waktu tiga malam. Tiga malam di tempat yang berbeda-
beda, tidak pernah tempat yang sama dua kali, dengan cara yang membuat aku mengerti mengapa ia
sudah bertahan empat tahun tanpa ditemukan. Ini yang ia ceritakan. Dua belas tahun lalu, proyek
penanda selular tidak dihentikan. Ia dipindahkan. Dipindahkan dari divisi riset resmi ke sebuah unit
yang tidak punya nama dalam struktur organisasi mana pun, yang pendanaannya disamarkan
melalui setidaknya enam lapisan perusahaan cangkang, dan yang hasil pekerjaannya langsung
melapor kepada satu orang: Aldric Voss-1. Imara Solís menjalankan proyek itu selama delapan
tahun setelah pemindahan itu. Bukan karena mau, tapi karena ia sudah terlalu dalam untuk keluar
dengan cara yang aman. Setiap kali ia mencoba, ada pengingat halus bahwa pengetahuannya adalah
aset yang nilainya bergantung pada kesetiaan pemegangnya. Tapi delapan tahun adalah waktu yang
lama. Dan dalam delapan tahun itu, ia menyimpan salinan dari semua yang ia kerjakan.
Aku menatap layar kecil itu. Tiga puluh tujuh berkas. Tiba-tiba jumlah itu terasa bukan seperti
banyak melainkan seperti sangat sedikit untuk delapan tahun pekerjaan rahasia.
Peneliti yang mati delapan tahun lalu, namanya Deven Cho, bukan kecelakaan. Ia menemukan
cara untuk mendekripsi komunikasi internal unit itu dan mulai mendokumentasikan apa yang ia
temukan. Seseorang mengetahui bahwa ia mendokumentasikan. Dan seseorang memutuskan bahwa
itu cukup alasan. Imara tidak melakukannya. Tapi ia tahu siapa yang melakukannya. Dan itulah
yang membuatnya tidak bisa pergi selama empat tahun setelahnya, karena pergi berarti menjadi
Deven Cho berikutnya. Ketika ia akhirnya pergi, empat tahun lalu, itu karena ia sudah menyiapkan
cukup perlindungan untuk dirinya sendiri. Salinan dari semua dokumen. Bukti yang cukup untuk
menghancurkan cukup banyak orang sehingga menghancurkannya justru akan menjadi terlalu
mahal. Keseimbangan teror, begitu ia menyebutnya. Bukan kebebasan. Tapi cukup menyerupai
kebebasan untuk bisa hidup.