KOSMOS: SALINAN KEBELAS

Dio Septian
Chapter #12

PETUNJUK PERTAMA

Voss-3 membuka pintu biru sebelum kami sempat mengetuk, ia sudah melihat kami dari jendela,

atau sudah mengantisipasi bahwa kami akan kembali, atau keduanya. Ia menatap perangkat di

tanganku selama satu detik penuh. Kemudian mundur dan memberi jalan tanpa bertanya apa pun.

Beberapa hal tidak perlu dijelaskan untuk dipahami.

Pembaca yang ia keluarkan dari laci mejanya sudah usang, perangkat keras yang terakhir

diproduksi sekitar era yang sama dengan penyimpan data yang Voss-10 gunakan, dua teknologi

lama yang kebetulan masih kompatibel satu sama lain. Voss-3 menghubungkan keduanya dengan

kabel yang ia temukan dari kotak di sudut ruangan, kotak yang isinya terlihat seperti kuburan

teknologi dari dekade lalu yang tidak ada yang punya hati untuk membuang.

Kami bertiga duduk di sekitar meja. Sera di kiri, Voss-3 di kanan, aku di depan layar kecil yang

menyala dengan satu direktori dan di dalamnya: tiga puluh tujuh berkas.

Tiga puluh tujuh. Aku menatap angka itu dan merasakan sesuatu yang tidak punya nama yang

tepat, campuran antara antisipasi dan sesuatu yang lebih dekat ke rasa takut dari yang mau aku akui.

"Buka dari yang pertama," kata Voss-3.

Berkas pertama adalah rekaman suara. Tidak ada video, tidak ada teks pengantar, hanya audio,

berdurasi empat menit dua puluh detik, dengan kualitas yang sedikit berbintik seperti rekaman yang

dibuat di ruangan yang tidak dirancang untuk akustik yang baik.

Suaranya adalah suaraku. Tentu saja. Suara yang sama dengan suaraku, dengan suara Aldric,

dengan suara semua salinan yang pernah ada, tapi dengan cara yang sudah sedikit berbeda, sedikit

lebih pelan di akhir kalimat, sedikit lebih hati-hati dalam memilih jeda. Enam bulan keberadaan

yang tidak meninggalkan jejak di mana pun ternyata sudah cukup untuk membuat perbedaan kecil

itu.

Voss-10 berbicara seperti seseorang yang tidak yakin apakah rekamannya akan didengar tapi

memutuskan untuk berbicara seolah-olah yakin. Ada keberanian kecil dalam itu, atau mungkin

bukan keberanian, mungkin hanya ketiadaan pilihan lain.

Jika kamu mendengar ini, berarti kamu menemukan jalan ke sini. Itu artinya Aldric-1 sudah

mati. Dan itu artinya aku benar tentang setidaknya satu hal yang kuharap bisa salah. Namaku, yah,

kamu tahu apa namaku. Yang belum kamu ketahui adalah bahwa aku sudah tahu tentang semua ini

lebih lama dari yang kamu bayangkan. Bukan karena aku memata-matai siapa pun. Tapi karena ada

orang yang memutuskan untuk mempercayaiku dengan sesuatu yang terlalu berat untuk ia simpan

sendiri. Orang itu adalah Imara Solís.

Sera menarik napas di sebelah kiriku. Sangat pelan, hampir tidak terdengar, tapi terdengar. Ia menemukanku dua bulan setelah aku aktif. Aku tidak tahu bagaimana ia tahu di mana aku

berada, sampai sekarang aku masih tidak tahu sepenuhnya. Yang aku tahu adalah bahwa ia datang

bukan sebagai ancaman dan bukan sebagai penyelamat. Ia datang sebagai seseorang yang

membawa dokumen dan membutuhkan seseorang yang tidak punya kepentingan apa pun untuk

menyimpannya. Ia memilihku karena aku yang paling baru. Karena aku belum punya waktu untuk

memilih sisi.

Seperti alasan Aldric-1 mencetak aku, pikir sesuatu di dalam kepalaku. Semua orang mencari

yang paling baru karena yang paling baru belum rusak oleh apa pun yang terjadi sebelumnya.

Apa yang ia ceritakan membutuhkan waktu tiga malam. Tiga malam di tempat yang berbeda-

beda, tidak pernah tempat yang sama dua kali, dengan cara yang membuat aku mengerti mengapa ia

sudah bertahan empat tahun tanpa ditemukan. Ini yang ia ceritakan. Dua belas tahun lalu, proyek

penanda selular tidak dihentikan. Ia dipindahkan. Dipindahkan dari divisi riset resmi ke sebuah unit

yang tidak punya nama dalam struktur organisasi mana pun, yang pendanaannya disamarkan

melalui setidaknya enam lapisan perusahaan cangkang, dan yang hasil pekerjaannya langsung

melapor kepada satu orang: Aldric Voss-1. Imara Solís menjalankan proyek itu selama delapan

tahun setelah pemindahan itu. Bukan karena mau, tapi karena ia sudah terlalu dalam untuk keluar

dengan cara yang aman. Setiap kali ia mencoba, ada pengingat halus bahwa pengetahuannya adalah

aset yang nilainya bergantung pada kesetiaan pemegangnya. Tapi delapan tahun adalah waktu yang

lama. Dan dalam delapan tahun itu, ia menyimpan salinan dari semua yang ia kerjakan.

Aku menatap layar kecil itu. Tiga puluh tujuh berkas. Tiba-tiba jumlah itu terasa bukan seperti

banyak melainkan seperti sangat sedikit untuk delapan tahun pekerjaan rahasia.

Peneliti yang mati delapan tahun lalu, namanya Deven Cho, bukan kecelakaan. Ia menemukan

cara untuk mendekripsi komunikasi internal unit itu dan mulai mendokumentasikan apa yang ia

temukan. Seseorang mengetahui bahwa ia mendokumentasikan. Dan seseorang memutuskan bahwa

itu cukup alasan. Imara tidak melakukannya. Tapi ia tahu siapa yang melakukannya. Dan itulah

yang membuatnya tidak bisa pergi selama empat tahun setelahnya, karena pergi berarti menjadi

Deven Cho berikutnya. Ketika ia akhirnya pergi, empat tahun lalu, itu karena ia sudah menyiapkan

cukup perlindungan untuk dirinya sendiri. Salinan dari semua dokumen. Bukti yang cukup untuk

menghancurkan cukup banyak orang sehingga menghancurkannya justru akan menjadi terlalu

mahal. Keseimbangan teror, begitu ia menyebutnya. Bukan kebebasan. Tapi cukup menyerupai

kebebasan untuk bisa hidup.

Lihat selengkapnya