KOSMOS: SALINAN KEBELAS

Dio Septian
Chapter #13

KITA SEMUA SUDAH SETUJU

sub-Distrik Empat bukan tempat yang ramah untuk orang yang belum pernah ke sana, dan juga

bukan tempat yang ramah untuk orang yang sudah sering ke sana, hanya saja orang yang sudah

sering ke sana sudah berhenti mengharapkan keramahan sehingga tidak merasa kehilangan apa-apa.

Jalannya sempit dan tidak semua bernama. Pencahayaannya berasal dari sumber-sumber yang tidak

selalu resmi: lampu toko yang dibiarkan menyala sepanjang malam, papan iklan lama yang masih

berfungsi karena tidak ada yang repot mematikannya, jendela-jendela apartemen yang tidak pernah

benar-benar gelap karena orang-orang yang tinggal di dalamnya punya alasan masing-masing untuk

tidak tidur.

Kami bertiga berjalan dengan cara yang sudah berbeda dari dua jam lalu, bukan lagi tiga orang

yang bergerak bersama karena tujuan yang sama, tapi tiga orang yang sudah memutuskan bahwa

bergerak bersama adalah pilihannya sendiri, bukan hanya kebetulan arah yang sejajar. Perbedaan itu

kecil tapi aku bisa merasakannya dalam cara langkah kami menyesuaikan satu sama lain tanpa ada

yang perlu menginstruksikan siapa pun.

Klinik malam yang Voss-3 sebut ternyata bukan klinik dalam pengertian yang biasanya muncul

ketika mendengar kata itu. Tidak ada papan nama, tidak ada tanda medis, tidak ada pintu kaca

bersih yang bisa dilihat dari jalan. Yang ada hanya sebuah pintu kayu di ujung gang sempit yang

sedikit terbuka, dengan cahaya kekuningan yang merembes dari celahnya dan suara kipas angin tua

yang berputar dengan ritme yang tidak sempurna dari dalam.

Voss-3 mengetuk dengan cara tertentu, tiga ketukan pendek, jeda, dua ketukan, dan pintu dibuka

oleh perempuan berusia sekitar lima puluhan dengan rambut kelabu yang dikepang longgar dan

tangan yang sudah terbiasa bekerja malam.

"Ardan," katanya, dengan nada yang tidak mengandung kejutan tapi mengandung sesuatu yang

lebih dekat ke kelegaan. "Lama."

"Rue." Voss-3 mengangguk. "Ia di sini?"

Rue melirik ke arahku dan Sera sebentar, penilaian cepat yang terasa seperti kebiasaan orang

yang sudah lama harus memutuskan siapa yang bisa dipercaya dalam hitungan detik pertama

pertemuan. Kemudian ia membuka pintu lebih lebar.

"Sudah sejam. Lucid malam ini. Tapi tidak tahu sampai kapan."

Bagian dalam klinik itu lebih besar dari yang terlihat dari luar, atau mungkin terasa lebih besar

karena furniturnya minimal dan pencahayaannya rendah, cara ruangan kecil yang tidak mencoba

mengisi dirinya sendiri dengan terlalu banyak benda sehingga udara di dalamnya bisa bernapas. Ada

beberapa tempat tidur lipat di sepanjang satu dinding, dua dari antaranya terisi oleh orang yang tidur

dengan cara orang yang tidak punya pilihan lain. Ada meja Rue di sudut dengan peralatan medisdasar yang bersih meski sudah tua. Dan di kursi paling jauh dari pintu, dekat jendela yang

menghadap ke gang, ada seseorang yang duduk dengan lutut ditarik ke dada dan kepala bersandar

ke dinding.

Wajah yang sama dengan wajahku. Tapi lebih tipis, dengan bayangan di bawah mata yang sudah

lama ada di sana, dan cara duduk yang terasa seperti seseorang yang sedang memegang dirinya

sendiri dari dalam agar tidak terburai.

Voss-6.

Ia mendengar langkah kami dan membuka matanya. Tidak terkejut, atau mungkin sudah terlalu

lelah untuk terkejut, aku tidak bisa memastikan. Ia menatapku dengan cara yang berbeda dari cara

Voss-2 atau Voss-3 menatapku, bukan evaluasi, bukan kalkulasi. Sesuatu yang lebih dekat ke

pengakuan yang tidak membutuhkan verifikasi lebih lanjut.

"Yang baru," katanya. Suaranya lebih pelan dari yang kubayangkan, tapi lebih jernih.

"Ya," kataku. Aku menarik kursi lain dan duduk di depannya. Voss-3 dan Sera berdiri sedikit di

belakang, memberi ruang, memahami bahwa ini bukan percakapan yang perlu penonton yang

terlalu dekat.

"Ardan bilang kamu akan datang suatu hari," kata Voss-6. "Tidak bilang kapan."

"Kamu tahu kenapa aku di sini?"

Ia mengangguk perlahan, gerakan yang terasa menghabiskan lebih banyak energi dari yang

seharusnya. "Aldric-1 sudah mati. Kamu mencari yang hilang. Dan kamu pikir aku tahu di mana."

"Apakah kamu tahu?"

Voss-6 menatapku selama beberapa detik. Di matanya ada sesuatu yang susah diidentifikasi,

bukan kebijaksanaan dalam pengertian yang romantis, tapi pengetahuan yang datang dari sudut

yang tidak ada orang lain yang mau atau bisa berdiri di sana cukup lama untuk mendapatkannya.

"Ada yang pernah aku katakan," katanya, "waktu yang tidak aku ingat kapan. Kepada seseorang

yang aku tidak ingat siapa. Tapi kata-katanya masih ada."

Sesuatu di dalam dadaku berhenti bergerak sebentar.

"Kita semua sudah setuju," kataku pelan. "Kamu saja yang tidak diajak."

Voss-6 menatapku dengan cara yang mengkonfirmasi bahwa ia mengenali kata-kata itu tapi tidak

terkejut bahwa aku mengucapkannya.

"Kamu ingat mengatakannya?" tanyaku.

"Tidak." Ia memindahkan pandangannya ke jendela. "Tapi aku ingat perasaan yang ada ketika

mengatakannya. Itu yang biasanya bertahan, bukan kata-katanya, tapi beratnya."

Aku menunggu.

"Aku tidak diajak bukan karena mereka tidak percaya padaku," lanjutnya. "Tapi karena mereka

khawatir kondisiku akan membuat rencana tidak bisa dijalankan dengan presisi yang dibutuhkan.Aku tahu ini karena salah satu dari mereka pernah mengatakan hal itu kepadaku, sebelum aku lupa

Lihat selengkapnya