sera sudah ada di sudut utara alun-alun ketika aku tiba, berdiri di dekat kursi taman yang tidak ia
duduki, dengan jaket yang dikancingkan sampai ke leher meski cuacanya tidak sedingin itu. Cara
orang yang butuh sesuatu untuk dilakukan dengan tangannya sementara kepalanya masih
memproses sesuatu yang belum selesai diproses.
Ia melihatku dari jauh. Menunggu sampai aku cukup dekat untuk bicara tanpa didengar siapa
pun. Kemudian menatapku dengan cara yang sudah aku kenali, bukan cara investigator menatap
tersangka, bukan cara atasan menatap bawahan, tapi cara seseorang yang baru saja melewati sesuatu
dan yang ingin memastikan bahwa orang di depannya juga sudah melewatinya dengan utuh.
"Kamu baik-baik saja," katanya. Kalimat, bukan pertanyaan.
"Baik-baik saja," kataku. "Kamu?"
"Masih di sini." Ia mulai berjalan, arah yang tidak spesifik, hanya bergerak, cara orang yang
pikirannya bekerja lebih baik ketika tubuhnya juga bergerak. Aku berjalan di sampingnya. "Rese
yang menyuruh mereka melepaskanku. Tanpa penjelasan, tanpa catatan resmi, seperti aku tidak
pernah dipanggil ke sana."
"Ia tidak mau ada rekaman bahwa ia pernah mencoba membungkammu," kataku. "Rekaman
seperti itu akan menjadi bagian dari narasi yang sedang berkembang di luar."
Sera mengangguk pelan. "Kamu bicara padanya."
"Ya."
"Apa yang kamu katakan?"
Aku menceritakannya, tidak semuanya, tapi cukup. Sera mendengarkan dengan cara yang tidak
mencoba menghentikan atau mengevaluasi, hanya mendengarkan, dengan tangan di saku dan
langkah yang tetap teratur di trotoar alun-alun. Ketika aku selesai, ia tidak langsung menjawab. Ada
beberapa detik di mana kami berjalan dalam diam yang terasa seperti ia sedang menyusun sesuatu
yang tidak punya bentuk baku.
"Kalimat terakhirmu kepada Rese," katanya akhirnya. "Tentang kemarahan yang sah."
"Ya."
"Kamu mengatakannya karena kamu percaya itu, atau karena kamu tahu itu akan membekas?"
Pertanyaan yang tidak aku antisipasi. Aku berjalan beberapa langkah sebelum menjawab, bukan
karena tidak tahu jawabannya, tapi karena jawabannya butuh cara yang tepat untuk diucapkan.
"Keduanya," kataku. "Dan aku tidak yakin itu dua hal yang berbeda."
Sera menatap jalan di depannya. "Tidak," katanya akhirnya. "Mungkin bukan."
Kami kembali ke ruangan kecil di atas toko reparasi satu jam kemudian, dengan rute yang
berbeda, dengan cara yang sudah menjadi kebiasaan kami: tidak langsung, tidak terpola, tidakmemberikan garis lurus kepada siapa pun yang mungkin sedang mengikuti. Voss-3 dan Voss-10
masih ada di sana. Mereka sudah bekerja selama kami pergi, layar pembaca masih menyala, ada
catatan baru di atas kertas yang Voss-3 siapkan.
"Ada perkembangan," kata Voss-3 sebelum kami sempat duduk. "Jurnalis mengkonfirmasi.
Artikel tayang dalam dua jam. Mereka sudah menghubungi Voss Synthetics untuk konfirmasi resmi,
waktu respons empat jam, artinya pada saat artikel tayang, korporasi tidak punya cukup waktu
untuk menyiapkan narasi tandingan yang terkoordinasi."
"Dan anggota dewan?" tanya Sera.
"Sudah mengajukan permintaan penundaan pelaksanaan Protokol Reset secara formal pagi ini.
Berdasarkan 'bukti baru yang perlu dievaluasi.' Itu mengikat dewan secara prosedural, mereka tidak
bisa melaksanakan dalam dua puluh empat jam jika ada permintaan penundaan yang sedang
diproses."
Sera menghembuskan napas, bukan dengan cara yang terasa seperti lega, tapi seperti seseorang
yang baru menyadari bahwa ia sudah menahan napas lebih lama dari yang ia sadari. "Itu memberi
kita waktu."
"Waktu tapi bukan kepastian," kata Voss-10. "Penundaan bisa ditolak. Narasi bisa dibalikkan.
Rese masih punya pengaruh di cukup banyak tempat untuk membuat proses ini lebih lambat dari
yang kita inginkan."
"Tapi tidak bisa lagi diam-diam," kataku. "Setiap gerakan yang ia buat sekarang akan terlihat.
Dan orang yang tidak terbiasa bergerak di bawah sorotan cenderung membuat kesalahan yang orang
yang sudah terbiasa bergerak dalam kegelapan tidak buat."