KOSMOS: SALINAN KEBELAS

Dio Septian
Chapter #18

IMARA SOLIS

klinik bawah tanah di Sub-Distrik Tujuh tidak terlihat seperti klinik dari luar dan tidak

sepenuhnya terlihat seperti klinik dari dalam. Yang ada di permukaan adalah sebuah toko distribusi

peralatan teknis yang sudah cukup lama berdiri untuk tidak menimbulkan pertanyaan dan yang

cukup sibuk untuk tidak menimbulkan kecurigaan. Aksesnya melalui ruang penyimpanan di bagian

belakang, kemudian tangga yang turun dua lantai ke bawah ke ruangan yang sudah dirancang untuk

tidak terdeteksi dari atas, dinding yang meredam sinyal, ventilasi yang tidak terhubung ke sistem

gedung utama, pencahayaan yang menggunakan jalur daya tersendiri.

Imara Solís menyiapkan tempat ini empat tahun lalu. Tidak sendiri, tapi dengan cara yang

memastikan bahwa setiap orang yang membantunya menyiapkannya hanya tahu bagian kecil dari

keseluruhannya. Cara berpikir seseorang yang sudah lama belajar bahwa informasi yang

terfragmentasi adalah informasi yang lebih aman dari informasi yang utuh di satu tempat.

Ia sudah menunggu ketika kami tiba. Duduk di meja yang penuh dengan layar dan peralatan

yang tidak aku kenali dari memori Aldric maupun dari enam belas hari pengalamanku sendiri,

teknologi yang lebih spesifik dari yang ada dalam peredaran umum, yang dikembangkan untuk

tujuan yang juga lebih spesifik dari yang biasanya diakui secara publik.

Imara Solís berusia sekitar lima puluh tahun, dengan cara bergerak seseorang yang sudah lama

bekerja dalam ruangan yang membutuhkan ketelitian, tidak ada gerakan yang berlebihan, tidak ada

energi yang terbuang. Rambutnya sudah seluruhnya putih meski wajahnya tidak terlihat setua itu,

kontras yang memberi kesan seseorang yang sudah menghabiskan terlalu banyak waktu

memikirkan hal-hal yang menghabiskan seseorang dari dalam.

Ia menatap kami berempat ketika masuk. Matanya berhenti sebentar lebih lama di wajahku dari

di yang lainnya, bukan karena mengenaliku, tapi karena aku wajah yang paling baru dari semua

yang ia sudah habiskan bertahun-tahun memikirkan implikasinya.

"Yang kesebelas," katanya. Bukan salam. Konfirmasi, tapi dengan nada yang berbeda dari cara

Rese mengucapkan kata yang sama beberapa jam lalu. Ini bukan konfirmasi yang mengevaluasi. Ini

konfirmasi yang sudah lama menunggu untuk bisa diucapkan.

"Ya," kataku.

Ia mengangguk satu kali. Kemudian menatap Voss-10 dengan cara orang yang menatap

seseorang yang ia kenal dalam kondisi yang sudah sangat berbeda dari terakhir kali mereka

bertemu.

"Kamu baik-baik saja," kata Imara kepada Voss-10. Kalimat, bukan pertanyaan, tapi yang

mengandung pertanyaan di dalamnya.

"Cukup baik," jawab Voss-10. "Perangkatnya sampai.""Aku tahu. Aku memonitor dari sini." Imara berdiri dari kursinya dengan gerakan yang

menunjukkan ia sudah duduk terlalu lama. "Kalian sudah membaca semuanya?"

"Sebagian besar," kata Sera. "Cukup untuk memahami gambaran besarnya."

"Cukup untuk memahami mengapa kita di sini," kataku.

Imara menatapku lagi. Ada sesuatu dalam cara ia menatap yang berbeda dari cara orang-orang

lain yang sudah aku temui dalam enam belas hari ini menatapku, mereka semua melihat wajah

Aldric dan bereaksi terhadap apa yang wajah itu bawa. Imara melihat wajah Aldric dan bereaksi

terhadap apa yang ia harap tidak ikut terbawa.

"Duduk," katanya. "Semua. Ini akan butuh waktu dan aku lebih suka kalian tidak berdiri selama

percakapan ini."

Imara Solís berbicara seperti seseorang yang sudah menyiapkan versi paling efisien dari apa

yang perlu dikatakan dan yang tidak mau membuang waktu pada detail yang bisa diabaikan, tapi

yang juga tidak mau memotong detail yang justru membuat seluruh gambar bisa dipahami bukan

hanya secara faktual tapi secara manusiawi.

Ia mulai dari awal. Bukan dari dua belas tahun lalu ketika proyek dipindahkan, tapi dari sebelum

itu, dari pertama kali Aldric-1 datang kepadanya dengan ide yang ia gambarkan sebagai "solusi

untuk masalah keberlanjutan." Cara Aldric menggambarkannya waktu itu: bukan sebagai senjata,

bukan sebagai alat kontrol. Sebagai asuransi. Cara untuk memastikan bahwa ciptaannya, semua

salinannya, tidak bisa digunakan melawannya atau melawan orang-orang yang ia lindungi.

"Aku seharusnya menolak dari awal," katanya, dengan nada yang tidak mencari pembelaan tapi

yang juga tidak melakukan penghukuman diri secara berlebihan. "Tapi aku tidak menolak. Karena

waktu itu aku masih cukup percaya bahwa teknologi itu sendiri netral, bahwa yang menentukan

apakah sesuatu berbahaya adalah cara penggunaannya, bukan keberadaannya."

"Dan kamu berubah pikiran," kata Voss-3. Bukan dengan cara yang menghakimi, dengan cara

seseorang yang ingin memahami kapan tepatnya seseorang berubah pikiran tentang sesuatu yang

besar.

"Deven Cho mengubah pikiranku," kata Imara. "Ia bukan satu-satunya yang mulai

mempertanyakan apa yang kami kerjakan. Tapi ia satu-satunya yang cukup tidak bijaksana, atau

cukup berani, tergantung dari sudut mana kamu melihatnya, untuk mendokumentasikan pertanyaan-

pertanyaannya." Ia berhenti. "Dan seseorang memutuskan bahwa pertanyaan-pertanyaan itu harus

berhenti."

"Siapa yang membuat keputusan itu?" tanya Sera.

"Rese." Kata itu keluar dari mulut Imara dengan cara yang tidak dramatis tapi yang punya berat

yang akumulatif, berat dari empat tahun menyimpan nama itu dalam kondisi yang membuatnya

tidak aman untuk diucapkan. "Aldric tidak tahu. Atau tidak mau tahu. Aku tidak pernah bisamemastikan yang mana. Tapi Rese yang mengeksekusi, dan Rese yang memastikan tidak ada yang

bisa membuktikannya, dan Rese yang kemudian menggunakan pengetahuannya tentang apa yang

terjadi sebagai leverage atas diriku selama empat tahun berikutnya."

Ruangan itu sunyi kecuali suara peralatan yang beroperasi dalam latar belakang yang konstan

dan datar.

"Kamu keluar empat tahun lalu," kataku. "Bukan karena ia melepaskanmu."

Lihat selengkapnya