KOSMOS: SALINAN KEBELAS

Dio Septian
Chapter #19

ARTIKEL

Artikel itu tayang pukul dua belas empat puluh siang, aku tahu waktunya karena Voss-3 yang

pertama melihatnya, dan karena cara ia mengucapkan kata "sudah" cukup untuk memberitahu

semua yang perlu diketahui tanpa perlu menjelaskan apa pun.

Kami membacanya bersama di layar perangkat Sera, berdiri di trotoar di tepi sebuah taman kecil

yang tidak ada namanya di peta mana pun. Bukan tempat yang dipilih karena strategis, hanya

tempat yang ada di antara Dermaga Timur dan tidak ada tujuan yang pasti, tempat di mana kami

berhenti karena kaki butuh berhenti dan kepala butuh tempat yang tidak tertutup langit-langit.

Artikelnya panjang. Ditulis dengan cara jurnalisme yang baik, tidak dramatis berlebihan, tidak

menghindari detail yang sulit, dengan sumber yang dikonfirmasi dengan cara yang membuat

pembaca bisa menelusuri sendiri jika mereka mau. Ada kutipan dari dokumen. Ada penjelasan

tentang teknologi penanda selular dalam bahasa yang bisa dipahami orang yang tidak punya latar

belakang sains. Ada kronologi. Ada nama-nama, Rese di antaranya, dengan hati-hati tapi dengan

jelas.

Dan ada foto. Bukan foto orang, foto dokumen, foto log akses yang sudah diformat untuk bisa

dibaca oleh mata awam. Bukti yang tidak bisa diabaikan hanya dengan mengatakan bahwa

sumbernya tidak bisa dipercaya.

Kami membacanya dalam diam. Sesekali seseorang menggulir ke bagian berikutnya, sesekali

seseorang berhenti di satu paragraf lebih lama dari yang lain. Tidak ada yang berkomentar sampai

selesai.

Voss-3 yang berbicara pertama. "Mereka menyebut nama salinan dengan nomor."

"Atas

permintaan

Voss-10," kata

Sera. "Ia

menginstruksikan

jurnalisnya

untuk

tidak

menggunakan nama yang sudah dipilih sendiri oleh salinan, karena nama-nama itu adalah identitas

pribadi yang bukan milik cerita ini untuk digunakan."

Voss-3 mengangguk. Tidak mengatakan apa-apa. Tapi ada sesuatu di wajahnya yang berubah

sedikit, sesuatu yang mungkin bisa disebut penghargaan, meski ia tidak mengucapkannya.

Aku membaca paragraf terakhir artikel itu sekali lagi. Jurnalis menutup dengan kalimat yang

sederhana tapi yang terasa seperti kesimpulan yang tepat karena ia tidak mencoba menjadi lebih

dari kesimpulan: Pertanyaan tentang siapa yang melakukan pembunuhan ini dan mengapa

mungkin tidak bisa dijawab oleh sistem hukum yang ada saat ini. Tapi pertanyaan tentang sistem

apa yang memungkinkan pembunuhan ini terjadi, dan sistem apa yang perlu ada untuk

mencegahnya terjadi lagi, adalah pertanyaan yang sudah tidak bisa diabaikan.Reaksi datang dalam gelombang yang tidak sinkron, bukan ledakan tunggal tapi air yang naik

dari berbagai arah sekaligus dengan kecepatan yang berbeda-beda.

Gelombang pertama, paling cepat, datang dari komunitas salinan, jaringan yang Voss-3 bangun

selama enam tahun dan yang semalam menerima informasi lebih awal dari siapa pun. Mereka sudah

membaca, sudah mendiskusikan, sudah menyebarkan ke koneksi-koneksi yang tidak terhubung ke

jaringan resmi. Notifikasi masuk ke perangkat Voss-3 dalam kelompok-kelompok yang semakin

besar, bukan hanya konfirmasi penerimaan, tapi tanggapan, pertanyaan, kisah-kisah dari salinan-

salinan lain yang tidak ada dalam hitungan kami tapi yang ternyata ada, tersebar di kota-kota lain, di

situasi-situasi yang berbeda tapi dengan pengalaman yang cukup mirip untuk saling mengenali.

"Berapa banyak?" tanyaku, menatap layar Voss-3 yang terus diperbarui.

"Lebih dari yang aku perkirakan," katanya. Ada sesuatu dalam nada suaranya yang bukan

kebanggaan tapi yang lebih dekat ke keterkejutan yang tidak tidak menyenangkan, seperti seseorang

yang sudah lama bekerja dalam kegelapan dan yang baru menyadari bahwa ruangan yang ia kira

kecil ternyata lebih besar dari yang ia bisa lihat selama ini. "Jauh lebih banyak."

Gelombang kedua datang dari media, bukan hanya yang menerima dokumen dari Voss-10, tapi

Lihat selengkapnya