KOSMOS: SALINAN KEBELAS

Dio Septian
Chapter #20

PENGKHIATAN

Permintaan untuk bertemu datang dari Voss-9, melalui Voss-3, melalui saluran yang sudah ada

sebelum semua ini dimulai dan yang kini terasa seperti warisan dari dunia yang sudah berubah sejak

semalam. Pesannya singkat: Tiga dari kami ingin berbicara. Besok pagi. Tempat yang kalian pilih.

Tiga dari kami. Voss-9, Voss-8, Voss-7. Koalisi yang sudah tidak punya nama dan tidak punya

perlindungan yang sama seperti kemarin, karena artikel sudah tayang, karena nama-nama sudah ada

di tempat yang tidak bisa ditarik kembali, karena dunia sudah mulai bergerak ke arah yang

membuat diam menjadi pilihan yang semakin mahal.

Voss-3 meneruskan pesan itu padaku dengan satu kalimat tambahan dari dirinya

sendiri: Terserah kamu. Aku akan ikut jika kamu mau.

Aku tidak berpikir lama. "Besok pagi. Taman tanpa nama di Distrik Barat."

Mereka sudah ada di sana ketika kami tiba, Voss-3, Voss-10, aku, dan Sera yang memutuskan

untuk hadir bukan sebagai investigator tapi sebagai saksi, perbedaan kecil yang masing-masing dari

kami mengerti artinya meski tidak ada yang menjelaskannya.

Tiga wajah yang sama dengan wajahku, duduk di kursi taman yang menghadap ke arah yang

berbeda-beda dengan cara orang-orang yang secara teknis ada di tempat yang sama tapi yang sudah

lama belajar untuk tidak bergantung pada kebersamaan fisik sebagai konfirmasi kebersamaan yang

lebih dalam. Voss-9 di tengah, dengan cara duduk orang yang sudah memutuskan sesuatu dan yang

hadir untuk menyampaikan keputusan itu bukan untuk mendiskusikannya. Voss-8 di kiri, lebih

rapat, lebih waspada. Voss-7 di kanan, dengan ekspresi yang sudah aku baca dari berkasnya dan

yang sekarang terlihat lebih lelah dari yang aku bayangkan.

Tidak ada salam. Tidak ada basa-basi. Sembilan orang yang masing-masingnya punya wajah

yang sama duduk atau berdiri di taman yang tidak bernama di pagi yang sudah mulai hangat,

dengan semua yang terjadi kemarin di antara kami seperti benda yang tidak kelihatan tapi yang

tidak ada yang bisa berpura-pura tidak ada.

Voss-9 yang berbicara pertama. "Kalian menyebarkan semuanya."

"Ya," kata Voss-3.

"Termasuk nama-nama kami."

"Nomor-nomor kalian," koreksi Voss-10. "Nama yang kalian pilih sendiri tidak ada di sana."

Voss-9 menatap Voss-10 dengan cara yang mengandung banyak hal sekaligus, sesuatu yang

bukan kemarahan tapi yang punya tekstur yang sama dengan kemarahan, sesuatu yang mungkin

lebih tepat disebut sebagai pengakuan yang menyakitkan dari seseorang yang tidak terbiasa berada

di posisi ini."Kami tahu," kata Voss-9 akhirnya. "Itulah mengapa kami minta bertemu. Bukan untuk protes.

Untuk mengatakan sesuatu."

Aku menatapnya. Dalam memori Aldric, Voss-9 selalu ada sebagai bayangan dari dirinya yang

bisa saja berbeda, lebih ambisius dalam beberapa hal, kurang sabar dalam hal lain, tapi pada

dasarnya dibentuk dari bahan yang sama. Sekarang duduk di depanku, setelah semua yang sudah

terjadi, ia terlihat seperti seseorang yang sudah membawa sesuatu sangat lama dan yang baru saja

memutuskan bahwa membawanya terus tidak lagi menjadi pilihan.

"Katakan," kataku.

Voss-9 menarik napas. Pelan, terukur, cara bernapas seseorang yang sudah belajar menggunakan

napas sebagai alat untuk mengendalikan apa yang akan keluar setelahnya.

"Kami melakukannya," katanya. "Bukan untuk menyangkal apa yang sudah tersebar. Untuk

mengatakannya secara langsung, kepada orang-orang yang ada di sini. Kami melakukannya. Dan

kami tidak menyesal bahwa Aldric-1 sudah mati, itu bagian yang kami tidak bisa ubah tentang cara

kami merasakannya. Tapi kami menyesal bahwa cara kami melakukannya membuat kalian, yang

tidak kami ajak, yang tidak memilih untuk terlibat, menanggung konsekuensinya."

Hening. Bukan hening yang tidak nyaman, hening yang memberi ruang bagi kata-kata itu untuk

ada sepenuhnya sebelum yang lain datang.

"Kamu tidak mengajak kami," kata Voss-3 akhirnya. Kalimat yang tidak mengandung tuduhan

tapi yang mengandung pertanyaan di baliknya.

"Tidak," kata Voss-9. "Karena kami tahu kamu tidak akan setuju. Dan karena kami tidak mau

memberimu pilihan yang tidak seharusnya kamu punya, pilihan antara ikut atau mengkhianati kami.

Itu bukan pilihan yang adil untuk diberikan kepada seseorang."

"Tapi kamu memilihkan untukku," kata Voss-3. "Kamu memutuskan bahwa aku tidak perlu tahu.

Yang juga bukan pilihan yang adil."

Voss-9 tidak menyangkal itu. "Tidak ada pilihan yang adil dalam situasi yang tidak adil. Yang

bisa kami lakukan hanya memilih mana yang paling sedikit salahnya. Kami mungkin memilih yang

salah."

Voss-8 tidak berbicara. Duduk dengan cara yang sudah menjadi kebiasaannya, diam, memantau,

Lihat selengkapnya