Debu berwarna biru selalu masuk ke paru-paru.
Tidak peduli berapa lapis filter yang dipasang di masker respirator, tidak peduli seberapa rapat
kamu menutup kerah baju tempur, debu Aetheryte selalu menemukan jalan. Kael Dorn sudah
membuktikannya selama enam tahun bertugas di zona tambang: ia batuk biru setiap pagi, dan setiap
pagi ia memutuskan untuk tidak peduli.
Ia berdiri di tepi lubang penambangan Sektor-9, memandang ke bawah.
Lubang itu dalam. Bukan dalam biasa, dalam seperti luka yang sengaja tidak dibiarkan sembuh.
Tujuh ratus meter dari bibir sampai dasar, dindingnya berkilau biru-putih karena kristal Aetheryte
yang tertanam di batu. Di bawah sana, ratusan pekerja kontrak bergerak seperti serangga, mengebor,
mengangkat, mengangkut. Lampu sorot berputar-putar menerangi mereka dari empat sudut. Udara di
bawah panas karena mesin bor plasma yang tidak pernah berhenti.
Dari atas, mereka terlihat begitu kecil.
Kael memalingkan pandangannya.
"Sersan."
Suara itu datang dari kiri. Kael menoleh. Prajurit muda berdiri dua langkah darinya, Trooper Yenas,
usianya mungkin delapan belas tahun, wajahnya masih terlalu mulus untuk jenis pekerjaan ini. Helm
taktisnya tergantung di ikat pinggang, rambut hitamnya penuh debu biru.
"Pakai helmmu," kata Kael datar.
"Tapi kita sedang tidak dalam situasi...."
"Yenas."
Nama itu diucapkan pendek, tanpa nada. Yenas meraih helmnya dan memasangnya tanpa komentar
lebih lanjut.
Kael kembali memandang ke depan. Di kejauhan, di balik formasi batu yang menjulang seperti
tulang belakang makhluk purba, siluet stasiun komando terlihat dengan cahaya merah berkedip di
puncaknya. Armada Ke-7 memiliki dua belas stasiun seperti itu tersebar di seluruh Varus Minor,
sebuah planet yang tidak layak disebut planet kalau bukan karena kandungan Aetheryte-nya. Tidak
ada atmosfer yang bisa dihirup tanpa alat bantu. Tidak ada air. Tidak ada kehidupan selain yang
dibawa oleh Dominion dan dipaksa bekerja di sini.Varus Minor adalah lubang. Sebuah lubang besar di tengah kosmos yang kebetulan mengandung
sesuatu yang membuat seluruh galaksi mau saling bunuh.
Kael mengerti itu sejak hari pertama. Ia hanya tidak pernah mengatakannya dengan keras.
Shift malam dimulai pukul tiga belas ratus waktu lokal, istilah 'malam' di sini hanyalah konvensi,
karena Varus Minor tidak punya siklus siang-malam yang normal. Kael memimpin Regu Tiga belas
belas prajurit, termasuk dirinya, berjalan di sepanjang perimeter Sektor-9.
Tugasnya sederhana secara teknis: pastikan pekerja kontrak tetap bekerja, pastikan tidak ada
sabotase, pastikan laporan produksi sesuai kuota yang dikirim dari Coronis Prime setiap tiga puluh
hari. Kuota yang, dalam dua tahun terakhir, selalu naik. Selalu. Setiap tiga puluh hari, angka baru
turun dari orbit, lebih tinggi dari sebelumnya.
Kael tidak mempertanyakan angka itu. Bukan tugasnya.
"Produksi Sektor-9 turun empat persen minggu ini," suara dari komlink di mansetnya memecah
hening. Suara Letnan Orryn, komandan basis dari dalam stasiun yang hangat dan berfilter udara.
"Pastikan mandor lapangan tahu konsekuensinya, Sersan."
"Diterima," jawab Kael.
Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Di belakangnya, Yenas dan dua prajurit lain mengikuti dalam
jarak empat langkah. Mereka semua tahu apa arti 'konsekuensi' dalam bahasa Dominion: shift
diperpanjang, ransum dikurangi, satu atau dua pekerja dipindah ke Sektor-13 yang kondisinya lebih
buruk sebagai peringatan.
Kael berjalan menuruni jalur batu menuju mulut terowongan utama.
Di sana, seorang mandor menunggu. Pria tua, kulitnya berwarna abu seperti semua orang yang
terlalu lama menghirup debu Aetheryte meski sudah difilter. Matanya lelah. Tangannya bergemetar
sedikit, bukan karena takut, Kael rasa, tapi karena memang sudah tua.
"Kuota lagi?" tanya mandor itu.
"Empat persen."
Pria itu menghela napas panjang. "Kami sudah dorong sampai batas mesin, Sersan. Kalau dipaksa