KOSMOS: THE AETHER WARS

Dio Septian
Chapter #4

SIDANG YANG DIPUTARBALIKAN (MAREN SOLACE)

Ada seni dalam berbohong di hadapan empat ratus orang sekaligus, dan Maren Solace sudah

menguasainya sejak usia tiga puluh.

Seninya bukan pada kata-kata yang dipilih. Kata-kata mudah, siapapun dengan kecerdasan rata-

rata bisa menyusun kalimat yang terdengar benar tanpa menjadi benar. Seninya ada pada tubuh: pada

cara bahu tidak boleh naik meski dada ingin membuatnya demikian, pada cara mata harus bergerak

dengan ritme yang tepat antara menatap langsung dan memalingkan pandangan seolah sedang

berpikir, pada cara tangan diletakkan di podium, terbuka, tidak menggenggam, tidak kaku.

Maren bukan sedang berbohong pagi ini.

Itulah masalahnya.

Ruang Sidang Utama Senat Galaktik dirancang untuk membuat orang merasa kecil.

Langit-langitnya setinggi dua puluh meter, terbuat dari kaca cermin yang memantulkan gambar

seluruh ruangan dari sudut yang sedikit miring, efek arsitektural yang membuat siapapun yang masuk

merasa sedang diawasi oleh versi mereka sendiri yang sedikit lebih kecil. Dua ratus kursi berjejer

dalam formasi setengah lingkaran bertingkat, menghadap ke bawah ke podium pusat. Di balik

podium, layar holografik selebar dinding menampilkan data real-time: harga Aetheryte, posisi

armada, laporan insiden dari seluruh galaksi.

Hari ini layar itu menampilkan satu angka yang besar di tengah: 40.271.

Jumlah korban Orison-IV. Diperbarui setiap enam jam saat tim penyelamat menemukan jenazah

baru.

Maren berdiri di podium, naskah pidatonya terbuka di depannya meski ia tidak membutuhkannya.

Dua puluh dua tahun di Senat sudah melatih pita suaranya untuk berbicara dari memori seolah

berbicara dari hati. Pembeda yang tipis, tapi penting.

"Data terbaru dari Divisi Intelijen Armada," katanya, suaranya merata dan cukup keras untuk

mengisi ruangan tanpa amplifikasi berlebihan, "menunjukkan pola ledakan di Orison-IV konsisten

dengan teknologi jarak jauh kelas Vael-7, jenis yang hanya dimiliki oleh armada Vaelthari generasi

ketiga ke atas."

Dua ratus kepala bergerak. Maren membiarkan satu detik hening.

"Konsisten dengan," ulangnya. "Bukan identik dengan. Saya minta perhatian rekan-rekan Senator

pada perbedaan kata itu, karena dalam dua jam ke depan kita akan diminta untuk membuat keputusanberdasarkan laporan yang menggunakan bahasa yang sangat mirip, dan ketepatan kata sangat

penting."

Di barisan ketiga dari depan, Senator Drav Corein mengetuk meja dengan dua jari, gestur resmi

untuk interupsi. Maren mengangguk ke arahnya.

"Senator Solace." Corein berdiri, tubuhnya tinggi dan tegap seperti mantan perwira militer yang

memang pernah ia jadi. "Apakah ini bukan waktu untuk nuansa linguistik. Empat puluh ribu warga

galaksi mati. Bukti menunjuk ke satu arah. Apa yang sedang kita tunggu?"

Tepukan tangan dari sepertiga ruangan.

Maren tidak memperlihatkan reaksi apapun terhadap tepukan itu. Ia sudah mendengar suara seperti

itu cukup sering untuk tidak takut padanya, dan cukup sering untuk tahu betapa mudahnya suara itu

berpindah arah kalau diberikan alasan yang tepat.

"Kita menunggu verifikasi independen," jawab Maren. "Seperti yang diamanatkan oleh Protokol

Tindakan Militer Pasal Empat Belas, yang rekan-rekan Senator sendiri ratifikasi delapan tahun lalu.

Saya tidak mengusulkan kelambatan, saya mengusulkan prosedur."

"Prosedur tidak mengembalikan nyawa yang hilang."

"Tidak juga perang yang dimulai dari kesimpulan yang salah." Maren menatap Corein langsung.

"Dan kita sudah pernah membuat kesalahan itu sebelumnya, Senator. Dua kali. Dengan biaya yang

semuanya ingat."

Hening yang berbeda dari sebelumnya. Lebih berat.

Corein duduk kembali. Maren melanjutkan.

Sidang berlangsung tiga jam lebih.

Maren berbicara, mendengarkan, menyela, dan menahan diri dari menyela pada momen-momen di

mana nalurinya berteriak untuk bicara. Politik adalah tentang memilih momen, dan momen terbaik

sering kali bukan yang paling mendesak tapi yang paling strategis. Pelajaran itu butuh satu dekade

pertama karier untuk benar-benar ia pahami.

Tapi hari ini ada sesuatu yang mengganggu konsentrasinya.

Bukan apa yang dikatakan, melainkan apa yang tidak dikatakan.

Dalam tiga jam sidang, tidak satu pun senator dari faksi Corein atau aliansinya mempertanyakan

waktu. Siapa yang pertama kali menemukan reruntuhan Orison-IV. Siapa yang mengirim laporan

awal. Berapa lama jeda antara ledakan dan laporan pertama yang masuk ke Senat.

Pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya menjadi pertanyaan paling dasar dalam investigasi

manapun, tidak ditanyakan. Sama sekali.

Maren mencatat itu di sudut catatannya dengan huruf kecil, dengan kode singkat yang hanya ia

yang mengerti, cara lama yang ia kembangkan sejak tahun pertama menjadi senator junior ketika ia

menyadari bahwa tablet catatannya bisa dibaca oleh teknisi IT Senat kapanpun mereka mau.Pertanyaan yang tidak ditanyakan sama penting dengan jawaban yang tidak diberikan.

Istirahat sidang pertama. Foyer luar ruang utama.

Maren menuang air dari karaf di sudut ruangan dan berdiri di dekat jendela, memandang Coronis

Prime dari ketinggian tiga ratus meter. Kota ini adalah karya arsitektur yang tidak kenal batas,

menara-menara melengkung sampai ke stratosfer, jembatan udara menyilang di setiap ketinggian,

cahaya kota begitu padat sehingga dari orbit, Coronis Prime terlihat seperti bintang yang jatuh dan

memutuskan untuk tinggal.

Cantik, kalau kamu tidak tahu berapa banyak koloni di Periphery yang hidup tanpa listrik stabil

supaya kota ini bisa terus bercahaya.

"Senator Solace."

Maren menoleh. Seorang pria muda berdiri dua langkah darinya, wajahnya tidak ia kenal langsung,

tapi lencana di kerahnya menandai ia sebagai staf dari Divisi Riset Senat. Tingkat keamanan dua dari

lima. Biasanya artinya analis junior yang tidak cukup penting untuk punya nama di memori Maren.

Lihat selengkapnya