Maren tidak tidur malam itu.
Bukan karena tidak mencoba, ia berbaring di apartemennya yang tinggi di Tingkat 310 dan
menutup matanya selama tiga jam penuh. Tapi pikiran yang sudah diputuskan untuk bergerak tidak
bisa dihentikan oleh posisi horizontal. Ia akhirnya bangun pukul tiga pagi, membuat kopi yang terlalu
kental dari mesin yang terlalu mahal, dan duduk di depan jendela dengan keping data Tobren di
tangannya sampai cahaya Coronis Prime mulai bersaing dengan cahaya kota.
Data itu sudah ia baca dua belas kali.
Setiap kali ia membacanya, angka dua puluh tiga menit itu tidak berubah.
Laporan masuk dua puluh tiga menit sebelum ledakan.
Ia sudah menulis di atas kertas, kertas sungguhan, bukan digital, kebiasaan lama dari mentor
politiknya yang selalu bilang bahwa hal-hal yang paling penting harus ditulis dengan tangan karena
proses fisik menulis memperlambat pikiran ke kecepatan yang tepat untuk berpikir dengan benar,
daftar semua orang yang punya akses ke jalur distribusi laporan intelijen level tertinggi.
Delapan belas nama.
Ia mencoret yang bisa ia eliminasi berdasarkan posisi dan motif yang masuk akal. Yang tersisa:
tujuh.
Tujuh orang yang mungkin tahu empat puluh dua ribu jiwa akan mati dua puluh tiga menit sebelum
mereka mati.
Maren melipat kertas itu dan membakarnya di atas asbak logam di mejanya. Menonton abunya
sampai dingin. Lalu pergi mandi dan bersiap untuk hari yang akan menjadi salah satu hari terpenting
dalam dua puluh dua tahun kariernya.
Gedung Senat Galaktik di pagi hari berbeda dari gedung yang sama di siang hari sidang resmi.
Di pagi hari, ia adalah tempat di mana pekerjaan sesungguhnya terjadi, bukan di ruang sidang yang
besar dan dirancang untuk penampilan, melainkan di koridor-koridor dan ruang-ruang kerja kecil di
mana senator-senator berbicara dengan staf mereka, menerima briefing dari analis, dan melakukan
sesuatu yang tidak pernah terlihat di kamera tapi adalah inti dari seluruh proses: bernegosiasi secara
informal tentang apa yang akan terjadi secara formal nanti.
Maren tiba dua jam lebih awal dari jadwal sidang.Ia perlu bicara dengan tiga orang sebelum ruang sidang dibuka, dan ketiga percakapan itu harus
terjadi secara terpisah, tanpa satu sama lain tahu bahwa ia juga berbicara dengan yang lain, dan dalam
urutan yang tepat.
Senator pertama: Dael Orvyn dari sistem Tharsis, veteran dua puluh delapan tahun yang punya
reputasi sebagai suara independen dan yang, Maren tahu dari catatan pribadinya, sudah tiga kali
dalam sepuluh tahun terakhir memilih berbeda dari koalisi Corein pada momen-momen kritis. Orvyn
adalah orang yang memilih berdasarkan prinsip, bukan utang, tipe yang semakin langka dan
karenanya semakin berharga.
Maren menemukan Orvyn di kafetaria lantai dua, sendirian dengan secangkir teh dan tablet yang
penuh anotasi.
"Dael." Maren duduk tanpa ditawari. "Kamu sudah baca laporan forensik lengkap Orison-IV?"
Orvyn mengangkat mata. "Versi publik, ya."
"Ada versi lain." Maren meletakkan tabletnya di meja dan membuka file yang sudah ia enkripsi
ulang tadi malam. "Bukan bocoran, ini data yang seharusnya ada dalam laporan publik tapi tidak
dimasukkan. Anomali forensik yang tim Dominion sendiri catat tapi tidak sertakan."
Orvyn membaca. Diam. Membaca lagi.
"Dari mana ini?" tanyanya akhirnya.
"Sumber yang valid dan bisa diverifikasi independen. Tapi tidak sekarang dan tidak di sini." Maren
menatapnya. "Yang saya minta sederhana: tunda putusanmu soal mosi hari ini sampai kamu punya
waktu untuk memproses ini."
Orvyn menutup tablet itu dan mengembalikannya ke Maren. "Kamu akan mengajukan mosi
penundaan?"
"Saya akan mencoba. Tapi Corein sudah punya angkanya. Saya butuh tiga suara yang bersedia
mengajukan permintaan verifikasi independen sebelum armada bergerak."
Pria tua itu memandangi cangkir tehnya sejenak. "Kalau mosi penundaanmu gagal dan armada
sudah bergerak, siapa yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi setelahnya?"
"Semua yang tahu dan diam," jawab Maren.
Orvyn mengambil cangkirnya dan minum.
"Kamu akan punya suara saya untuk permintaan verifikasi. Tidak lebih dari itu, belum."
Maren mengangguk dan berdiri. "Belum cukup."
Senator kedua lebih sulit.
Yvet Cael dari sistem Brennar, perempuan yang baru enam tahun di Senat tapi sudah membangun
reputasi sebagai pragmatis yang dingin. Bukan idealis seperti Orvyn. Bukan pula oportunis murni
seperti terlalu banyak yang lain. Lebih mendekati insinyur, seseorang yang melihat politik sebagai
mekanisme yang bisa dianalisis dan dioptimalkan.Maren menemukannya di ruang kerjanya, sudah di depan tiga layar sekaligus.
"Maren." Cael tidak berhenti melihat layarnya. "Kamu di sini untuk minta suaraku untuk mosi
penundaan."
"Bukan pertanyaan yang kamu ajukan."
"Bukan." Cael akhirnya berbalik. "Karena jawabannya sudah jelas: tidak. Daerah pemilihanku
kehilangan dua kapal kargo di rute Periphery bulan lalu, kemungkinan besar disabotase.
Konstituentku mau tindakan. Mosi penundaan artinya saya bilang ke mereka 'tunggu dulu.' Itu bukan
sesuatu yang bisa saya jual sekarang."
Maren tidak langsung menjawab. Ia duduk di kursi di depan meja Cael dan mengambil waktu
beberapa detik, cara yang ia pelajari untuk menunjukkan bahwa ia tidak terburu-buru, bahwa
percakapan ini adalah prioritas, bahwa yang dikatakan berikutnya diperhitungkan.
"Dua kapal kargo," kata Maren. "Sabotase yang belum terbukti pelakunya."
"Pola ledakannya konsisten dengan,"
"Pola ledakan Orison-IV juga konsisten dengan teknologi Vaelthari," potong Maren. "Tapi laporan
forensik internal Dominion mencatat anomali yang tidak ada di versi publik. Komponen yang tidak
dikenali. Teknologi yang tidak cocok dengan database referensi manapun yang aktif."
Cael diam.
"Kalau benar ada pihak ketiga di sini," lanjut Maren, "dan kita mengirim armada berdasarkan