Perang tidak dimulai dengan deklarasi.
Deklarasi adalah untuk politisi dan sejarawan, untuk orang-orang yang punya cukup jarak dari hal
yang sesungguhnya terjadi sehingga mereka bisa membungkusnya dalam bahasa yang terdengar
bermartabat. Di lapangan, perang dimulai dengan sesuatu yang jauh lebih sederhana: seseorang
menembak, seseorang lain jatuh, dan semua keputusan yang dibuat setelahnya adalah respons
terhadap dua fakta tersebut.
Kael sudah di Vael-Mira selama tiga hari ketika fakta pertama terjadi.
Pukul enam pagi empat puluh dua, seorang penyerang tak dikenal menembak jatuh dua prajurit
Dominion di pos perbatasan Sektor Lima belas. Penyerang melarikan diri ke semak batu di lereng
bukit timur. Identitas tidak diketahui. Senjata: plasma ringan kelas taktis, tidak spesifik untuk satu ras.
Pada pukul tujuh tiga puluh, Letnan Komando mendeklarasikan Kondisi Merah untuk seluruh
garis perbatasan Vael-Mira.
Pada pukul delapan, Regu Kael dikirim ke Sektor Tujuh belas.
Vael-Mira bukan planet yang seharusnya ada perang di sini.
Itu bukan penilaian strategis, itu penilaian geografis. Planet ini terlalu kecil, terlalu miskin sumber
daya, terlalu jauh dari jalur utama untuk bernilai sebagai target militer yang sesungguhnya. Ia ada di
Periphery karena ia ada di Periphery, koloni campuran yang tumbuh organik dari dua generasi
pemukim yang memilih tidak tinggal di bawah bendera Dominion maupun Vaelthari dan membangun
sesuatu di antaranya.
Tiga puluh dua ribu jiwa. Pasar. Sekolah. Ladang hidroponik yang membentang di lembah selatan.
Dinding batu yang dibangun dengan tangan, bukan dengan mesin, karena mesin terlalu mahal dan
waktu masih melimpah dua generasi lalu.
Sekarang ada enam ratus prajurit Dominion di sini. Dan di bukit-bukit di seberang garis, sensor
termal membaca panas tubuh dalam jumlah yang cukup untuk menyebut ini bukan patroli.
Kael berjalan di ujung formasi, Yenas di kiri, Trooper Bax di kanan, pria besar berusia dua puluh
tujuh yang sudah tiga tahun di regu ini dan yang cara bicaranya selalu lebih lambat dari cara
berpikirnya, yang menurut Kael adalah kombinasi yang lebih berguna daripada sebaliknya."Sersan." Bax berbicara pelan meski tidak ada yang mendengar di sini selain mereka. "Saya tidak
suka bukit itu."
Kael menatap ke arah yang dimaksud. Bukit batu setinggi dua ratus meter, permukaannya
berbintik-bintik dengan tanaman rendah berwarna abu-coklat. Tidak ada yang terlihat. Tapi sensor
termal di helm Kael menunjukkan empat belas titik panas yang diam, terlalu diam, diam seperti
sesuatu yang menunggu.
"Saya juga tidak," kata Kael.
Ia mengaktifkan komlink. "Regu Tiga belas ke Komando. Kami di grid B-7. Sensor termal
menunjukkan empat belas kontak di bukit timur, diam, tidak bergerak. Minta klarifikasi status
engagement."
Hening tiga detik. Empat.
[KOMANDO] Regu Tiga belas, konfirmasi posisi musuh jika bergerak ke arah garis perbatasan.
Aturan engagement aktif sejak tujuh ratus.
Aturan engagement aktif.
Artinya: tembak jika ada ancaman yang teridentifikasi. Definisi 'ancaman teridentifikasi'
diserahkan ke komandan lapangan, yaitu Kael.
"Terus maju," katanya kepada regunya. "Dua-satu, jarak empat meter."
Mereka baru berjalan dua ratus meter ketika bukit itu hidup.
Bukan sekaligus. Satu tembakan pertama, dari mana, Kael tidak bisa langsung identifikasi, hanya
suara plasma yang membelah udara dan cahaya merah yang melintas terlalu dekat dengan kepala
Trooper Cenis yang langsung berjongkok.
Kemudian semuanya.
"Kontak! Kontak kiri,"
"Tiga, bukit timur, dua o'clock,"
"Berlindung! Berlindung!"
Kael sudah di balik batu besar sebelum kalimat itu selesai. Insting sebelum pikiran, tubuh yang
sudah terlatih untuk bergerak sebelum otak menyelesaikan analisisnya. Plasma bolt menghantam batu
di sebelah kanannya dan meninggalkan bekas hitam yang berbau seperti logam yang terbakar.
Ia menghitung.
Empat belas kontak di bukit. Regunya: tiga belas orang, tersebar di lapangan terbuka yang tidak
ideal untuk perlindungan. Jarak ke bukit sekitar tiga ratus meter, terlalu jauh untuk tembakan presisi
dengan senjata standar, cukup dekat untuk volume tembakan.
Kael mengangkat kepalanya sedikit, cukup untuk memindai.
Tiga dari regunya sudah di balik perlindungan. Lima masih di lapangan terbuka, berlari ke arah
yang berbeda-beda. Dua, Kael menghitung, menekan rasa yang naik di dadanya, dua tidak bergerak.Dua tidak bergerak.
"Yenas! Status!" Kael berteriak melalui komlink.
[YENAS] Di balik batu, B-grid tiga. Bax bersamaku. Cenis,
Sinyal terputus.
Kael tidak menunggu. Ia mengangkat senapan plasmanya dan mulai memberikan tembakan
penutup ke arah bukit, bukan untuk mengenai, terlalu jauh, tapi untuk memaksa kepala-kepala di sana
masuk ke balik batu dan membeli enam detik bagi orang-orangnya untuk bergerak.
"LINDUNGI YANG TERBUKA! GERAK KE KIRI!"
Mereka bergerak. Sebagian. Trooper Weis berlari ke kiri dalam zigzag yang tidak sempurna tapi
cukup untuk membuatnya sulit ditembak. Trooper Dalla mengikuti. Trooper Heth berlari lurus, cara
paling bodoh untuk berlari di bawah tembakan, dan Kael menahan napas selama empat detik sampai
Heth terjatuh di balik sebuah bongkah batu dan tidak bangkit karena tertembak melainkan karena ia
memilih jatuh ke tempat berlindung.
Kemudian Trooper Arun.
Arun berusia sembilan belas tahun. Ia tiba di regu enam minggu lalu dari depot pelatihan di
Coronis Outer, masih membawa cara berdiri yang terlalu tegak dan cara memegang senapan yang
terlalu rapi, tanda seseorang yang baru belajar dari manual, bukan dari lapangan.
Ia berlari ke kanan.
Kael melihatnya dan tahu dalam setengah detik bahwa kanan adalah arah yang salah, ke kanan
tidak ada perlindungan dalam jarak yang bisa dicapai sebelum sumber tembakan di bukit