Ada sebuah kursi kayu berjarak 8-10 meter dari sisi kiri pintu Taman Bunga The Brave Park. Taman bunga yang terkenal akan keindahannya di kota Angera. Sama dengan kursi taman lainnya, kursi itu dibuat dari beberapa potong kayu yang disusun horizontal dan ditopang oleh 4 kayu vertikal tebal. Titik-titik paku menyembul dari tiap ujung. Angin, hujan, dan panas matahari memudarkan warna aslinya hingga yang terlihat adalah abu-abu. Perlu mencari data yang lebih detail untuk menggambarkan warna aslinya.
Yang membuat aneh, sudah sebulan lebih sejak pindah ke kota ini dan sering menghabiskan waktu senggang di taman, aku belum pernah melihat ada orang yang duduk di sana. Kursi taman lain sekitar 2 atau 3 meter di sebelah kanan dan kiri selalu dikunjungi orang-orang, walau hanya sekadar memperbaiki tali sepatu. Aku sampai membuat nama panggilan untuknya. Kursi taman yang kesepian.
Dugaan awal mungkin aku melewatkan momen saat ada orang yang duduk di sana. Namun, dugaan itu luntur perlahan, melihat bagaimana orang-orang masa bodoh lewat saja, setelah aku pernah tiga jam menunggu. Sempat muncul terkaan bahwa tempatnya kurang strategis. Lalu, demi pohon rimbun lebat bak payung peneduh yang tumbuh di samping kanan belakangnya, anggapan itu pun gugur otomatis. Mungkin ada ranjau di sekitar kayu-kayu penopangnya yang akan meledak seperti bom atom, menghancurkan seisi taman bahkan kota ini, bila ada sedikit tekanan. Tapi demi daun-daun berwarna cokelat keemasan yang terlentang tidak beraturan, juga burung-burung yang kadang bermain-main di atas kayu horizontalnya, pendapat itu juga sirna sekejap. Alasan lain yang lebih irasional sudah gugur otomatis karena aku sendiri bingung mengapa alasan seperti itu keluar dari kepalaku.
Hingga akhirnya suatu sore, tepat 1 bulan 10 hari setelah pindah ke kota Angera, untuk mengatasi rasa menerka-nerka yang sangat memusingkan, aku membuat dua kesimpulan atas kursi itu. Kesimpulan hasil dari perdebatan antara logika dan akal tidak sehat.
Pertama, kualitas kursi itu pasti kurang baik. Mungkin terbuat dari kayu kualitas terbawah. Warna dan fisiknya memang terlihat sama dengan kursi lain, tetapi sebenarnya kayunya sudah lapuk, rapuh, dan reot. Akan sangat membahayakan bila duduk di sana. Bisa saja terjatuh atau ambruk tiba-tiba hingga mematahkan tulang. Paling parah, harus operasi dan akhirnya lumpuh total. Yang tersisa adalah penyesalan di atas kursi roda seumur hidup hanya karena sebuah kursi lapuk nan reot. Untuk argumen yang satu ini, aku sangat yakin. Bahkan, pasti sudah ada orang yang menjadi korban. Aku penasaran seperti apa rupa korbannya dan sudah ada berapa jumlahnya.
Tapi logika membantah dengan argumen yang tak kalah tajam, menusuk ulu hati.
“Kalau memang sudah lapuk, reot, dan membahayakan, mengapa petugas taman tidak membongkar, membuang, atau mengganti dengan yang baru saja? Atau setidaknya menempelkan tanda bahaya agar jelas apa yang terjadi di sana. Agar orang gila dan kurang kerjaan seperti kau ini tidak perlu menghabiskan waktu untuk berdebat mengenai kursi itu.”
Dari dulu, meski aku membenci logika dan lebih menyukai akal tidak sehat alias imajinasi, aku tetap sangat kagum padanya. Logika selalu saja bisa menemukan jalan untuk membuatku tersedak, mentok pada kebodohan yang tidak kusadari.
Kesimpulan yang kedua adalah, hm ... agak sangsi mengatakan ini, tapi imajinasi yang kian kacau mendorongku. Mungkin saja kursi itu ada penunggunya.
Yup! Sampai di situ saja. Aku phobia terhadap hal-hal seperti itu. Jadi, kesimpulan final hanya sampai pada tanda titik (.) setelah kata 'penunggunya' saja.
5 menit berlalu ....
Aku sempat merasa bahwa sang logika sudah mati kutu. Kemenangan telak untuk imajinasi pun harus dirayakan.