Kota Angera

May Hatte
Chapter #2

Hangat Adalah Dingin

Nala.

Kami bertemu tepat dua bulan setelah aku berada di kota ini. Waktu itu baru saja aku membuat tanda silang di kotak 05 Maret pada kalender meja. Sebelum sempat menutup spidol merah, terdengar suara benda jatuh dari luar. Aku bangkit, berjalan cepat, dan membuka pintu. Seorang wanita berambut ikal pirang sebahu sedang memungut satu per satu buku yang berjatuhan di lantai tak jauh di depan pintu, lalu menyusunnya ke dalam kardus cokelat. Aku segera membantu memungut buku-buku bersampul formal itu.

“Terima kasih banyak. Maaf merepotkan,” ucapnya ceria ketika mengambil buku yang kusodorkan. Gurat manis di bibirku merekah. Dia tipe manusia supel yang cepat akrab dengan orang baru.

“Kau penghuni baru?” tanyaku kemudian setelah semua buku sudah tersusun rapi di dalam kardus.

“Yup, hari ini hari pertamaku,” ucapnya sambil membersihkan debu dari lutut celananya.

“Aku juga baru di sini.”

Kami pun sama-sama tersenyum, berjabat tangan, dan saling mengucapkan nama. Pintu kamar kukunci tergesa-gesa setelah menawarkan bantuan untuk mengangkat barang-barangnya yang ada di lantai dasar.

Singkat cerita, beberapa hari kemudian kami menjadi sangat dekat. Aku tahu hampir semua hal tentangnya. Mulai dari alasan mengambil jurusan hukum di universitas negeri terbaik di kota ini, sampai alasan mengapa ia memutuskan pergi dari rumah dan memilih hidup mandiri sama seperti keputusanku. Hanya saja, alasan kami berbeda. Aku bahkan tahu kebiasaannya yang tidak suka memakai deodoran. Ia sungguh blak-blakan membicarakan tentang kehidupannya.

Kedekatan itu seperti oase di tengah padang pasir. Selama dua bulan di sini, aku belum mendapatkan satu orang pun teman yang bisa diajak berbincang akrab sampai larut malam. Mulai dari membahas tentang pria-pria seksi di televisi sampai keadaan politik di negara ini. Manusia yang satu ini adalah oase yang sekaligus membuatku heran.

Pertama kali menginjakkan kaki di flat ini, otakku otomatis menebak bahwa akan sangat sulit mendapatkan teman di lingkungan yang sangat dingin dan terkesan individualistis ini. Di mana tidak ada sapaan hangat atau senyum ramah kala berpapasan antarsesama penghuni. Gambaran itu muncul sesaat menapak dua langkah di anak tangga menuju lantai kamar tempatku tinggal. Orang-orang yang berpapasan lebih suka membuang wajah atau menempelkan pandangan ke lantai.

Sangat berbeda seperti saat di kota tempatku tinggal dulu. Slora. Walaupun fasilitasnya tidak selengkap kota ini, bahkan bisa dibilang sangat jauh di bawahnya, di sana orang-orang saling menyapa dengan sukarela. Lengkungan indah bibir pun ramah melimpah. Bukan barang mahal nan langka. Di kota Angera, semua orang asyik dengan dunianya sendiri. Seakan dunia ini adalah jalanan kosong dan penghuninya hanyalah pohon-pohon serta tiang listrik. Setiap hari suasananya seperti jalan aspal yang membelah gurun pasir. Sangat sepi dan hening.

Dulu aku pernah hendak memberikan kue brownies buatan sendiri pada dua tetangga di kanan-kiri kamar. Sudah menjadi kebiasaan di Slora bahwa orang baru minimal memberikan salam perkenalan hangat kepada tetangga di kedua sisi tempat tinggalnya. Salah satu caranya adalah dengan mengirimkan makanan. Hati kecil ini sebenarnya sudah memberikan sinyal ragu atas ide brownies hangat. Wajah-wajah para penghuni yang sempat berpapasan sebelumnya menjadi alasan kuat bahwa niat ramah tamah akan berujung kecewa.

Namun, tangan ini mulai mengetuk pintu tetangga sebelah kiri. Well, hasilnya sangat jauh melampaui dugaan. Yang menyambut bukanlah wajah yang antusias. Melainkan rupa yang seakan berbisik bahwa ketukan pintu oleh tangan kananku itu adalah kesalahan fatal.

“Ada apa?” tanya si pemilik suara berat monoton itu. Ia pria gemuk berjenggot lebat mengembang dengan tato menghiasi ujung kening sampai ujung kaki. Bulu kudukku merinding seketika.

Aku baru saja mengeluarkan satu huruf ketika ia dengan kasar mengambil kue dari genggamanku. Pintu kamar ditutupnya kasar setelah menyuruhku pergi.

Terdiamlah aku beberapa detik.

Dengan langkah pelan, seakan takut suara tapak kaki ini akan membuat pria itu keluar lagi, aku pun pulang ke kamar. Sebelum menutup pintu, kusempatkan memandang pintu kamar tetangga sebelah kanan. Kutelan ludah gemetar demi membayangkan akan seperti apa nanti penghuninya. Bagaimana bisa menyapa tetangga menjadi cobaan berat di kota Angera ini? Mengapa bisa hal 'lumrah' berubah jadi 'konyol' di sini?

“Menurutku kau hanya perlu beradaptasi,” ucap Nala sambil membuka kaleng soda yang baru saja kami beli. Suara buih putihnya mewakili suara hatiku yang tertusuk oleh ucapan Nala. Aku menceritakan semua keluh kesah saat kami pulang dari minimarket membeli beberapa kebutuhan bulanan.

“Apa aku kurang beradaptasi? Kurang apa lagi? Itu salah satu cara beradaptasi yang baik dan hangat untuk memulai hubungan tetangga.”

Lihat selengkapnya