Kota Angera

May Hatte
Chapter #4

Ya! Itu Aku!

Jejak hujan masih begitu kentara.

Jalanan basah ramai oleh kendaraan yang hilir mudik. Badan jalan, lampu lalu lintas, zebra cross, teras, dan atap-atap rumah tua berselimut renai. Aku berdiri di samping tiang lampu lalu lintas, merapatkan kerah jas hujan, hendak menyeberangi zebra cross. Dari arah berlawanan berjalanlah seorang kakek tua berpakaian tradisional suku Angera. Rasa penasaran pun serta-merta membuncah. Warna pakaian itu begitu mencolok.

Sudah beberapa kali aku melihatnya saat berjalan-jalan di Angera’s Heaven Street—jalan yang seluruh tokonya menjual pernak-pernik tradisional dan modern khas kota Angera—, tetapi belum pernah kulihat orang memakainya. Melihat baju itu menempel pada manekin di balik etalase kaca saja sudah membuat kening mengernyit. Atasannya kuning cerah dengan garis hitam melintang miring dari kanan atas ke kiri bawah. Bunga rajut berwarna-warni menempel sembarangan dan celananya juga sama. Nilai yang cocok: 3,5 dari 10. Sudah maksimal, walau aku juga bukan manusia yang fashionable tentunya.

Oh, apakah kali ini logika dan imajinasi akan berdebat lagi? Tidak, tidak. Kemarin aku sudah berprasangka buruk terhadap kursi di taman kota dan ada pepatah yang mengatakan bahwa sapi saja tidak mau jatuh ke lubang yang sama. Eh, apa itu? Kerbau? Kedelai? Keledai? Akh, sudahlah. Jadi, lebih baik aku langsung bertanya saja kepada si kakek agar kerbau-kerbau yang malang itu tidak menertawaikanku nanti.

...

Setelah berbalik badan untuk mengikuti kakek yang baru saja lewat, terlintas pertanyaan yang sebenarnya sepele, tapi berdampak cukup eksesif. “Bagaimana caranya bertanya? Kami kan tidak saling kenal.”

“Apakah dia akan semudah itu menjawab pertanyaan dari orang asing?”

“Apakah hanya dengan berjabat tangan dan menyebut nama masing-masing akan membuatnya terbuka tentang selera fashion-nya?”

Coba bayangkan apa yang digambarkan oleh imajinasiku berikut ini:

“Pak, Bapak berpakaian kuning cerah. Tunggu sebentar,” teriakku.

Dia akan berhenti dan menoleh dengan bingung. Lebih tepatnya, heran dengan nama panggilan yang aku sematkan. Mungkin juga dia akan tersinggung, lalu wajahnya berubah galak. Kemudian lanjut berjalan meninggalkanku dalam kubangan sesal atas malestetis tata krama.

Sempat terpikir juga untuk melempar kepalanya dengan tas atau sepatu. Pertama-tama, dia pasti akan sangat terkejut, berteriak balik, mendekat, lalu bertanya, “Kau sudah gila, ya?! Kenapa kau melemparku?!” Nah! Di saat itulah peluru-peluru pertanyaan akan kukeluarkan. Bila beruntung, sebagai pria usia lanjut yang hidupnya banyak memberikan wejangan, mungkin bukan hanya alasan memakai; bisa jadi ia juga akan menceritakan sejarah baju itu. Mereka sangat menghargai sejarah, apalagi sejarah yang sangat membanggakan. Pasti akan diceritakan berulang-ulang sampai kuping melepuh.

Kabar baiknya, tanpa perlu repot-repot merancang pendekatan humanis, cukup dengan mempertaruhkan nama baik saja di area publik, khotbah dadakan itu akan merangkum jawaban atas rasa penasaran. Jadi, percayalah pada logika saat imajinasi menyodorkan saran berupa jurang terjal penuh buaya dengan mulut menganga.

Selagi berdebat sendiri, jalanku jadi lambat dan jarak kakek itu pun semakin jauh. Begitu melihatnya berbelok di perempatan kedua, aku pun tersenyum sumringah sebab itu pertanda baik. Ia menuju Angera’s Heaven Street. Tas belanja berisi peralatan mandi kulingkarkan di lengan kiri dengan semangat. Tegak aku berjalan dengan sedikit bumbu elegan agar tidak terlihat seperti penguntit. Orang-orang pasti akan memandang aneh jika tahu ada seorang wanita berusia tiga puluhan yang diam-diam mengikuti seorang kakek tua.

Lihat selengkapnya