Kota Angera

May Hatte
Chapter #5

Wanita, Pria, dan Teman Lokal

Di dalam bus biasanya ada kursi prioritas. Warnanya merah dan jumlahnya hanya beberapa. Ada juga ruang khusus wanita yang berada di paling depan. Aku adalah seorang wanita yang kebetulan baru pertama kali merantau jauh dari kampung halaman. Melihat ada dua hal penting itu di bus besar yang kadang penumpangnya penuh sesak membuat rasa percaya ini terhadap kebaikan dunia kian bertambah. Hari kedua di Kota Angera adalah hari pertama kali aku naik bus lokal. Sekaligus, menjadi hal pertama yang membuatku kagum pada kota ini.

Kagum masih melekat kuat sampai bulan keenam, tepatnya pada hari ketujuh. Sebab pada hari itu terdengarlah caci maki dari seorang wanita di dalam bus yang berasal dari ruang campuran. Hari itu, penumpang bus tidak terlalu ramai, namun semua tempat duduk sudah terisi.

“Heh!” teriak wanita itu, membuat perhatian seluruh penumpang terarah padanya yang sedang berkacak pinggang di ruang paling belakang. “Kamu itu harusnya malu sama dirimu sendiri. Masa tega membiarkan perempuan berdiri dari tadi, sementara kamu laki-laki enak-enakan duduk begitu,” teriaknya lagi. Beberapa shopping bag tergeletak di lantai di dekat kakinya.

Mulutku menganga kala dua kalimat panjang tak tahu malu tuntas keluar tanpa jeda. Lebih menganga lagi kala mendengar sebagian orang di sekitar tempatku berdiri ikut berbisik-bisik mendukungnya. Tidak ada satu pun yang membela pria itu karena kekeh mempertahankan tempat duduknya. Well, termasuk aku.

Beradu suara mereka berdua di sana sampai akhirnya dilerai oleh seorang ibu-ibu yang datang dari ruang perempuan. Ia menarik wanita itu untuk duduk di kursinya sebab halte tujuannya sudah dekat. Seiring langkah mereka ke ruang depan, suara teriakan mengejek terdengar kencang mengarah pada si pria. Hebatnya, ia tetap tenang dan melanjutkan tidur, bersandar pada sandaran kursi. Ingin rasanya aku berlari dan menjabat tangan pria itu, lalu mengucapkan beberapa kata penghiburan.

“Kasihan dia.”

Aku terkejut. Kukira ucapan itu lolos dari dalam kepala lewat mulut. Begitu menoleh, seorang pria berkaos hitam dengan beberapa tato menghiasi kedua tangannya sedang menatapku. Kami sama-sama bersandar di sisi kiri dan kanan pintu. Dia di kotak artikulasi bus, sementara aku di panel kaca pembatas.

“Siapa?” tanyaku penasaran, sebab belum jelas kepada siapa kasihan itu ditujukan.

Dengan wajahnya, ia menunjuk pria yang tidur sambil bersedekap. Berbinarlah kedua mata ini. Melengkung juga senyumku. “Setuju,” ucapku.

“Anda mengasihani pria itu juga?”

Aku mengangguk.

“Aneh.”

“What?! Why?” tanyaku terkejut.

“Harusnya saya yang bertanya begitu. Kebanyakan orang ada di pihak wanita. Kenapa Anda, yang juga seorang wanita, malah berpikir sebaliknya? Why?”

Kutarik napasku dalam-dalam sebelum mengeluarkannya bersama banyak pembelaan dari isi kepala. “Well, pertama, pria itu duduk di gerbong campuran. Tempat pria dan wanita bebas duduk atau berdiri.”

“Agree.”

“Kedua, pria itu sudah duduk terlebih dahulu, jauh sebelum si ibu naik. Ketiga, lalu memangnya kenapa kalau pria itu tidak mau memberikan tempat duduknya? Apakah adil hanya karena dia seorang wanita sehingga merasa lebih berhak mendapatkan tempat duduk dibandingkan dengan pria? Peraturan dari mana itu?”

Tidak ada balasan atas jawaban bertubi-tubi yang kuucapkan. Dia malah melihatku dengan ekspresi yang susah ditebak. Sedikit awkward, aku pun menggumamkan kata maaf karena terlalu berlebihan. Pipi ini panas oleh rasa malu.

“No, no. Tidak perlu meminta maaf. Itu keren. Aku terdiam karena apa yang kau katakan itu persis seperti yang ada dalam pikiranku. Aku hanya terkejut karena bagaimana bisa isi pikiran kita sama persis.” Tiba-tiba saja bahasanya berubah menjadi lebih kasual.

“Saya kira Anda akan menganggapnya aneh.”

“Itu keren. Tidak ada yang aneh. Sama sekali. Aku setuju. Sorry, aku Alexander Darren. Boleh tahu siapa namamu?” tanyanya, dengan tangan tersodor.

Agak takut-takut, kusebutkan juga namaku. Jabatan tangannya kubalas sekenanya. Masih ada rasa malu menyelimuti sebab tadi aku lepas kendali dan berapi-api. Tidak pernah begitu sebelumnya. Selalu bisa kujaga nada suara dan bahasa selembut mungkin. Mungkin, karena pemikirannya berbeda dari kebanyakan penumpang lain, aku pun terpancing oleh rasa bahagia.

“Tujuanmu masih jauh?”

“Halte terakhir.”

 “Berarti, masih banyak waktu untuk membahas permasalahan ini karena aku turun di halte yang sama denganmu.”

Lihat selengkapnya