"Kalian sudah berapa lama pacaran?”
Lima puluh menit setelah Erland pulang, Nala menerobos masuk ke kamarku. Aku mengirim pesan kepadanya tentang pertemuan kami. Sambil menunggu episode terbaru drama seri favorit kami tayang, kami menikmati Chinese food yang ia beli dari restoran langganannya dan kuceritakan awal pertemuanku dengan Erland di Slora, sampai memandangi punggungnya menjauh dari teras flat.
“Dari Junior High School kelas 1 sampai lulus Senior High School. Total enam tahunlah,” ucapku.
“Wow, aku selalu kagum pada orang-orang yang bisa pacaran bertahun-tahun.”
“Jangan bilang kau belum pernah?”
“Pacaran pernah, tapi tidak sampai bertahun-tahun.”
“Kenapa begitu? Aku saja, sejak putus dari Erland, tidak pernah punya pacar lagi. Walaupun tetap kuusahakan melupakan dia.”
“Jadi, kau jomblo selama 14 tahun ini?”
“Yups.”
“Woow, sekali lagi, aku selalu kagum pada orang-orang yang tahan menjomblo bertahun-tahun.”
“Kau … jangan bilang kau penganut paham kalau pacaran itu hanya untuk having fun?”
“Exactly!”
“Woow.” Tidak kusangka, tidak hanya usia dan cara berpikir kami yang terpaut jauh. Prinsip berpacaran juga sama jauhnya.
Drama yang kami tunggu-tunggu pun dimulai. Kami segera fokus pada layar TV sembari menikmati hidangan. Ada 4 bungkus plastik dengan bermacam-macam menu dan Chow Mein satu-satunya yang cocok di lidahku.
…
“La, kau kan masih 20 tahun ….”
“Eits! 20 tahun 9 bulan. Jangan lupakan 9 bulannya. Itu penting. Artinya, aku sedikit lebih tua dari orang-orang berusia 20 tahun, oke?” ujarnya dengan beberapa potong mi menjulur dari mulutnya. Iklan kedua berputar, lalu ia mengambil remot dan mengecilkan volume TV.
Kugaruk tengkuk. Bukan karena pedasnya makanan, tetapi karena aku harus selalu menjelaskan dengan sangat rinci kepadanya. Kadang aku ingin mencubit pipinya itu seperti mencubit pipi keponakan. Kadang aku ingin dia membiarkan saja semua kalimat keluar dari mulutku apa adanya meskipun itu mengganggunya. Namun, sudahlah, mungkin beginilah rasanya punya adik perempuan. Hal yang belum pernah aku rasakan, tapi sangat ingin kurasakan. “Baiklah, 20 tahun 9 bulan,” kataku.
“Good.”
“Kau tidak ingin mulai pacaran yang serius di usiamu ini?”