“Peraturannya bukan begitu, Jan. Kau datang dan kita bernyanyi bersama sampai alkohol ini habis. Kalau kau datang mengeluarkan isi pikiranmu juga seperti kami, maka ini hanya akan jadi forum sia-sia,” ucap Nala pada Janet yang sedang menuangkan (lagi) wine ke gelasnya.
“Tidak akan sia-sia karena kau mahasiswa hukum. Ada kau yang jadi verifikator.”
“Verifikator untuk menyesatkan kalian berdua, sih, aku mau-mau saja. Lihat saja dia. Sudah kusesatkan hampir satu tahun ini dengan semua ilmu-ilmu kebebasanku.” Nala menunjukku dengan gelasnya.
“Sejujurnya, aku benci malam-malam mabuk seperti ini,” jawabku di luar topik.
“Tapi diam-diam kau menikmatinya juga, kan?”
Aku memutar bola mata. “Janet. Janetku sayang. Tentu saja.” Tertawalah kami bertiga di malam mabuk bersama sinar bulan dan lampu jalan yang memancar dari luar jendela.
Hampir satu tahun di kota Angera, tepatnya bulan September, kutemukan lagi seorang teman. Namanya Janet. Ia melempar sepasang sepatu Christian Louboutin-nya kepada seorang pria tua di jalanan pada malam hari dengan langit yang tampak lebih pekat daripada malam-malam sebelumnya. Aku baru pulang dari minimarket membeli bir kalengan. Berjalan pelan sambil menikmati kesunyian di seberang trotoar tempat Janet dan pria tua itu bertengkar. Mobil Rolls-Royce melaju elegan membawa pria tua itu kemudian. Tinggallah seorang perempuan berpakaian mewah nan ketat, tanpa lengan, bermotif bunga-bunga besar. Tas kecil centil terayun-ayun saat ia melempar sepatu mahalnya.
Dia pun menoleh padaku dengan bekas air mata berwarna hitam, lunturan maskara, memanjang sampai dagu. “Aku tidak tahu ini di mana. Kau orang baik, kan? Antarkan aku pulang,” teriaknya, masih terisak. Jalanan sepi dan suaranya memekakkan telinga.
“Kau berbicara padaku?”
“Kau orang gila, ya?”
Kuberikan saja wajah kesal. “Bisa saja dia sedang berbicara kepada peri mabuk yang sedang menguasai otaknya, kan?” pikirku.